Pada minggu kedua puluh sembilan, Dine terbangun dengan sakit kepala hebat dan pandangan berkilat. Rasanya seperti ada seseorang menekan pelipisnya dari dalam, dan di sudut penglihatannya muncul titik-titik terang yang berpindah setiap kali ia menggerakkan mata. Kamar masih gelap. Angka di jam meja menunjukkan pukul dua lewat empat puluh. Ia berbaring diam beberapa detik, mencoba menghitung, mencoba menawar dengan tubuhnya sendiri, lalu berhenti menawar. Ia membangunkan Bian dan meminta dibawa ke rumah sakit.
Bian mengikuti rencana yang telah ditempel di lemari: membawa tas, menghubungi dokter, dan tidak menelepon seluruh keluarga sebelum ada informasi. Kertas itu sudah tertempel di sana sejak dua bulan lalu, ditulis tangan oleh Dine dengan spidol hitam, dan selama ini terlihat berlebihan. Malam itu kertas tersebut menyelamatkan mereka dari sepuluh menit panik. Bian tidak bertanya apa pun kecuali satu hal yang perlu, tidak mencari kunci karena kunci selalu ada di mangkuk yang sama, tidak mengganti baju karena baju sudah disiapkan di kursi.
Perjalanan ke rumah sakit memakan dua puluh menit. Jalanan kosong, lampu lalu lintas berkedip kuning di setiap persimpangan, dan Dine menutup matanya karena setiap sorot lampu yang lewat membuat kepalanya berdenyut lebih keras. Ia menghitung tikungan supaya punya sesuatu untuk dipegang. Bian menyetir dengan kecepatan yang wajar, tidak ngebut, karena ia tahu satu kecelakaan kecil akan mengubah malam yang buruk menjadi malam yang tidak bisa diperbaiki.
Tekanan darah Dine sangat tinggi. Angkanya diucapkan perawat dengan nada datar profesional yang justru membuat Dine tahu angka itu buruk. Ia dirawat untuk observasi dan menerima obat. Pemeriksaan belum menunjukkan preeklamsia berat, tetapi dokter tidak mengizinkannya pulang malam itu. Manset tekanan darah mengembang setiap tiga puluh menit, mendesis pelan, lalu mengempis, dan bunyi itu menjadi penanda waktu yang lebih jujur daripada jam dinding.
"Apakah bayi harus dilahirkan sekarang?" tanya Dine. Ia bertanya sebagai pasien, bukan sebagai dokter, dan itu terasa asing di mulutnya.
"Saat ini tidak," jawab dokter. Perempuan itu menarik kursi dan duduk supaya matanya sejajar. "Tujuan kita mempertahankan kehamilan selama aman bagi keduanya."
Bian menggenggam tangan Dine setelah meminta izin. Telapaknya dingin, dan Dine merasakan getaran halus yang berusaha ditahan. Ia tidak menjanjikan semuanya pasti baik. Ia tidak mengucapkan kalimat yang biasa dipakai orang di lorong rumah sakit ketika mereka tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya duduk, dan diamnya terasa seperti sesuatu yang bisa disandari.
Kabar rawat inap diketahui Helena dari staf rumah dan dalam satu jam keluarga memenuhi lorong. Ada sepupu yang bahkan tidak Dine kenal namanya, ada dua orang membawa keranjang buah, ada yang berbicara di telepon dengan suara terlalu besar untuk pukul empat pagi. Bau parfum bercampur bau antiseptik. Dine merasa sesak melihat terlalu banyak orang. Dinding ruangannya seakan bergerak masuk, dan angka di monitor naik lagi.
Bian meminta mereka pulang dan membuat jadwal kunjungan sesuai pilihan Dine. Ia melakukannya di lorong, bukan di depan pintu kamar, dan ia menyebut nama masing-masing orang supaya tidak terdengar seperti pengusiran massal. Helena tersinggung. Rahangnya mengeras, dan ia berbicara tentang keluarga yang seharusnya hadir. Tetapi akhirnya ia membawa semua kerabat pergi, berjalan paling depan, dan tidak menoleh.
Nola menjadi satu-satunya pengunjung malam itu. Ia datang setelah lorong sepi, mengetuk dua kali, dan menunggu dipersilakan meski pintunya sudah setengah terbuka. Ia membawa pakaian serta makanan untuk Bian, bukan nasihat untuk Dine. Ia menaruh kantong di kursi, memastikan Dine tidak perlu bicara, lalu duduk di sudut sambil membaca. Kehadiran yang tidak menuntut apa-apa itu membuat Dine akhirnya bisa memejamkan mata selama dua jam penuh.
Hasil pemantauan janin tetap baik. Grafiknya naik turun dalam pola yang oleh dokter disebut menenangkan, dan Dine mempelajari kertas itu seperti murid, menelusuri garisnya dengan ujung jari, mencari sesuatu yang mungkin terlewat oleh orang lain. Ia sadar bahwa ia sedang mencari alasan untuk cemas dan tetap saja tidak bisa berhenti. Setelah dua hari, tekanan darah lebih terkendali. Dine diperbolehkan pulang dengan istirahat lebih banyak dan kontrol dua kali seminggu.
Ia harus berhenti melakukan operasi untuk sementara. Kalimat itu diucapkan dengan lembut, diselipkan di antara dua kalimat lain yang jauh lebih menakutkan, sehingga Dine sempat mengangguk seolah tidak apa-apa. Keputusan itu membuatnya menangis di mobil. Ia menunggu sampai pintu tertutup, sampai sabuk pengaman terpasang, sampai mobil keluar dari area parkir, baru air matanya jatuh.
"Aku tahu ini sementara, tapi aku merasa tubuhku mengambil semua hal satu per satu," katanya. Ia menatap lurus ke depan, ke kaca yang mulai berembun di tepi.
"Kamu tetap dokter meski tidak memegang pisau operasi."
"Jangan mencoba memperbaiki perasaanku."
Bian mengangguk. Ia memindahkan tangannya dari tuas persneling, lalu meletakkannya di paha sendiri, memberi jarak yang diminta tanpa benar-benar menjauh. "Baik. Aku dengarkan."
Sisa perjalanan berlangsung tanpa suara kecuali penghangat udara dan roda di aspal basah. Kadang mendengarkan berarti tidak melakukan apa pun, dan itu jauh lebih sulit daripada kelihatannya. Bian ingin sekali menyebut daftar hal yang masih dimiliki Dine, ingin mengingatkan bahwa ini hanya beberapa bulan, ingin memperbaiki sesuatu dengan tangannya sendiri seperti yang biasa ia lakukan pada semua masalah lain dalam hidupnya. Ia menahan semuanya di belakang gigi sampai mobil berhenti di garasi.
Di rumah, mereka memindahkan ruang kerja Dine ke lantai bawah agar ia tidak sering naik tangga. Ruang tamu belakang dikosongkan, meja panjang digeser ke dekat jendela supaya ada cahaya, rak buku dipindahkan dua hari kemudian karena terlalu berat untuk sekali kerja. Bian bertanya sebelum memindahkan setiap barang. Bahkan untuk toples pensil, bahkan untuk kalender meja yang sudah lewat tiga bulan. Dine sempat merasa itu berlebihan, lalu sadar bahwa selama ini terlalu banyak hal dipindahkan dari hidupnya tanpa pernah ditanyakan.
Malam pertama, Dine sulit tidur karena takut gejala kembali. Ia berbaring menghadap langit-langit, mengukur setiap sensasi kecil di kepalanya, bertanya apakah itu awal sesuatu atau hanya lelah. Mereka menyalakan lampu kecil di sudut kamar dan menyusun kapan harus menelepon dokter: gejala apa, seberapa lama, nomor siapa lebih dulu. Dine menulisnya sendiri di kartu, lalu menaruhnya di meja samping tempat tidur. Kepastian itu tidak menghapus ketakutan, tetapi memberi bentuk yang dapat diikuti, dan bentuk selalu lebih mudah digenggam daripada kabut.