Malam pertama Dea di rumah tidak berlangsung tenang. Rumah yang selama tiga minggu terlalu sunyi mendadak penuh bunyi kecil: embusan napas, decap bibir, gemerisik selimut. Ia sulit minum, suhu tubuhnya sedikit turun, dan Dine memeriksa napasnya hampir setiap menit.
Ia meletakkan punggung tangan di dada bayi itu, menghitung, lalu menarik tangannya, lalu meletakkannya lagi tiga puluh detik kemudian. Bian tidak menyuruhnya berhenti. Ia hanya menyalakan lampu kecil di sudut supaya Dine tidak perlu meraba dalam gelap.
Termometer digital berbunyi tiga kali setiap kali dipakai, dan bunyi itu menjadi penanda waktu di rumah tersebut. Suhu ruangan dijaga di angka yang ditulis dokter pada selembar kertas kecil. Dine menempelkan kertas itu di dinding setinggi mata, supaya pada jam dua pagi ia tidak perlu mengingat apa pun.
Mereka mengikuti petunjuk dokter: menghangatkan ruangan, melakukan kontak kulit, dan mencatat jumlah susu. Catatan itu ditulis di buku bergaris dengan pena yang tintanya hampir habis, berisi jam, mililiter, dan keterangan. Angkanya terlalu kecil di setiap baris. Ketika Dea tetap lemas, mereka membawanya ke rumah sakit.
Pukul tiga pagi jalanan kosong dan lampu-lampu jalan berjajar seperti barisan yang sudah menyerah. Bian mengemudi tanpa bicara. Dine duduk di belakang dan menghitung napas anaknya dengan suara pelan supaya angkanya tidak hilang.
Pemeriksaan menunjukkan dehidrasi ringan. Dea dirawat semalam untuk cairan dan pemantauan. Dokter jaga menjelaskan tanpa tergesa, menunjuk angka di layar, dan menyebut bahwa beratnya belum turun sampai batas yang mengkhawatirkan. Tidak ada yang menyalahkan orang tuanya karena datang terlalu cepat.
Di lorong menjelang pagi ada dua orang tua lain yang menunggu, sama-sama duduk terlalu tegak untuk orang yang belum tidur. Tidak ada yang berbicara. Bau pembersih lantai bercampur bau kopi mesin otomatis, dan Dine menyadari ia mengenali bau itu bukan sebagai dokter, melainkan sebagai keluarga pasien.
"Aku dokter, tapi aku tidak bisa merawat anakku sendiri," kata Dine di lorong.
Ia mengatakannya sambil menatap lantai. Di klinik ia bisa memutuskan dalam hitungan detik, dengan tangan yang tidak gemetar. Di sini tangannya gemetar sejak sore.
"Kamu dokter hewan dan ibunya. Bukan seluruh rumah sakit," jawab Bian.
Dine menatapnya. "Kamu semakin mahir tidak memberikan kalimat motivasi buruk."
"Aku berlatih."
Sudut bibirnya terangkat sedikit, dan untuk beberapa detik lorong rumah sakit itu terasa seperti tempat yang bisa ditinggali.
Dea kembali pulang keesokan hari dengan jadwal minum lebih ketat. Setiap dua setengah jam, siang dan malam, tanpa menunggu ia menangis lebih dulu. Mereka menyewa perawat neonatal untuk malam pertama, lalu bantuan paruh waktu selama dua minggu. Dine sempat menganggap itu tanda kekalahan, sampai perawat tersebut menunjukkan cara memegang botol yang membuat Dea tidak cepat lelah.
Malam itu perawat neonatal duduk di kursi dekat boks, membaca dengan lampu kecil. Dine tidur enam jam berturut-turut untuk pertama kalinya sejak operasi, lalu bangun dengan rasa panik karena tidak dibangunkan. Perawat itu menunjukkan catatan: dua kali minum, keduanya habis.
Helena menawarkan pindah ke rumah mereka agar dapat membantu. Tawarannya tulus dan, seperti biasa, sedikit terlalu besar. Dine menolak, tetapi memberinya jadwal berkunjung dua kali seminggu. Helena mematuhi dan selalu mengetuk, meski ia punya kunci dan dahulu menganggap kunci itu izin.
Bian kembali bekerja secara bertahap. Ia menolak rapat malam kecuali darurat dan mengganti kebiasaan bepergian mendadak dengan jadwal yang dapat ditinjau keluarga. Kalender itu tergantung di dapur, ditulis tangan, dan Dine boleh mencoretnya.
Beberapa rekan di kantor menganggap perubahan tersebut sementara. Bian tidak berdebat; ia hanya menepati jadwalnya sampai orang berhenti bertanya kapan ia kembali seperti dulu.
Dine belum kembali ke klinik. Ia mengikuti satu rapat mingguan lewat layar, dengan rambut diikat asal dan suara ditahan supaya tidak membangunkan bayi di ruangan sebelah, dan menyerahkan keputusan harian. Ketika seorang dokter membuat pilihan berbeda dari yang akan ia ambil, jarinya sempat berhenti di atas papan ketik. Dine menahan diri untuk tidak mengubahnya selama standar tetap terpenuhi.
Dre awalnya menjauhi suara tangis Dea. Ia bersembunyi di balik lemari selama dua hari dan makan hanya ketika rumah sepi. Perlahan ia mulai tidur di depan kamar bayi, ekornya melingkari kaki sendiri, telinganya bergerak setiap kali ada bunyi dari dalam. Dine memasang batas agar kucing tidak masuk tanpa pengawasan.
Hari-hari kehilangan bentuknya. Pagi dan malam dibedakan hanya oleh warna cahaya di tirai. Dine belajar tidur empat puluh menit dan bangun sebagai manusia yang cukup utuh untuk menghitung mililiter.
Bian belajar mengenali bunyi tangis yang berarti lapar dan bunyi tangis yang berarti tidak nyaman. Ia keliru beberapa kali, mengaku keliru, lalu mencoba lagi. Dine menahan diri untuk tidak selalu mengoreksi, karena tangan yang tidak pernah dibiarkan salah tidak akan pernah menjadi terampil.
Piring makan malam sering dingin sebelum sempat disentuh, dan tidak ada yang mengeluh.
Ada satu malam ketika Dine menangis di kamar mandi dengan keran dinyalakan supaya tidak terdengar. Ia menceritakannya pada sesi terapi berikutnya, bukan menyimpannya. Itu perbedaan yang dulu tidak ia miliki.
Pada akhir bulan, berat Dea meningkat. Angkanya ditulis di buku yang sama, dan untuk pertama kalinya garis itu naik dua baris berturut-turut. Dokter mengurangi frekuensi kontrol. Dine menghapus aplikasi yang membuatnya membandingkan perkembangan bayi prematur dengan bayi cukup bulan; aplikasi itu setiap pagi memberi tahu apa yang seharusnya sudah bisa dilakukan Dea, dan setiap pagi ia percaya.
"Dia tumbuh sesuai usia koreksi," katanya kepada seorang kerabat yang bertanya kenapa Dea belum seperti bayi lain.
Ia mengucapkannya dengan nada yang sama seperti saat menjelaskan diagnosis di ruang periksa: tenang, tanpa permintaan maaf. Kerabat itu tidak bertanya lagi.
Malam-malam berikutnya berjalan dengan pola yang sama: minum, catat, tidur sebentar, ulangi. Pola itu melelahkan, tetapi pola punya kelebihan yang tidak dimiliki kepanikan, yaitu bisa dipelajari, dan yang bisa dipelajari lama-lama bisa dikerjakan tanpa seluruh tubuh ikut menegang.
Malam itu Dea tertidur di dada Bian. Kepalanya miring, satu tangan kecil menggenggam kerah kaus, dan napasnya akhirnya panjang. Dine melihat suaminya menahan posisi meski lengannya kesemutan; ia tahu karena jari Bian bergerak-gerak pelan di sandaran sofa.
"Kamu boleh memindahkannya," kata Dine.
"Aku tahu. Aku belum mau."
Dine duduk di lantai, bersandar pada kaki sofa, dan tidak menyalakan lampu. Di dapur ada piring yang belum dicuci dan cucian yang menumpuk di kursi. Rumah mereka tidak lagi rapi atau tenang. Namun untuk pertama kalinya, kekacauan itu terasa sebagai kehidupan yang memang mereka pilih.