Pada minggu ketiga puluh empat, pemeriksaan menunjukkan aliran darah menuju bayi mulai menurun. Dokter memutar layar supaya Dine bisa melihat sendiri gelombang berwarna itu, dan sebagai sesama tenaga medis Dine langsung membaca artinya sebelum ada yang menjelaskan. Dokter menyarankan Dine kembali dirawat dan menjelaskan bahwa persalinan mungkin diperlukan dalam beberapa hari. Kata beberapa hari menggantung di ruangan itu lebih lama daripada seharusnya.
Dine menandatangani persetujuan rawat inap sendiri. Ia meminta pulpen, membaca dua paragraf terakhir meski sudah tahu isinya, lalu menulis namanya dengan tangan yang cukup stabil. Kertas itu dingin di bawah pergelangannya, dan tinta pulpennya sempat macet sekali sehingga ia harus mencoretkan ujungnya di sudut halaman. Ia ingin tanda tangan itu miliknya, bukan milik keluarga, bukan milik siapa pun yang lebih dulu panik. Bian menghubungi kantor dan menyerahkan tugas kepada direktur tanpa menghilang dari rapat yang sedang berlangsung; ia menjelaskan keadaan lalu melakukan serah terima, satu per satu, dengan nama pengganti yang jelas untuk setiap berkas. Butuh dua puluh menit. Setelah itu ia mematikan ponsel kerjanya dan memasukkannya ke dalam tas.
Kamar rawatnya menghadap ke barat. Sepanjang sore dinding di seberang ranjang berubah warna dari putih menjadi jingga pucat, lalu abu-abu, dan Dine mengukur waktu dari pergeseran itu karena ia tidak sanggup terus-menerus melihat jam. Di luar jendela ada pohon yang daunnya bergerak setiap kali angin lewat, dan ia memutuskan bahwa pohon itu akan menjadi hal yang ia perhatikan setiap kali kepalanya mulai membawanya ke tempat yang jauh.
Di rumah sakit, tim neonatal menjelaskan kemungkinan bayi membutuhkan bantuan napas dan perawatan inkubator. Mereka menunjukkan foto ruangan, menyebut angka, menerangkan alat. Dine mendengarkan dengan sikap yang selama ini ia pakai di ruang konsultasi, tangan terlipat, kepala mengangguk pada saat yang tepat. Ia bahkan menanyakan dua hal teknis, dan pertanyaan itu keluar dengan nada yang begitu tenang sehingga tim tersebut sempat mengira ia sedang baik-baik saja. Pengalaman pasien hewan tidak membuat Dine lebih tenang menghadapi tubuhnya sendiri. Pengetahuan hanya memberitahunya lebih banyak hal yang bisa salah, dan menghapus kemewahan untuk berharap secara buta.
"Aku takut gagal mempertahankannya," katanya, setelah tim itu keluar dan pintu tertutup.
"Kamu bukan tempat penyimpanan yang gagal," jawab Bian. Ia menarik kursi lebih dekat sampai lututnya menyentuh rangka ranjang. "Kamu dan bayi sama-sama pasien yang harus dijaga."
Malam pertama berjalan stabil. Lampu lorong diredupkan, dan suara di luar berkurang menjadi langkah sepatu karet serta roda troli yang berhenti di setiap pintu. Dine tidur dengan sabuk pemantau melingkari perutnya, dan setiap kali ia bergeser, alat itu kehilangan sinyal sebentar dan membuat jantungnya sendiri ikut melompat sebelum garisnya kembali muncul. Hari berikutnya, detak jantung bayi turun beberapa kali lalu pulih. Setiap kali angka itu turun, ada tiga orang masuk tanpa berlari, dan justru cara mereka tidak berlari itulah yang membuat Dine tahu keadaannya serius. Dokter belum melakukan operasi, tetapi meminta Dine berpuasa. Gelas air di meja dijauhkan, dan seorang perawat memberinya kain kasa basah untuk dibasahkan ke bibir. Mulutnya kering sepanjang sore, dan rasa haus itu justru menjadi hal yang paling mudah ia keluhkan, karena semua keluhan lain terlalu besar untuk diucapkan.
Bian tidak pulang sekali pun. Ia tidur di kursi yang bisa direbahkan setengah, bangun setiap kali ada orang masuk, dan pada hari kedua wajahnya sudah menunjukkan warna kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. Dine menyuruhnya pulang mandi. Ia menurut selama satu jam empat puluh menit, lalu kembali dengan rambut basah dan dua botol air.
Helena datang sesuai jadwal dan hanya duduk. Ia mengenakan pakaian yang lebih sederhana daripada biasanya dan meletakkan tasnya di lantai, bukan di kursi. Ia tidak membawa dokter keluarga atau membicarakan pewaris. Selama hampir satu jam ia hanya berada di ruangan itu, sesekali melihat monitor, lebih sering melihat tangannya sendiri. Dua kali ia membuka mulut seakan hendak memberi saran, dan dua kali ia menutupnya lagi. Sebelum pulang, ia meminta izin menyentuh tangan Dine.
"Saya berharap semuanya aman," katanya.
"Terima kasih."
Hubungan mereka belum dekat. Ada terlalu banyak tahun di antara mereka yang tidak bisa dihapus oleh satu sore. Tetapi Helena mulai belajar hadir tanpa mengendalikan, dan Dine mencatat itu tanpa membesar-besarkannya.
Menjelang dini hari, alarm pemantau berbunyi. Bunyinya tajam, tiga nada berulang, dan Dine terbangun sebelum perawat sampai di pintu. Perawat meminta Dine mengubah posisi, membantu memiringkan tubuhnya ke kiri, menyusun bantal di punggung. Detak bayi membaik, lalu turun kembali setengah jam kemudian. Bian berdiri di sudut, tidak menghalangi jalan siapa pun, matanya tidak lepas dari layar.
Dokter datang dan mengatakan menunggu lebih lama mulai memberi risiko lebih besar. Ia menjelaskan tanpa mempercepat kalimat, meski jelas waktunya sempit. Operasi sesar disarankan malam itu.
Dine meminta penjelasan risiko sekali lagi. Ia tahu ia sudah mendengarnya dua kali, tetapi ia ingin mendengarnya ketika keputusan itu sudah nyata, bukan ketika masih berupa kemungkinan. Dokter mengulang: risiko perdarahan, risiko bagi bayi yang lahir dini, kemungkinan perawatan intensif yang panjang. Tidak ada yang dipermanis, dan tidak ada yang ditambahkan untuk menakuti. Dine bertanya apa yang akan dokter itu pilih untuk anaknya sendiri, dan dokter menjawab jujur bahwa pertanyaan seperti itu tidak boleh dijadikan penentu, meskipun ia tetap menjawabnya. Setelah yakin, ia menandatangani persetujuan operasi.
Tangannya lebih stabil daripada yang ia duga. Yang bergetar justru napasnya, pendek-pendek di bagian atas dada, dan ia sengaja memperlambatnya seperti yang selama ini ia ajarkan kepada pemilik hewan yang panik di ruang tunggu kliniknya.
Bian mengganti pakaian untuk mendampingi. Baju hijau itu terlalu besar di bahunya, dan tali di pinggangnya diikat dua kali. Tangannya gemetar saat memasang penutup kepala. Ia mencoba lagi, gagal lagi, dan seorang perawat akhirnya membantunya tanpa berkomentar apa pun.
"Kamu boleh takut," kata Dine dari ranjang.
"Aku takut kehilangan kalian."
"Jangan pergi ke kemungkinan terjauh. Berdiri di sini."
Bian mendekat dan menggenggam tangannya. Kulit mereka sama-sama dingin. Pintu ruang operasi dibuka, dan udara dari dalam terasa lebih dingin lagi, berbau bersih sampai hampir tidak berbau apa pun. Mereka belum mengetahui seperti apa beberapa jam berikutnya, tetapi tidak ada informasi yang disembunyikan dan tidak ada keputusan yang diambil seorang diri. Itu bukan jaminan. Itu hanya satu-satunya hal yang benar-benar bisa mereka pegang.
Ranjang Dine didorong masuk, sementara Bian berjalan di sampingnya.