Memasuki minggu kedua puluh empat, tekanan darah Dine belum turun stabil. Angka itu naik turun tanpa pola yang bisa ia tebak, kadang membaik setelah tidur siang, kadang justru memburuk pada pagi yang tenang. Dokter menambahkan pemeriksaan laboratorium dan pemantauan pertumbuhan janin, sehingga jadwal kunjungan yang tadinya sebulan sekali berubah menjadi dua minggu sekali.
Ruang tunggu poliklinik menjadi tempat yang terlalu ia kenali: kursi biru berderet, televisi yang menayangkan acara masak tanpa suara, dan papan nomor antrean yang berbunyi setiap beberapa menit. Dine mulai mengenali beberapa wajah yang datang di jam yang sama, dan mereka saling mengangguk tanpa pernah bertukar nama.
Bian mencatat setiap angka. Ia membeli buku kecil bersampul keras, menulis tanggal, hasil, jam pengukuran, bahkan berapa jam Dine tidur malam sebelumnya. Awalnya Dine menganggap itu manis. Lama-lama, setiap kali suaminya membuka buku tersebut, ia merasa dirinya sedang menjadi laporan perusahaan yang dibaca sebelum rapat.
"Aku butuh kamu sebagai suami, bukan auditor," katanya.
Bian menutup buku itu perlahan. Ada satu detik ketika ia hendak menjelaskan bahwa mencatat adalah caranya menahan panik, lalu ia memutuskan penjelasan tersebut tidak akan memperbaiki apa pun. Ia menyerahkan buku catatan kepada Dine.
Malam itu ia terjaga lebih lama daripada biasanya. Tanpa buku catatan, kekhawatirannya tidak punya tempat untuk diletakkan, dan berkeliling begitu saja di kepalanya sampai menjelang pagi.
Mereka sepakat hasil medis disimpan dalam aplikasi bersama hanya jika Dine menginginkannya. Bian boleh mengingatkan jadwal, tetapi tidak mengomentari setiap makanan atau aktivitas. Kesepakatan itu ditulis pendek di ponsel, seperti daftar belanja, agar tidak menjadi perdebatan berulang setiap minggu.
Bian butuh waktu untuk terbiasa. Ada pagi ketika ia hampir bertanya berapa jam Dine tidur, lalu menahannya, lalu menuangkan teh saja. Menahan diri ternyata pekerjaan yang harus diulang setiap hari, bukan keputusan yang diambil satu kali.
Dokter menjelaskan tanda bahaya preeklamsia tanpa menyatakan Dine pasti mengalaminya: sakit kepala yang tidak hilang, pandangan berkunang, bengkak yang datang tiba-tiba. Dine mendengarkan sendiri dan mengajukan pertanyaan, termasuk yang paling ia takuti. Bian duduk di samping, tidak menjawab atas namanya, meski ada dua momen ketika ia hampir melakukannya.
Di luar ruang periksa, Dine berkata bahwa ia menghargai suaminya diam. Bian menjawab bahwa diam itu jauh lebih melelahkan daripada bicara.
Ia mengatakannya sambil memasang sabuk pengaman, tanpa nada mengeluh. Dine tertawa kecil, lalu meraih tangan suaminya sebentar sebelum mesin mobil dinyalakan. Ada hal-hal yang lebih mudah diakui di dalam mobil, ketika keduanya menghadap ke depan dan tidak perlu saling menatap.
Di Animalia, rapat daring berubah tegang ketika seorang anggota koperasi menggunakan cuti Dine untuk mendorong penggabungan manajemen. Suaranya masuk di antara suara kipas laptop dan gonggongan anjing di kliniknya sendiri. Ia berpendapat keputusan akan lebih cepat jika dipusatkan, dan menyebut situasi sekarang sebagai bukti bahwa struktur mereka rapuh.
Dine menolak, bukan karena ingin mempertahankan jabatan, melainkan karena koperasi dibangun agar klinik kecil tetap memiliki suara. Ia menjelaskannya dengan tenang, dua kali, sambil menahan diri untuk tidak menyerang orang tersebut. Pemungutan suara akhirnya menunda usulan itu sampai evaluasi independen dilakukan.
Suaranya tetap rata sepanjang rapat, tetapi jarinya menekan meja cukup keras sampai ujungnya memucat. Yang paling melelahkan bukan usulannya, melainkan cara usulan tersebut dibungkus sebagai kepedulian terhadap kesehatannya.
Setelah rapat, Dine mengalami sakit kepala. Rasanya menekan di belakang mata, persis seperti yang disebutkan dokter, dan selama beberapa menit ia duduk sangat diam di kursi, tidak berani berdiri. Ia takut itu tanda medis serius, tetapi pemeriksaan menunjukkan tekanan meningkat sementara tanpa gangguan organ.
"Stres perlu dikurangi," kata dokter.
Dine membenci kalimat tersebut karena terdengar seolah semua konflik dapat diselesaikan dengan bersantai. Seolah ada tombol yang selama ini ia lupa tekan. Ia menahan diri untuk tidak menjawab di ruang praktik, lalu meledak kecil di mobil, kepada Bian, yang menerimanya tanpa membela dokter siapa pun.
Psikolog membantunya memisahkan hal yang dapat didelegasikan dari hal yang memang harus diputuskan. Mereka membuat dua kolom di kertas, dan Dine terkejut melihat kolom pertama jauh lebih panjang daripada yang ia bayangkan selama ini.
Kolom kedua hanya berisi empat hal, dan seluruhnya dapat dikerjakan dalam satu pagi setiap minggu. Dine menempelkan kertas itu di dinding dekat meja kerjanya di rumah, bukan untuk dipamerkan kepada siapa pun, melainkan supaya ada sesuatu yang bisa ia tunjuk ketika kepalanya mulai memasukkan pekerjaan orang lain ke dalam daftarnya sendiri.
Ia menyerahkan rapat operasional kepada dokter kepala dan tetap terlibat dalam kebijakan mingguan. Ada yang menganggapnya melepas tanggung jawab, ada pula yang menganggapnya masih terlalu ikut campur. Tidak semua orang puas, tetapi klinik tetap berjalan, dan itu ukuran yang ia pilih.
Ia menuliskan batas itu dalam pesan singkat kepada dokter kepala: hal apa yang boleh mengganggu istirahatnya, dan hal apa yang harus menunggu sampai Senin. Menulisnya terasa seperti mengaku kalah. Membacanya kembali seminggu kemudian, terasa seperti pekerjaan yang benar.
Malamnya Bian menawarkan tidur di kamar terpisah karena Dine sulit beristirahat dengan dengkurannya. Ia mengatakannya sambil berdiri di ambang pintu, memeluk bantalnya sendiri seperti anak sekolah yang siap dipindahkan.
"Kamu tidak mendengkur," kata Dine.
"Aku bergerak terlalu banyak."
"Itu benar."
Ia mengatakannya tanpa menoleh, dan Bian tertawa pendek. Mereka mencoba susunan bantal berbeda lebih dahulu: satu di antara lutut, satu menopang punggung, satu lagi entah untuk apa. Tidak ada yang berhasil. Akhirnya mereka memilih kamar terpisah untuk beberapa malam.
Kamar itu sebenarnya kamar tamu yang jarang dipakai, berbau seprai bersih dan sedikit debu di gorden. Bian membawa bantalnya sendiri, meletakkan ponsel di sisi meja yang menghadap pintu, lalu berdiri sebentar seperti orang yang ragu apakah ini kekalahan atau bukan.
Dine berbaring sendiri di kamar yang lebih sunyi dan mendapati dirinya bisa tidur lebih dari tiga jam berturut-turut untuk pertama kalinya dalam dua minggu. Ia sempat merasa bersalah, lalu memutuskan rasa bersalah itu tidak berguna. Ia berbaring memandang langit-langit yang asing, mendengar jam dinding yang detaknya lebih keras daripada jam di kamar mereka, dan menyadari bahwa tubuhnya tidak sedang menghukum siapa-siapa. Tubuh itu hanya sedang meminta hal yang paling sederhana, dan untuk sekali ini ia menurutinya tanpa menawar. Ia menyadari tidur terpisah sementara bukan tanda kedekatan mereka hilang.
Pagi harinya Bian sudah duduk di dapur, membuat sarapan, dan tidak sekali pun bertanya kapan ia boleh kembali. Kehamilan mengubah banyak hal, tetapi tidak harus mengubah setiap penyesuaian menjadi pengorbanan romantis.