Tiga bulan setelah kelahiran, Dine kembali ke Animalia selama empat jam sehari. Ia berdiri agak lama di depan pintu kaca sebelum masuk, memandangi pantulan dirinya yang memakai jas putih lagi setelah sekian lama, lalu mendorong pintu itu seperti orang yang tidak yakin masih punya haknya.
Bau klinik menyambutnya lebih dulu: disinfektan, bulu basah, makanan kering yang tumpah di sudut kandang. Bau yang dulu ia anggap bagian dari udara, kini terasa seperti sesuatu yang dikembalikan kepadanya.
Hari pertama ia memeriksa ponsel rumah berkali-kali dan hampir pulang ketika Dea menangis dalam video. Tangisnya pendek, wajahnya memerah, dan Dine sudah berdiri dengan kunci mobil di tangan sebelum sempat berpikir.
Ia tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Tubuh yang selama tiga bulan diprogram untuk menjawab satu suara tidak bisa langsung diyakinkan oleh layar berukuran telapak tangan.
Perawat mengatakan kondisi aman. Bian yang bekerja dari rumah tidak mengambil alih keputusan, hanya memberi kabar bahwa Dea sudah tenang. Ia tidak menambahkan kalimat penenang yang berlebihan, tidak pula menyuruh Dine pulang. Kalimatnya berhenti pada fakta, dan justru itu yang membuat Dine bisa meletakkan kunci.
Sore itu, di sela dua pasien, Dine membuka video rumah sekali lagi dan melihat Dea tidur dengan tangan terangkat di sisi kepala. Ia menutup layar dan kembali ke ruang periksa. Perlahan jeda antara satu pemeriksaan ponsel dan berikutnya melebar: sepuluh menit, lalu setengah jam, lalu satu jam penuh tanpa ia sadari.
Dine menyelesaikan pemeriksaan pasien sebelum pulang sesuai jadwal, seekor kucing tua dengan gigi yang harus dicabut dan seekor anjing yang pemiliknya lebih gugup daripada hewannya. Tangannya bekerja tanpa perlu diperintah. Ia merasa bersalah karena menikmati berada di klinik.
Empat jam ternyata pendek. Ia sempat mengira akan menghitung menit, tetapi yang terjadi justru sebaliknya: ia terkejut ketika perawat mengingatkan waktunya habis.
Rasa bersalah itu datang persis ketika ia sedang tertawa mendengar staf bercerita. Ia menyimpannya seharian, membawanya pulang, dan baru mengeluarkannya di ruangan terapi seminggu kemudian.
Dalam terapi, ia mengakui takut kesenangan bekerja berarti dirinya kurang mencintai Dea. Ia mengucapkannya sambil menunduk, seperti orang yang sedang mengaku salah.
"Cinta kepada anak tidak menghapus kebutuhan menjadi diri sendiri," kata psikolog.
Kalimat itu tidak langsung menyembuhkan apa pun. Dine menuliskannya di ponsel dan membacanya ulang beberapa kali dalam sebulan berikutnya, biasanya pada jam-jam ketika ia paling ingin memaki dirinya sendiri.
Dine menambah jam kerja secara bertahap, dua jam setiap dua minggu. Ia tidak langsung kembali melakukan operasi panjang; tangannya masih baik, tetapi tidurnya belum. Kepala klinik tetap memegang tanggung jawab utama meski Dine hadir, dan Dine tidak memakai kehadirannya untuk diam-diam mengambil kembali kursi itu.
Beberapa pemilik hewan bertanya kapan Dine kembali penuh. Ia menjawab jujur bahwa ia belum tahu, lalu menyebutkan nama dokter yang akan menangani mereka. Tidak ada yang pindah klinik.
Pekan-pekan itu berjalan dengan ritme yang harus dirundingkan hampir setiap hari: siapa berangkat lebih dulu, siapa menunggu perawat datang, siapa yang membatalkan rencananya kalau Dea demam. Mereka menuliskannya di kalender dapur supaya tidak ada yang merasa mengalah diam-diam.
Di Emery Holding, kebijakan cuti orang tua yang dirancang Bian mulai diterapkan. Beberapa manajer mengeluh produktivitas turun, terutama di divisi yang jadwalnya paling padat. Data enam bulan menunjukkan pergantian pegawai justru berkurang.
Angka pergantian pegawai itu tidak langsung meyakinkan semua orang. Dua manajer tetap berpendapat penurunan produktivitas lebih mahal daripada biaya merekrut. Bian meminta mereka menuliskan keberatannya, bukan menyampaikannya di lorong, supaya bisa diuji dengan data periode berikutnya.
Bian tidak menjadikan pengalaman keluarganya satu-satunya alasan kebijakan. Ia tahu betul betapa mudahnya sebuah aturan dibungkus cerita pemiliknya lalu berhenti diperiksa. Ia meminta evaluasi berdasarkan hasil pekerja, termasuk kritik dari orang tua tunggal yang merasa aturan jadwal masih sulit digunakan.
Kritik itu dibacakan lengkap dalam rapat, tanpa dihaluskan. Dua pasal diubah pada revisi berikutnya.
Bian sempat ingin membela rancangannya sendiri. Ia menahannya, karena membela rancangan di depan orang yang menanggung akibatnya hanya akan membuat orang berhenti melapor. Dine membaca berkas itu juga di rumah, dan tidak berkomentar apa pun kecuali satu hal: bagian jadwal tersebut memang sulit.
Bian menceritakan revisi tersebut di meja makan, dengan Dea di pangkuannya dan sendok bubur di tangan yang lain. Dine mendengarkan sambil makan berdiri, kebiasaan yang belum hilang.
Suatu sore, Dine membawa Dea ke Animalia setelah jam tutup. Lampu ruang tunggu sudah setengah dimatikan, lantai baru dipel, dan bunyi roda kereta bayi terdengar terlalu keras di ruangan kosong. Staf menyambut dengan gembira, berdiri melingkar, berbisik supaya bayi itu tidak terbangun. Dine melarang foto diunggah, dan ia mengatakannya di depan semua orang supaya tidak ada yang perlu menebak. Dre ikut datang dan duduk di dekat kereta bayi.
Salah seorang staf sempat menyodorkan ponsel, lalu buru-buru memasukkannya kembali ke saku sebelum diminta. Dine berterima kasih untuk gerakan itu.
"Ini dua pasien paling cerewetmu," kata Bian.
"Dre pasien. Dea bukan."
"Dia punya dokter anak sendiri. Aku sudah belajar."
Mereka tertawa. Suara tawa itu memantul di dinding klinik yang biasanya hanya menampung suara cemas.
Sebelum pulang mereka duduk sebentar di kursi ruang tunggu, tempat yang selama bertahun-tahun hanya Dine lihat dari sisi seberang meja.
Saat akan pulang, Dine melihat papan nama klinik yang dibangun orang tuanya. Catnya sudah pudar di bagian bawah, huruf terakhirnya sedikit miring sejak dulu, dan tidak ada yang pernah berniat memperbaikinya. Ia pernah takut pernikahan, kehamilan, dan anak akan menghapus hidup tersebut. Nyatanya, hidupnya bertambah rumit tanpa harus kehilangan bagian lama.
Ia berdiri di sana barangkali sepuluh detik. Cukup lama untuk mengingat ayahnya mengunci pintu ini setiap malam dengan urutan yang selalu sama.
Klinik itu pernah menjadi satu-satunya tempat yang ia pertahankan mati-matian ketika semua hal lain di hidupnya berubah. Kini tempat tersebut berjalan sebagian tanpa dirinya, dan anehnya ia tidak merasa dibuang.
Dea terbangun dan menangis. Dine tidak langsung menggendong; ia bertanya kepada Bian siapa yang mendapat giliran. Dulu pertanyaan seperti itu akan terasa seperti menghitung untung rugi. Sekarang ia tahu, rumah yang tidak punya giliran akan selalu menumpuk pada satu orang.
"Aku," jawab Bian sambil mengangkat putrinya.
Ia mengangkatnya dengan gerakan yang sudah tidak canggung lagi, satu tangan menopang kepala, satu tangan di punggung, dan Dea berhenti menangis sebelum mereka sampai ke pintu.
Mereka berjalan keluar bersama. Dine membawa tas medis, Bian membawa Dea, dan Dre berada dalam kandang. Tidak ada satu orang yang memikul semuanya.