Dea membutuhkan bantuan napas selama empat hari. Empat hari yang dihitung bukan dengan tanggal, melainkan dengan pergantian sif perawat dan bunyi alat. Setiap kali monitor berbunyi, tubuh Dine menegang, bahunya naik, napasnya berhenti di tengah, meski perawat menjelaskan sebagian alarm hanya menunjukkan kabel bergeser. Otaknya mengerti penjelasan itu. Tubuhnya tidak mau ikut mengerti.
Ruangan itu selalu hangat dan selalu terang setengah. Ada bau khas di sana, campuran plastik bersih, sabun antiseptik, dan sesuatu yang manis samar. Suara di dalamnya tidak pernah benar-benar berhenti: denyut alat, langkah pelan, dan sesekali tangis bayi lain yang terdengar seperti berasal dari jarak yang sangat jauh meski hanya dua meter. Di dalam kotak kaca, dada Dea naik turun terlalu cepat menurut ukuran orang dewasa, dan Dine menghitungnya sampai hafal.
Produksi ASI Dine belum banyak. Ia memerah setiap beberapa jam, di kursi berlengan di sudut ruang menyusui, dengan tirai yang tidak pernah menutup rapat dan mesin yang berdengung dalam irama yang selalu terdengar seperti sedang menagih. Ia merasa gagal melihat botol hampir kosong. Angka di sisi botol itu menjadi angka lain yang menghakiminya, setelah tekanan darah, setelah berat lahir, setelah minggu kehamilan. Ia menghitung mundur semua hal yang tidak bisa dilakukan tubuhnya: tidak bisa menahan bayinya sampai cukup bulan, tidak bisa melahirkannya sendiri, dan sekarang tidak bisa memberinya makan.
Konselor laktasi datang pada hari ketiga, duduk di kursi rendah supaya matanya lebih rendah daripada mata Dine. Ia menjelaskan operasi, stres, dan kelahiran prematur dapat memperlambat produksi. Ia menerangkan bahwa Dea menerima kombinasi ASI serta nutrisi lain sesuai kebutuhan, dan bahwa keduanya sama-sama makanan.
"Nilai Anda sebagai ibu tidak dihitung dalam mililiter," katanya.
Dine mengangguk, tetapi butuh dua hari sebelum kalimat itu benar-benar masuk. Selama dua hari itu ia tetap menimbang botolnya, tetap mencatat angkanya, dan tetap merasa perutnya turun setiap kali hasilnya lebih sedikit daripada sesi sebelumnya.
Bian mencatat jadwal hanya setelah Dine memintanya. Ia sempat hampir membuat tabel sendiri, sudah membuka aplikasi, lalu menutupnya karena teringat bahwa tubuh itu bukan proyek yang bisa ia kelola. Ia menulis jamnya di kertas biasa dengan pena, bukan di layar, supaya kertas itu bisa dibuang kapan saja Dine mau. Saat Dine memilih melewatkan satu sesi untuk tidur, ia tidak mengingatkan atau menunjukkan kekecewaan. Ia hanya menutup gorden, mematikan lampu utama, dan duduk di kursi sampai Dine benar-benar tertidur. Baru sesudah itu ia keluar ke lorong dan berdiri di sana beberapa menit, menyandarkan kepala ke dinding yang dingin, membiarkan dirinya sendiri merasa takut di tempat yang tidak terlihat.
Media akhirnya mengetahui kelahiran melalui catatan rumah sakit yang bocor. Judul berita menyebut pewaris perempuan Emery lahir prematur, lengkap dengan berat badan dan tanggal, informasi yang seharusnya tidak pernah keluar dari berkas. Bian meminta penyelidikan privasi, menandatangani surat kuasa di lorong sambil berdiri, tetapi prioritasnya tetap berada di rumah sakit. Ia tidak pergi ke kantor sekali pun minggu itu.
Dewan mengusulkan pengumuman resmi agar spekulasi tidak menurunkan harga saham. Usulan itu dikirim dalam bentuk draf lengkap, sudah ada kutipan yang seharusnya ia ucapkan. Bian membacanya di ruang tunggu, di kursi plastik, dengan kopi mesin yang sudah dingin di tangannya. Ia menolak menghubungkan kondisi bayi dengan pasar.
"Anak saya bukan informasi investor," katanya.
Mereka hanya mengumumkan bahwa ibu dan bayi sedang dirawat serta meminta privasi. Dua kalimat, tanpa nama, tanpa angka, tanpa gambar. Harga saham turun tipis pada hari itu, lalu kembali seperti semula pada minggu berikutnya, dan tidak seorang pun di rumah sakit memperhatikannya.
Pada hari kelima, alat bantu napas Dea dilepas. Perawat mengerjakannya dengan gerakan yang sudah ratusan kali ia lakukan, tetapi bagi Dine itu peristiwa besar yang berlangsung terlalu cepat untuk sesuatu sepenting itu. Ada jeda beberapa detik ketika semua orang di ruangan itu diam-diam menunggu, lalu dada kecil itu naik sendiri. Wajah Dea terlihat utuh untuk pertama kalinya tanpa plester dan selang yang menutupi setengahnya, dan Dine baru menyadari bahwa bentuk hidungnya mirip hidung ibunya sendiri, orang yang wajahnya kini berdiri di rak kamar bayi di rumah. Dine diizinkan melakukan perawatan kulit ke kulit. Perawat membantu memindahkan tubuh mungil itu, mengatur selang yang masih tersisa, dan meletakkannya di dada Dine yang sudah dibuka sebagian. Tubuh bayi itu terasa sangat ringan di dadanya, seringan handuk basah, dan panasnya menyebar pelan lewat kulit.
Bian berdiri di samping dengan tangan siap, cukup dekat untuk menahan jika ada yang tergelincir, tetapi tidak menyentuh sebelum diminta. Ia sudah belajar bahwa kesiapan dan campur tangan adalah dua hal yang berbeda.
"Ambil foto satu," kata Dine tanpa mengangkat kepala. "Untuk kita saja."
Bian mengambil foto, satu saja seperti yang diminta, lalu menyimpan ponsel di saku tanpa melihat hasilnya dua kali. Ia duduk di kursi di sebelah dan memegang tangan Dine. Selama hampir satu jam tidak ada yang berbicara, dan itu adalah satu jam paling tenang sejak minggu kedua puluh sembilan.
Helena berkunjung sesuai jadwal. Ia berdiri di luar unit neonatal, di balik kaca, dan tidak meminta masuk meski jelas ia menginginkannya. Ia memberikan sebuah selimut bayi yang pernah dipakai Bian, kain rajut yang sudah melunak karena usia, dengan sulaman kecil di sudutnya. Perawat mengatakan barang itu harus dicuci dengan prosedur khusus sebelum boleh masuk, dan Helena menerima keterangan itu tanpa membantah, tanpa menyebut siapa dirinya, lalu menyerahkan selimut tersebut dengan dua tangan.
"Saya selalu mengira keluarga Emery harus terlihat kuat," katanya kepada Dine, masih menghadap kaca. "Ternyata terlihat kuat sering hanya membuat orang berbohong soal ketakutan."
Dine mengangguk. Ia tidak menambahkan apa pun, karena kalimat itu tidak butuh ditanggapi, hanya butuh didengar. Hubungan mereka belum menjadi dekat. Masih ada banyak hal yang belum pernah diucapkan dan mungkin tidak akan pernah diucapkan. Tetapi percakapan itu tidak lagi terasa seperti pertarungan.
Dea belum dapat pulang. Ia harus belajar minum sendiri dan mempertahankan suhu tubuhnya di luar kotak kaca, dua pekerjaan yang bagi orang lain terdengar sepele. Dine serta Bian berhenti menghitung hari menuju kepulangan, karena hitungan semacam itu selalu berakhir dengan kekecewaan. Mereka menghitung kemajuan kecil: satu napas tanpa bantuan, satu mililiter tambahan, satu jam tenang di dada ibunya.