Beberapa bulan kemudian, Dine terlambat menstruasi. Ia menyadarinya pada suatu pagi ketika membuka kalender untuk menyusun jadwal operasi, melihat tanda kecil yang ia buat sendiri, lalu menghitung mundur dua kali. Ia tidak langsung memberi tahu Bian karena siklusnya pernah berubah saat stres, dan tahun ini tidak ada yang kekurangan stres. Namun setelah satu minggu, ia membeli alat tes di apotek dekat klinik, memakai masker dan topi.
Ia menyimpan kotak itu di dalam tas selama dua hari sebelum berani membukanya. Setiap kali tangannya menyentuh sudut kotak tersebut, ada dua suara di kepalanya: yang satu ingin segera tahu, yang lain lebih suka menunda selama mungkin agar tidak ada apa pun yang perlu ditanggapi.
Hasil pertama tidak jelas. Satu garis terlihat kuat, sedangkan garis kedua terlalu tipis, seperti bayangan yang muncul hanya kalau kertasnya dimiringkan ke arah lampu. Dine duduk di lantai kamar mandi dengan punggung menempel di dinding keramik yang dingin, memegang alat itu di antara dua jari, dengan perasaan yang tidak dapat dinamai.
Ia menghitung napasnya. Ada suara kipas pengisap di langit-langit dan tetesan dari keran yang belum sempat diperbaiki. Waktu terasa berjalan aneh, terlalu lambat dan terlalu cepat sekaligus.
Di luar pintu terdengar langkah yang berhenti, menjauh, lalu kembali lagi. Dine memiringkan alat tes sekali lagi ke arah lampu, dan garis kedua itu tetap tidak mau memutuskan hendak ada atau tidak. Ia berpikir tentang segala perencanaan yang sudah mereka susun rapi, jadwal enam bulan, evaluasi, kalender bersama, dan betapa ganjil bahwa semua itu kini menunggu sepotong plastik kecil di tangannya.
Bian mengetuk setelah menyadari ia terlalu lama di dalam.
"Aku belum tahu hasilnya," kata Dine dari balik pintu.
"Boleh aku masuk?"
Pertanyaan itu diucapkan pelan, tanpa memutar gagang pintu lebih dahulu. Dine memperhatikan bahwa suaminya menunggu jawaban, bukan sekadar berbasa-basi, dan hal kecil itu membuat sesuatu di dadanya sedikit longgar.
Dine membuka pintu. Bian duduk di lantai di sebelahnya tanpa peduli celana kerjanya, lalu mengambil alat tes itu ketika diserahkan. Mereka melihatnya bersama, memiringkannya ke arah cahaya, dan sepakat memeriksa ke dokter, bukan menyimpulkan sendiri dari dua garis yang tidak jelas.
Pemeriksaan darah mengonfirmasi kehamilan yang masih sangat awal. Dokter menyebut angka dan minggu dengan nada biasa, seperti membaca cuaca. Bian tersenyum lalu menangis, buru-buru mengusap wajahnya dengan punggung tangan, malu tetapi tidak berhenti. Dine bahagia, tetapi juga takut perubahan pada tubuh serta pekerjaannya dimulai lebih cepat daripada kesiapan pikirannya.
Ia menatap suaminya yang menangis dan menyadari dirinya sendiri tidak menangis, lalu sempat bertanya-tanya apakah itu berarti sesuatu yang buruk tentang dirinya.
"Kamu boleh tidak bahagia setiap menit," kata Bian.
"Aku menginginkan ini. Kenapa tetap takut?"
"Karena menginginkan sesuatu tidak membuat risikonya hilang."
Kalimat itu menempel di kepala Dine sepanjang perjalanan pulang. Ia mengulanginya diam-diam beberapa kali, dan tiap kali diulang, kalimat itu terasa sedikit lebih ringan.
Sore itu ia tidak kembali ke klinik. Ia duduk di ruang tamu dengan Dre di pangkuan, mencoba merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhnya sendiri, dan tidak menemukan apa-apa selain lelah yang biasa. Anehnya justru itu yang menenangkan: belum ada yang berubah, dan ia masih punya waktu untuk terbiasa.
Mereka hanya memberi tahu Nola dan dokter kepala Animalia. Nola menjerit tertahan lalu langsung menutup mulutnya sendiri, sadar bahwa itu rahasia. Dokter kepala hanya mengangguk dan bertanya jadwal mana yang perlu diatur ulang, tanpa memberi selamat berlebihan, dan Dine berterima kasih atas kewarasan itu. Tidak ada informasi kepada keluarga Emery sampai pemeriksaan berikutnya.
Menjaga kabar sekecil itu ternyata melelahkan. Dine harus mengingat siapa yang sudah tahu dan siapa yang belum, menahan diri ketika seseorang menawarinya kopi, memilih kalimat yang tidak berbohong tetapi juga tidak membuka apa-apa.
Dine mengalami mual berat dan kesulitan melakukan operasi panjang. Bau alkohol dan disinfektan yang dulu menenangkan kini membuat perutnya naik. Ia pernah harus keluar di tengah persiapan, mencuci wajah, lalu kembali dengan tangan gemetar. Ia menyerahkan beberapa jadwal tanpa menganggap dirinya kehilangan tempat.
Itu tidak mudah. Ada beberapa malam ia berbaring memikirkan siapa yang menggantikannya dan apakah orang-orang mulai terbiasa bekerja tanpa dirinya. Ia mengakuinya kepada Bian, dan Bian tidak buru-buru membantah, hanya mendengarkan sampai kalimatnya habis.
Bian tidak memeriksa makanannya atau melarangnya bekerja. Ia bertanya bantuan apa yang dibutuhkan, dan menerima jawaban tidak ada tanpa memaksa. Kadang bantuan itu berupa hal kecil seperti membawakan air jahe atau membatalkan janji makan malam yang tidak penting.
Pada minggu kedelapan, bercak darah muncul. Dine melihatnya di kamar mandi pagi-pagi dan seluruh tubuhnya terasa dingin sampai ke ujung jari. Mereka pergi ke rumah sakit dengan ketakutan yang tidak dibicarakan sepanjang jalan, hanya tangan yang saling mengunci di atas jok mobil.
Pemeriksaan menunjukkan janin masih berkembang dan detak jantung terlihat di layar, cepat dan kecil seperti sesuatu yang sedang buru-buru. Dine diminta mengurangi aktivitas berat sementara waktu. Ia mengangguk, lalu menangis di lorong rumah sakit setelah pintu tertutup, akhirnya, dan Bian tidak berkata apa-apa selain berdiri cukup dekat.
Di ruang tunggu tadi ada pasangan lain yang keluar lebih dahulu tanpa membawa kertas apa pun, dan Dine tidak sanggup memandang wajah mereka lebih dari sekali. Sepanjang perjalanan pulang ia tidak berhenti memikirkan bahwa kabar baik hari itu bukan hasil dari kehati-hatiannya, dan tidak ada satu pun yang bisa ia lakukan untuk memastikannya berulang minggu depan.
Kabar kehamilan bocor dari petugas administrasi yang menjual informasi kepada media. Dalam dua hari, foto lama Dine sudah dipasang di mana-mana dengan tanda panah ke arah perutnya. Rumah sakit memecat petugas tersebut setelah investigasi dan meminta maaf secara resmi, tetapi permintaan maaf tidak menarik kembali apa pun yang sudah tersebar.
Dine serta Bian memilih mengonfirmasi agar spekulasi berhenti, tetapi tidak membagikan usia kandungan atau foto pemeriksaan. Mereka berdiri di depan beberapa kamera selama kurang dari dua menit, di halaman kantor, dengan angin yang menerbangkan ujung kerah kemeja.
"Kami sedang menjalani kehamilan sebagai keluarga, bukan menyiapkan pewaris perusahaan," kata Bian.
Dine menggenggam tangannya di luar kamera, di balik meja tinggi tempat mikrofon dipasang, cukup erat sampai buku jarinya memutih. Dua garis itu membuka kebahagiaan baru, sekaligus ujian apakah batas yang mereka bangun dapat bertahan ketika seluruh dunia ingin ikut memiliki kabar tersebut.