Absennya Dine dari operasi menjadi ujian bagi Animalia. Selama bertahun-tahun klinik itu bergerak mengelilingi satu orang tanpa pernah mengakuinya, dan sekarang orang itu hanya ada di layar berukuran tiga belas inci, dengan suara yang kadang terpotong ketika sinyal melemah. Seorang pasien kucing mengalami komplikasi setelah tindakan dokter pengganti. Kabar itu sampai lewat telepon pukul tujuh pagi, saat Dine masih memakai piyama dan sedang mengukur tekanan darahnya sendiri di ruang kerja bawah. Pemiliknya menuduh klinik menurunkan kualitas karena Dine hamil. Tuduhan itu ditulis panjang di media sosial, dibagikan ratusan kali, dan mengandung satu kata yang paling menusuk: hamil, seakan kehamilan adalah bentuk kelalaian.
Dine ingin datang langsung. Ia sudah berdiri, sudah mencari kunci, sudah menyusun kalimat pembuka di kepalanya, ketika ia merasakan denyut di pelipis yang belakangan ia kenali betul. Dokter melarang perjalanan karena tekanan darah kembali naik. Maka ia duduk lagi, membuka laptop, dan menyalakan kamera. Ia mengikuti evaluasi melalui video dan meminta audit medis dilakukan tanpa melindungi nama klinik. Ia mengulang permintaan itu dua kali supaya tidak ada yang salah paham: cari kebenarannya, bukan cari amannya.
Pemeriksaan berlangsung empat hari. Rekam medis dibuka baris demi baris, catatan anestesi dicocokkan dengan jam, dan dokter pengganti diminta menjelaskan setiap keputusannya di depan tim. Laki-laki itu menjawab dengan suara yang makin lama makin pelan, dan Dine melihat dari layar bagaimana bahunya turun sedikit demi sedikit. Ia mengenali sikap itu: orang yang sedang bersiap dipersalahkan. Pemeriksaan menemukan komplikasi merupakan risiko yang telah dijelaskan dan prosedur dilakukan benar. Namun formulir persetujuan menggunakan bahasa terlalu teknis sehingga pemilik tidak memahami sepenuhnya. Dine membaca formulir itu di layar dan merasakan panas di tengkuknya. Ia sendiri yang menyusun kalimat-kalimat itu bertahun-tahun lalu, bangga karena terdengar cermat, dan tidak pernah bertanya apakah ada orang di luar profesinya yang benar-benar mengerti.
Ada godaan yang muncul di rapat video itu, disebut oleh salah satu staf dengan suara pelan: mereka bisa saja diam, membiarkan berita mereda dalam dua minggu, karena secara medis mereka tidak bersalah. Dine mendengarkan sampai selesai sebelum menjawab. Ia berkata bahwa tidak bersalah dan tidak berutang adalah dua hal yang berbeda, dan bahwa orang itu membawa hewannya ke sini karena percaya, lalu pulang tanpa mengerti apa yang terjadi pada hewan tersebut. Kepercayaan itu yang rusak, bukan prosedurnya.
Animalia meminta maaf atas komunikasi dan menanggung perawatan lanjutan, tanpa mengakui kesalahan tindakan yang tidak terjadi. Pernyataannya pendek, tanpa kalimat pembelaan berbelit, dan tidak menyebut nama pemilik kucing itu. Sebagian orang menganggapnya kurang. Sebagian lain berhenti membagikan unggahan yang lama. Dine tidak membaca satu pun kolom komentar, karena ia sudah tahu apa yang ada di sana dan tahu pula bahwa membacanya tidak akan mengubah satu baris pun di formulir yang sedang ia perbaiki.
Dine memperbaiki sistem persetujuan dari rumah. Ia menulis ulang formulir dalam dua kolom: istilah medis di kiri, penjelasan sehari-hari di kanan, lengkap dengan angka kemungkinan yang ditulis polos. Pekerjaan itu memakan tiga sore dan membuat punggungnya nyeri, tetapi untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu ia merasa berguna. Ia melihat kepala klinik mampu menangani kemarahan pelanggan tanpa dirinya, menemui pemilik kucing itu dua kali, mendengarkan sampai selesai, dan tidak sekali pun mengirim pesan meminta persetujuan Dine sebelum berbicara.
"Mungkin mereka memang tidak membutuhkanku setiap hari," katanya kepada Bian. Ia mengucapkannya sambil menatap layar yang sudah gelap, jarinya masih di tepi laptop.
"Itu membuatmu sedih atau bangga?"
"Keduanya."
Bian tidak memaksanya memilih salah satu. Ia menutup laptop itu pelan, lalu duduk di lantai bersandar ke kaki kursi Dine, posisi yang membuatnya harus mendongak untuk bicara.
Bian menghadapi perasaan serupa saat direktur operasional Emery mengambil keputusan besar tanpa meminta persetujuannya. Ia membaca laporannya di ponsel, di ruang tunggu klinik kandungan, dan merasakan sesuatu yang panas naik dari dadanya. Ia hampir membatalkan keputusan hanya karena berbeda dari pilihannya. Jarinya sudah menekan nomor. Lalu ia berhenti, meletakkan ponsel di pangkuan, dan menyadari bahwa satu-satunya alasan yang ia punya adalah bahwa ia tidak dilibatkan. Ia meminta data lebih dahulu. Ternyata hasilnya lebih baik: biaya turun, tenggat lebih masuk akal, dan dua tim yang biasanya berebut sumber daya justru berhenti bertengkar.
Keduanya menyadari selama ini mereka membangun organisasi yang mandiri, tetapi diam-diam masih ingin menjadi orang paling dibutuhkan. Mereka membicarakannya malam itu di dapur, sambil mengiris buah yang tidak terlalu ingin mereka makan, dan menertawakan diri sendiri dengan tawa yang agak pahit. Dine berkata bahwa ia selalu mengira ketakutan terbesarnya adalah kehilangan kemampuan, padahal ternyata kehilangan kepentingan. Bian menjawab bahwa ia mengenali perasaan itu, dan bahwa di perusahaan orang-orang yang tidak mau digantikan biasanya berakhir menghancurkan apa yang mereka bangun demi membuktikan diri masih perlu.
Pada kontrol minggu ketiga puluh dua, pertumbuhan bayi sedikit melambat. Layar ultrasonografi menampilkan angka-angka yang dibandingkan dengan garis di grafik, dan Dine melihat titik mereka bergeser sedikit ke bawah. Ruangan itu dingin dan berbau gel. Aliran darah masih baik, sehingga dokter memilih pemantauan ketat. Dine menerima suntikan untuk membantu pematangan paru jika persalinan dini diperlukan. Jarumnya masuk ke lengan atas, dan Dine tidak berkedip, tetapi tangannya menggenggam ujung meja periksa sampai buku jarinya memutih.
Bian bertanya apakah kamar bayi harus segera diselesaikan. Ia bertanya di mobil, hati-hati, seperti orang berjalan di atas es tipis. Dine menolak terburu-buru karena takut tindakan itu seperti mengakui sesuatu akan buruk. Di kepalanya ada logika yang ia tahu tidak masuk akal namun terasa nyata: selama kamar itu belum siap, tubuhnya belum boleh menyerah.
"Menyiapkan bukan meramalkan," kata Bian, lalu menambahkan, "Tapi kita lakukan hanya kalau kamu siap."
Butuh empat hari sebelum Dine mengangguk. Ia melakukannya di pagi hari, tanpa pengantar, hanya berkata bahwa hari itu ia sanggup. Bian tidak bertanya apa yang berubah dan tidak menyinggung penolakan sebelumnya. Mereka akhirnya mencuci pakaian bayi bersama, sedikit demi sedikit, satu keranjang kecil setiap sore. Baunya sabun lembut dan air hangat. Kain-kain itu begitu kecil sehingga tampak seperti mainan di tangan orang dewasa. Tidak ada pesta atau foto untuk publik, tidak ada balon, tidak ada pengumuman. Hanya dua orang melipat pakaian kecil di ruang tengah sambil menghadapi kemungkinan yang belum pasti, dan sesekali berhenti tanpa berkata apa-apa.