Sepuluh hari setelah operasi, seorang perawat meletakkan map berisi surat pemulangan di meja samping tempat tidur Dine. Kertas itu tipis dan berbau mesin cetak. Dine memandanginya lebih lama daripada yang diperlukan, seolah menunda menyentuhnya bisa mengubah isinya.
Di lantai yang sama, di balik pintu berkaca dan bau alkohol yang menempel di setiap gagang, Dea masih tinggal di unit neonatal. Kotak hangat tempatnya berbaring berdengung pelan sepanjang siang dan malam, dan dengung itu sudah menjadi suara yang paling dikenali Dine di dunia.
Ia berjalan keluar dengan langkah yang dijaga karena jahitan di perutnya masih menarik setiap kali ia menarik napas terlalu dalam. Bian membawa tas, mantel, dan sebotol air yang tidak diminta siapa pun. Lorong terasa terlalu terang. Orang-orang berpapasan sambil menenteng balon dan buket, dan Dine menyadari hampir semua yang keluar dari pintu itu membawa sesuatu yang lebih kecil daripada dirinya sendiri.
Langkah Dine berhenti di pintu mobil.
Bukan berhenti karena sakit. Tubuhnya yang menolak masuk. Ada bagian dari dirinya yang menghitung dengan dingin: kalau ia duduk, kalau pintu ditutup, kalau mobil bergerak, jarak antara dirinya dan anaknya berubah dari lorong menjadi kilometer.
Kursi bayi sudah dipasang, sabuknya rapi, bantalannya masih berbau kain baru. Kosong di belakang. Kekosongan itu punya bentuk, dan bentuknya persis seukuran Dea. Bian mengikuti arah pandang istrinya, lalu menawarkan melepasnya sementara supaya tidak ada yang menusuk mata setiap kali Dine menoleh.
"Jangan," kata Dine. "Dia akan duduk di sana nanti."
Bian mengangguk tanpa mendebat. Ia menutup pintu pelan-pelan, seperti takut membangunkan seseorang yang tidak ada di sana.
Perjalanan pulang berlangsung dua puluh menit dan terasa seperti dua jam. Dine memandang jalan yang sama yang ia lalui saat berangkat, hanya sekarang urutannya terbalik dan ada satu orang yang kurang. Di lampu merah ia sempat berpikir meminta Bian memutar balik, lalu menahannya karena tahu permintaan itu tidak akan menolong siapa pun.
Di rumah, kamar bayi terasa terlalu rapi. Seprai kecil terlipat tanpa kusut, botol berjajar menurut ukuran, dan lampu tidur berbentuk bulan menyala di sudut untuk penghuni yang belum datang. Ruangan itu bukan menunggu; ruangan itu memamerkan penantian. Dine menutup pintunya dan tidur di ruang keluarga bersama Dre.
Kucing itu meringkuk di lekuk lututnya dan tidak pindah semalaman, seolah tahu tubuh di sampingnya sedang belajar berbaring tanpa perut yang penuh. Malam itu Dine terbangun karena merasa mendengar tangisan. Rumah senyap. Yang berbunyi hanya kulkas dan angin di jendela dapur.
Ia menelepon unit neonatal tiga kali. Pukul dua, pukul empat, dan menjelang subuh. Perawat menjawab dengan sabar setiap kali, menyebut angka saturasi dan jumlah susu dengan suara yang sama datarnya. Dine mencatat semuanya di kertas struk yang kebetulan ada di meja, lalu merasa bersalah setelah setiap panggilan, bersalah karena mengganggu, bersalah karena butuh diyakinkan, bersalah karena tidak berada di sana untuk melihat sendiri.
Ia tahu persis apa yang akan dikatakan seorang dokter kepada pasien yang berperilaku seperti dirinya. Ia sudah mengucapkan kalimat itu kepada puluhan pemilik hewan yang panik: percayalah pada tim yang berjaga, tidurlah. Mengetahui kalimatnya tidak membuatnya sanggup mematuhinya.
Bian tidak mengambil ponselnya atau menyuruhnya tenang. Ia duduk di lantai menghadap sofa, menunggu sampai Dine selesai bicara, lalu bertanya apakah Dine bersedia menghubungi psikolog perinatal. Pertanyaan, bukan perintah. Dine menyetujui, dan baru sesudah mengucapkannya ia sadar betapa lelah dirinya memikul ini sendirian.
Evaluasi menunjukkan kecemasan pascapersalinan. Bukan kelemahan, bukan kegagalan menjadi ibu; sebuah kondisi dengan nama dan penanganan. Dine mendapat sesi terapi teratur dan rencana tidur yang ditulis seperti resep: jam berapa boleh menelepon rumah sakit, jam berapa ponsel diletakkan di ruangan lain. Nola datang beberapa jam pada siang hari, membawa makanan hangat dan tidak menuntut percakapan, sementara Bian mengambil cuti tanpa menyerahkan seluruh pekerjaannya secara kacau.
Ia menunjuk direktur operasional menjalankan tugas dan hanya menerima laporan darurat. Dewan terkejut melihat pemilik perusahaan mengambil cuti orang tua sebelum bayi pulang. Salah seorang menyebut keputusan itu terlalu cepat, dan Bian menjawab tanpa meninggikan suara.
"Menjadi ayah tidak dimulai saat anak masuk rumah," katanya.
Animalia mengirim pembaruan tanpa meminta Dine kembali. Laporan singkat, angka pasien, satu dua foto anjing yang sembuh. Kepala klinik menolak pelanggan yang ingin menitipkan hadiah langsung ke rumah, dan menyusun kalimat penolakannya sendiri supaya Dine tidak perlu ikut memikirkannya.
Rumah pelan-pelan berubah bentuk. Kardus alat pompa di sudut dapur, kertas berisi jadwal ditempel di pintu kulkas, sepatu Nola di rak depan dua kali seminggu. Dre mulai duduk di ambang kamar bayi yang masih tertutup, menghadap pintu, seperti menunggu sesuatu yang dijanjikan kepadanya.
Setiap pagi Dine menyalin catatan telepon semalam ke buku kecil, lengkap dengan jam dan angkanya. Ia tidak tahu untuk apa catatan itu nanti. Yang ia tahu, menuliskannya membuat malam terasa seperti sesuatu yang bisa dihitung, bukan sesuatu yang menimpanya dari atas.
Pada hari kedua puluh, Dea berhasil minum melalui botol untuk pertama kali. Perawat menyebutnya sedikit, lima belas mililiter, tetapi Dine menangis di lorong seperti mendengar kabar kelulusan. Beratnya naik perlahan, garisnya merangkak di grafik yang selama ini datar. Dokter mulai membicarakan kepulangan jika kemajuan bertahan.
Dine justru semakin takut, dan ia tidak berpura-pura sebaliknya. Di unit itu ada alarm yang berbunyi sebelum ada yang salah. Di rumah tidak ada monitor atau perawat yang berjaga.
"Kalau aku melewatkan tanda bahaya?" tanyanya.
"Kita belajar tanda yang perlu diketahui," jawab Bian. "Kita juga boleh menelepon bantuan."
Mereka mengikuti pelatihan pertolongan pertama bayi serta cara memberi makan. Ruangannya kecil, berbau karpet dan kopi instan, dan diisi pasangan lain yang sama tegangnya. Instruktur mengajarkan cara menepuk punggung, cara memiringkan tubuh, cara mengenali napas yang menarik terlalu dalam di sela tulang rusuk. Bian gagal memasang popok pada boneka latihan dua kali; pada percobaan kedua perekatnya menempel di lengannya sendiri. Dine tertawa untuk pertama kalinya sejak pulang, dan tawanya keluar terlalu keras sampai ia menutup mulut.
Tiga hari kemudian, dokter menyatakan Dea boleh pulang. Ada berkas yang ditandatangani, ada jadwal kontrol, ada nomor telepon darurat yang ditempel di lemari es sebelum mereka berangkat. Kali ini kursi di belakang mobil tidak kosong.
Dine duduk di samping putrinya sepanjang perjalanan, tangannya menempel ringan di dada bayi itu untuk merasakan naik turunnya. Bian mengemudi perlahan, memilih jalan yang paling sedikit lubangnya, tetapi tidak berhenti setiap kali Dea bergerak. Mereka membawa pulang kebahagiaan sekaligus ketakutan, tanpa berpura-pura salah satunya harus hilang.