Kehamilan membuat banyak orang berbicara seolah tubuh Dine berubah menjadi milik bersama. Nasihat datang dari segala arah, sebagian dari orang yang belum pernah bertukar lebih dari lima kalimat dengannya. Helena mengirim ahli gizi tanpa diminta, lengkap dengan jadwal makan tujuh hari yang dicetak di kertas tebal. Dewan mengusulkan dokter khusus keluarga, yang sudah menangani tiga generasi Emery. Pelanggan klinik menyentuh perutnya ketika mulai terlihat, sambil tertawa, seolah itu bentuk kasih sayang yang tidak perlu izin.
Dine menolak ahli gizi tersebut dan memilih dokter sendiri, dokter yang sama sejak pemeriksaan pertama, yang tidak pernah menjelaskan hasil kepada Bian lebih dahulu. Di klinik, staf memasang pemberitahuan di dekat meja depan agar pengunjung tidak menyentuh siapa pun tanpa izin. Kalimatnya sengaja dibuat umum, tidak menyebut nama, supaya berlaku juga bagi staf yang lain.
Beberapa orang tersinggung membaca pengumuman itu. Dine membiarkan mereka tersinggung. Ia sudah menghabiskan terlalu banyak tahun untuk sopan pada hal-hal yang membuatnya tidak nyaman.
Yang paling sulit justru bukan orang asing, melainkan mereka yang bermaksud baik. Tetangga yang menepuk perutnya sambil mendoakan, pemilik kucing yang meramalkan jenis kelamin dari bentuk perut, kerabat jauh yang mengirim daftar larangan makanan setiap pagi. Menolak niat baik membutuhkan tenaga yang berbeda dari menolak niat buruk, dan tenaga itu habis jauh lebih cepat.
Bian sempat membuat jadwal pengawalan tambahan setelah berita kehamilan menyebar. Dahulu ia akan langsung memasangnya dan memberi tahu belakangan. Kali ini ia mendiskusikannya lebih dahulu, membentangkan jadwalnya di meja makan, dan menunggu. Dine menerima pengamanan pada acara publik, tetapi menolak penjagaan di dalam ruang pemeriksaan.
"Di ruang itu aku pasien," katanya, dan Bian tidak berdebat.
Ia hanya meminta satu hal sebagai gantinya: Dine mengabari begitu pemeriksaan selesai, sesingkat apa pun. Dine menyetujuinya. Tawar-menawar semacam itu dahulu akan berubah menjadi pertengkaran tiga hari; kini selesai dalam dua menit, dan keduanya sempat menyadari perbedaan tersebut tanpa perlu membicarakannya.
Pada bulan keempat, tekanan darah Dine meningkat. Angka di layar alat itu muncul dua kali, dan perawat mengukurnya ulang di lengan yang lain dengan wajah yang terlalu datar. Dokter meminta jam kerja dikurangi dan perjalanan dihentikan sementara.
Dine marah kepada tubuhnya sendiri. Marah itu tidak masuk akal dan ia tahu, tetapi tetap ada. Ia merasa telah membangun sistem agar Animalia tidak bergantung padanya, tetapi tetap takut dianggap tidak dibutuhkan. Dua hal itu berdiri berdampingan di kepalanya dan tidak mau berdamai.
Ia mencoba menawar dengan dirinya sendiri: mungkin cukup mengurangi perjalanan tanpa mengurangi jam kerja, mungkin cukup memindahkan operasi ke pagi hari. Setiap tawaran ditolak oleh angka yang sama, dan angka tidak bisa diajak berdebat dengan alasan bahwa ia sudah bekerja keras bertahun-tahun untuk sampai di posisinya sekarang.
"Kalau klinik berjalan tanpa kamu, itu bukan bukti kamu tidak penting," kata Bian. "Itu bukti kamu membangunnya dengan baik."
Dine tidak langsung menjawab. Ia memandang keluar jendela, ke pohon yang daunnya bergerak sedikit, dan membiarkan kalimat itu duduk agak lama sebelum ia izinkan masuk.
Ia mengambil cuti sebagian dan tetap mengikuti rapat strategis dari rumah, dengan laptop di meja ruang tamu dan bantal di punggung. Ia juga menemui psikolog perinatal untuk membicarakan kehilangan kendali, sesuatu yang dulu akan ia anggap membuang waktu.
Bian mengurangi perjalanan, tetapi tidak membatalkan seluruh pekerjaan secara dramatis. Dine sudah memperingatkannya sejak awal bahwa pengorbanan besar yang diumumkan hanya akan berubah menjadi tagihan di kemudian hari. Mereka membagi jadwal kontrol, menandainya di kalender yang sama, dan meminta Nola menjadi kontak cadangan kalau keduanya sedang tidak bisa dihubungi.
Nola menerima tugas itu dengan serius berlebihan, menyimpan nomor rumah sakit di tiga tempat, dan Dine membiarkannya.
Rumah pun berubah pelan-pelan. Ada kotak obat baru di laci bawah, catatan jadwal yang ditempel di pintu kulkas, bantal tambahan yang selalu tergeletak di sofa. Tidak satu pun perubahan itu diumumkan; semuanya hanya muncul, lalu bertahan, seperti kebiasaan yang tidak pernah diputuskan siapa-siapa.
Pada pemeriksaan anatomi, ruangan gelap dan layar menyala biru. Dokter menyusuri bentuk-bentuk yang bagi Dine masih seperti cuaca di peta, lalu menyebutkan bahwa bayi berkembang baik. Mereka memilih tidak mengetahui jenis kelamin sebelum lahir, bukan karena kejutan, melainkan agar tidak ada yang mulai menyusun rencana lebih awal.
Keluarga Emery ingin mengadakan pesta besar. Ada usulan gedung, daftar tamu, bahkan tema warna. Dine dan Bian menggantinya dengan penggalangan dana vaksinasi hewan, di halaman klinik, dengan tenda sederhana dan meja pendaftaran. Tidak ada permainan menebak jenis kelamin atau daftar hadiah mewah.
Beberapa kerabat datang dengan wajah bingung karena tidak tahu harus berdiri di mana. Dine memberi mereka pekerjaan: menuliskan nama pemilik hewan di kartu. Sebagian ternyata menikmatinya.
Sore itu antrean vaksinasi mengular sampai ke pagar. Bau bulu basah, suara anjing yang menyalak bersahutan, dan seorang anak kecil yang menangis lebih keras daripada kucing yang disuntik. Dine duduk di kursi lipat karena dilarang berdiri terlalu lama, dan menganggap keramaian itu jauh lebih pantas dirayakan daripada gedung mana pun.
Ketika seorang wartawan bertanya apakah anak itu kelak memimpin Emery, Bian menjawab, "Anak kami bahkan belum lahir. Ia tidak memiliki pekerjaan."
Beberapa orang tertawa. Bian tidak. Ia mengucapkannya karena ingin kalimat itu tercatat, supaya kelak ada yang bisa ditunjuk kalau tekanan yang sama datang lagi.
Malamnya Dine merasakan gerakan pertama. Awalnya seperti gelembung, sesuatu yang mudah dikira salah kira. Ia diam, menahan napas, menunggu. Ia memanggil Bian, lalu menempelkan tangan suaminya setelah gerakan berikutnya muncul, menekan telapak tangan itu di tempat yang tepat.
Bian terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak berkata apa-apa selama hampir satu menit penuh, dan Dine membiarkan keheningan itu.
Telapak tangannya tetap di tempat, hangat, sedikit gemetar. Di luar terdengar suara motor yang lewat dan pagar tetangga yang ditutup. Gerakan itu tidak datang lagi malam itu, tetapi keduanya tetap menunggu beberapa menit sebelum menyerah.
"Jangan langsung membeli perusahaan perlengkapan bayi," kata Dine.
"Aku hanya memikirkan satu kamar."
"Kita pilih bersama."
Mereka berdiri di ruang kosong rumah netral, ruangan yang selama ini hanya berisi kardus dan satu kursi lipat. Lampunya kuning dan dindingnya masih putih polos. Tidak ada lambang Emery di sana, tidak ada rencana masa depan yang sudah ditentukan orang lain, tidak ada nama yang diwariskan lebih dahulu. Hanya tempat bagi seorang anak yang kelak berhak memilih hidupnya sendiri.