Lampu ruang operasi terasa terlalu terang. Cahayanya putih rata, tanpa bayangan, membuat setiap benda kehilangan kedalaman. Dine berbaring dengan tangan gemetar, merasakan dingin logam meja menembus kain, mendengar suara alat yang diletakkan satu per satu di nampan. Sementara Bian duduk di samping kepalanya, cukup dekat sehingga Dine bisa mencium sabun rumah sakit di kulitnya. Ia tidak mengatakan semuanya pasti baik. Ia menghitung napas bersama Dine seperti yang diminta dokter anestesi, satu, dua, tiga, dengan suara pelan yang hanya sampai ke telinga Dine dan tidak ke seluruh ruangan.
Ada tirai hijau membentang di atas dada Dine. Di baliknya, orang-orang bekerja dan berbicara dengan kalimat pendek yang tidak ia mengerti seluruhnya. Ia merasakan tarikan dan tekanan tanpa rasa sakit, sensasi asing yang membuatnya sadar bahwa tubuhnya sedang dibuka oleh tangan-tangan yang tidak bisa ia lihat. Waktu terasa aneh: sangat lambat di antara dua tarikan napas, lalu tiba-tiba melompat. Di suatu titik ia berhenti berdoa dengan kalimat dan hanya mengulang satu kata di dalam kepalanya.
Beberapa menit kemudian terdengar tangis kecil, tipis, lalu berhenti. Suara itu begitu singkat sehingga Dine sempat ragu apakah ia benar-benar mendengarnya. Tim neonatal langsung membawa bayi ke meja pemeriksaan di sudut ruangan, dan yang terdengar sesudahnya hanyalah instruksi bernomor.
"Kenapa dia tidak menangis lagi?" tanya Dine. Suaranya serak karena obat, dan lehernya tidak mau menoleh sejauh yang ia mau.
Dokter menjelaskan bayi sedang dibantu bernapas. Kalimat itu diucapkan dengan tenang, tanpa dibungkus, dan Dine bersyukur untuk itu. Dine hanya dapat melihat tubuh kecil dari kejauhan sebelum sebuah alat menutup sebagian wajahnya.
"Bayi perempuan," kata dokter. "Beratnya satu koma delapan kilogram. Kondisinya stabil dengan bantuan napas."
Bian menangis tanpa suara. Bahunya bergerak sekali, lalu ia menyeka wajahnya dengan punggung tangan. Ia meminta izin mendekati meja neonatal, menunggu sampai izin itu benar-benar diberikan, lalu berjalan ke sana. Ia berdiri di jarak yang tidak mengganggu selama mungkin sepuluh detik, lalu kembali kepada Dine dan menjelaskan apa yang dilihatnya, karena ia tahu Dine sedang terkunci di posisi yang tidak memungkinkannya melihat.
"Jari-jarinya panjang. Dia menggenggam selang kecil tadi."
Bayi diperlihatkan kepada Dine beberapa detik sebelum dibawa ke unit perawatan intensif neonatal. Wajah itu merah, kecil, dan matanya tertutup rapat. Dine mengecup dahinya, merasakan kulit yang hangat dan tipis di bibirnya, tetapi tidak sempat menggendong. Detik-detik itu berlalu sebelum otaknya sempat merekam apa pun selain satu kesan: nyata, dan sangat kecil. Pintu terbuka dan tertutup, dan ruangan itu kembali menjadi ruangan tanpa bayi. Dine menatap langit-langit dan berpikir bahwa selama sembilan bulan tubuhnya adalah satu-satunya tempat anaknya berada, dan sekarang tempat itu kosong sementara anaknya berada di lorong yang tidak bisa ia lihat.
Operasi selesai tanpa komplikasi besar. Kalimat itu disampaikan kepada Bian di depan pintu, dan ia harus mengulangnya di dalam kepalanya beberapa kali sebelum tubuhnya percaya. Di ruang pemulihan, tekanan darah Dine tetap dipantau ketat. Manset mengembang lagi, mendesis lagi, dan angkanya diucapkan lagi. Selimut yang menutupinya dihangatkan lebih dulu, dan hangat itu satu-satunya kenyamanan yang terasa nyata baginya malam itu. Ia bertanya tentang bayi berulang kali karena obat membuatnya lupa jawaban. Ia bertanya, mendengar, mengangguk, lalu sepuluh menit kemudian bertanya persis dengan kalimat yang sama, dan setiap kali ia bertanya, rasa takutnya terasa baru lagi.
Bian menjawab dengan kalimat yang sama setiap kali: "Dia stabil. Dokter merawatnya. Aku di sini."
Ia tidak pernah menambahkan bahwa Dine sudah menanyakannya. Ia tidak pernah terdengar lelah, tidak pernah memendekkan jawabannya, dan tidak pernah menukar satu kata pun dengan kata lain yang lebih ringkas. Ia mengulangnya entah berapa kali sampai matahari muncul di celah tirai.
Mereka memilih nama Ardea Emery Edrea, dengan panggilan Dea. Nama itu sudah lama ada di daftar, ditulis di halaman belakang buku catatan Dine berbulan-bulan lalu, dan tidak pernah mereka ucapkan keras-keras karena takut mendahului. Nama kedua keluarga dicantumkan tanpa menjadikan salah satunya lebih tinggi. Mereka menuliskannya di kertas formulir dengan huruf cetak, dan Dine meminta melihatnya sekali lagi sebelum diserahkan, hanya untuk memastikan urutannya benar. Ketika ia mengucapkan nama itu untuk pertama kalinya di ruang pemulihan, suaranya pecah di tengah, dan ia mengulanginya sampai utuh.
Keluarga ingin mengumumkan kelahiran. Pesan-pesan masuk sejak pagi, sebagian sudah menyusun draf, sebagian bertanya kapan foto bisa dibagikan. Dine dan Bian meminta menunggu sampai kondisi Dea lebih jelas. Tidak ada foto inkubator dibagikan. Bian menyampaikannya sekali, singkat, dan tidak menawarkan ruang untuk ditawar.
Pagi berikutnya Bian mengunjungi unit neonatal dan mengambil foto atas izin perawat. Ia mencuci tangan selama waktu yang ditentukan, mengenakan gaun bersih, dan berdiri di samping kotak kaca itu lebih lama daripada yang ia rencanakan. Ia mengambil belasan gambar dan menghapus sebagian besar, menyisakan yang paling menunjukkan wajah dan paling sedikit menunjukkan alat, karena ia tahu Dine akan mencari wajah itu lebih dulu. Dine melihat putrinya dikelilingi kabel serta alat bantu napas, di layar ponsel, dari ranjang yang belum boleh ia tinggalkan.
"Dia sendirian," katanya.
"Perawat ada bersamanya."
"Maksudku, aku tidak di sana."
Bian tidak mengatakan Dine sudah melakukan yang terbaik. Ia tidak menawarkan kalimat penghibur yang akan membuat Dine merasa perasaannya sedang dikoreksi. Ia mengakui perpisahan itu menyakitkan, dan ia mengakuinya dengan kalimat sederhana, lalu diam bersama Dine di dalam kalimat itu.
Ketika Dine cukup kuat menggunakan kursi roda, mereka menuju inkubator bersama. Perjalanan itu memakan waktu lama: dua lorong, satu lift, satu tempat cuci tangan dengan hitungan detik yang tertempel di dinding. Setiap gundukan kecil di lantai terasa di jahitannya, dan di depan lift ia harus berhenti sebentar karena pandangannya menggelap di tepi. Ia tidak mengeluh sekali pun. Bian mendorong kursi itu dengan kecepatan yang sengaja ia buat lambat, meski setiap serat di tubuhnya ingin bergerak lebih cepat.
Di depan inkubator, Dine memasukkan tangannya melalui lubang dan menyentuh kaki Dea. Kaki itu sebesar ibu jarinya. Kulitnya hangat, dan ada plester kecil di pergelangan yang membuat Dine ingin menangis lagi.
"Ibu di sini," bisiknya.
Dea bergerak kecil, satu sentakan pelan yang mungkin hanya refleks dan mungkin bukan. Tindakan itu tidak menjamin apa pun, tetapi cukup untuk hari pertama mereka sebagai tiga orang.