Ketika Dea berusia enam bulan, sebuah foto wajahnya muncul di media sosial. Dine mengetahuinya dari pesan seorang staf klinik pada pukul tujuh pagi, sebelum ia sempat minum apa pun. Foto itu diambil saat Dine membawa Dea ke taman: bayi itu duduk disangga di pangkuannya, mulutnya terbuka, dan di latar belakang terlihat papan petunjuk yang menampilkan lokasi secara jelas.
Dine memperbesar gambar itu dengan dua jari, lalu memperkecilnya lagi, lalu memperbesarnya sekali lagi. Yang ia lihat bukan hanya wajah anaknya. Ia melihat jam, arah bayangan, jalur masuk taman, dan seberapa mudah orang lain menghitung kapan mereka biasanya berada di sana.
Ia menghitung berapa kali ia pernah membawa Dea ke taman itu. Enam kali. Selalu hari Selasa, selalu setelah pukul sepuluh, selalu di bangku yang sama karena bangku tersebut paling teduh. Kebiasaan yang ia pilih demi kenyamanan ternyata juga bisa dibaca orang lain sebagai jadwal.
Dine marah serta takut, dan kedua rasa itu datang bersamaan sehingga tangannya dingin sementara lehernya panas. Bian meminta tim keamanan menelusuri pengunggah, tetapi kali ini ia memberi tahu Dine sebelum bergerak.
Dulu ia akan menyelesaikannya lebih dahulu dan melapor sesudahnya, dengan alasan melindungi. Kali ini ia meletakkan ponsel di meja, mengatakan apa yang akan dimintanya kepada timnya, lalu menunggu jawaban istrinya. Menunggu itu tampak sederhana. Dine tahu itu tidak sederhana bagi Bian.
Dine menyadari ia sedang diminta memutuskan sesuatu yang tidak ia inginkan sejak awal: seberapa jauh rumahnya boleh berubah menjadi sistem keamanan. Ia menjawab ya untuk penelusuran, dan tidak untuk hal-hal lain yang belum ditanyakan.
Pengunggahnya bukan wartawan atau pelaku ancaman. Ia seorang pengunjung taman, perempuan yang sedang menemani keponakannya, yang mengenali Dine dari acara yayasan dan menganggap foto tersebut tidak berbahaya. Ia menulis keterangan yang ramah dan tidak menyadari bahwa keramahan tidak menghapus alamat.
Tim hukum meminta unggahan dihapus tanpa menuntut. Suratnya pendek dan tidak mengancam; Dine membacanya sebelum dikirim dan mencoret satu kalimat yang menurutnya terlalu keras. Perempuan itu meminta maaf dalam waktu satu jam, tetapi salinannya sudah menyebar ke akun-akun lain yang tidak punya alamat untuk dikirimi surat.
Dua hari berikutnya Dine berhenti membuka kolom komentar. Ia sempat membacanya sekali dan menemukan orang-orang asing memperdebatkan bentuk hidung anaknya.
Itu bagian yang paling sulit diterima Dine: ada kerusakan yang tetap berjalan meski semua orang bersikap baik.
Ia sempat mengira kemarahannya akan reda setelah unggahan itu hilang. Ternyata tidak. Yang tersisa bukan marah kepada seseorang, melainkan kesadaran bahwa anaknya lahir ke dalam hidup yang sebagian sudah menjadi milik orang banyak sebelum ia sempat memilih. Bian tidak menyanggah perasaan tersebut dan tidak mencoba memperbaikinya dengan janji. Malam itu mereka membiarkan lampu ruang tamu menyala lebih lama daripada biasanya.
Dewan Emery menyarankan merilis foto resmi agar gambar paparazi kehilangan nilai. Argumennya rapi, disampaikan dengan grafik: sekali wajah itu tersedia secara sah, harga jual foto curian akan jatuh. Dine menolak menjadikan wajah Dea produk komunikasi.
Ia menolak di ruangan itu juga, bukan lewat Bian, dan ia menyebutkan alasannya satu per satu supaya tidak dianggap sekadar reaksi ibu yang panik.
"Kalau suatu hari Dea ingin tampil, itu pilihannya," katanya.
Beberapa anggota dewan menerima. Satu orang berpendapat Dine sedang membuat pekerjaan humas menjadi lebih sulit. Bian menutup rapat dengan mengatakan bahwa pekerjaan humas memang tidak lebih penting daripada wajah anak berusia enam bulan.
Bian setuju, meski tahu perlindungan penuh mustahil. Ia sudah cukup lama hidup di bawah pengawasan untuk memahami bahwa yang bisa dibeli hanyalah waktu dan gesekan, bukan kekebalan. Mereka memperketat kebiasaan lokasi tanpa mengurung anak di rumah: berhenti menandai tempat, berhenti memakai jalur yang sama setiap pekan, memastikan tidak ada yang mengunggah apa pun secara langsung. Dine tetap mengajak Dea ke taman, dengan waktu berbeda dan tanpa pengamanan yang mencolok.
Rumput di pagi hari basah dan lebih sepi. Dea suka bunyi daun. Itu tidak akan diserahkan Dine kepada siapa pun.
Pengamanan tetap ada, hanya dipindahkan ke belakang: satu orang di kejauhan, mobil yang diparkir tidak di depan pintu, nomor yang bisa ditekan sekali. Dea tidak akan pernah tahu bahwa hal itu ada, dan justru itulah maksudnya.
Perselisihan muncul ketika Bian ingin semua pengasuh menandatangani perjanjian kerahasiaan yang sangat ketat. Draf pertamanya setebal sebelas halaman, memuat denda besar, dan melarang pengasuh membicarakan apa pun yang terjadi di dalam rumah kepada pihak mana pun. Dine membacanya dua kali di meja makan, dengan pensil di tangan.
Dine menyetujui perlindungan data, tetapi meminta klausul yang tetap memungkinkan pengasuh melaporkan pelanggaran atau kondisi berbahaya.
"Kerahasiaan tidak boleh membungkam orang yang merawat anak kita," katanya.
Bian sempat berkeras bahwa kebocoran sekecil apa pun bisa menjadi pintu. Dine menjawab bahwa pintu yang dikunci dari dalam juga menahan orang yang ingin keluar meminta tolong. Mereka berdebat sekitar setengah jam, tanpa suara yang meninggi, dan berhenti ketika Dea terbangun.
Dokumen direvisi oleh pengacara independen, bukan pengacara Emery, atas usul Bian sendiri.
Pengasuh yang paling lama bekerja membaca versi barunya, bertanya dua hal, lalu menandatangani. Ia bercerita pernah bekerja di rumah lain yang melarangnya berbicara, dan ia memilih keluar dari sana.
Di rumah, Dea mulai berguling dan tertawa ketika Dre berjalan melewati selimutnya. Kucing itu berjalan sengaja lambat, ekornya tegak, seolah tahu dirinya sedang menjadi pertunjukan. Bian ingin merekam setiap momen; ponselnya terangkat sebelum tawa itu selesai. Dine mengingatkan tidak semua kenangan perlu disimpan di penyimpanan daring.
Tawa Dea baru berbunyi seperti tawa sejak dua minggu terakhir; sebelum itu hanya embusan pendek. Bian merekamnya sekali lagi meski sudah ada tiga rekaman yang sama di ponselnya.
Dine mengingatkan tanpa nada menghakimi. Ia sendiri pernah kehilangan seluruh isi ponsel dan tidak merasa kehilangan apa pun yang penting; yang ia ingat justru hal-hal yang tidak sempat difoto.
Mereka membeli kamera sederhana yang tidak terhubung internet dan mencetak beberapa foto untuk album keluarga. Kertas cetaknya berbau kimia samar. Album itu bersampul kain, tebal, dan berat di pangkuan.
Mereka menyimpan album tersebut di rak bawah, sejajar dengan buku-buku yang sering dibuka, bukan di lemari terkunci.
Pada halaman pertama, Dine menulis bahwa foto tersebut milik Dea dan kelak ia boleh memilih mana yang ingin dibagikan. Tulisannya kecil, dengan pena hitam, tanpa hiasan.
Bian membaca kalimat itu, mengangguk, dan tidak menambahkan tanda tangannya sendiri di bawahnya.
Anak itu belum dapat membaca, tetapi orang tuanya mulai melatih diri menghormati keputusan sebelum ia mampu mengucapkannya.