Masa jabatan Dine sebagai ketua program nasional yayasan berakhir pada rapat pleno yang digelar di aula sederhana dengan kursi lipat dan proyektor yang harus dipukul pelan supaya menyala. Banyak anggota meminta ia melanjutkan karena program vaksinasi berhasil menjangkau lebih banyak daerah.
Angka-angkanya memang enak dilihat. Tiga tahun lalu program itu hanya berjalan di sebelas kabupaten; sekarang empat puluh dua, sebagian di pulau yang bahkan tidak punya klinik hewan tetap.
Dine tahu betul bagian mana dari angka itu yang rapuh. Empat belas kabupaten masih bergantung pada satu relawan yang membawa kotak pendingin dengan sepeda motor. Kalau orang tersebut berhenti, program di sana ikut berhenti.
Dine menolak periode kedua. Ia menyiapkan penolakannya jauh hari, menulisnya di kertas supaya tidak melunak saat melihat wajah orang-orang yang memintanya bertahan. Ia mengusulkan dokter muda dari Makassar bernama Sinta Rahadi.
Ruangan menjadi ramai oleh suara rendah. Beberapa anggota khawatir nama Sinta tidak cukup terkenal untuk menarik donatur. Ada yang menyebut donatur besar hanya mau berfoto dengan orang yang wajahnya sudah mereka kenal.
Sinta hadir di ruangan itu dan mendengar semuanya. Ia tidak membela dirinya sendiri, hanya mencatat. Dine menghargai sikap tersebut lebih daripada pidato mana pun.
Dine berdiri sebentar sebelum menjawab, memberi waktu bagi dirinya sendiri untuk tidak menjawab dengan kesal.
"Kalau program hanya bertahan karena nama saya atau hubungan saya dengan Emery, berarti sistemnya gagal," kata Dine.
Pemilihan berlangsung terbuka, dengan penghitungan di depan semua orang, dan Sinta terpilih dengan selisih yang tidak tipis. Perempuan itu berterima kasih dalam dua kalimat, lalu langsung menanyakan berkas anggaran. Dine tetap menjadi penasihat selama masa transisi tanpa hak membatalkan keputusan ketua baru, batas yang ia minta sendiri untuk ditulis supaya tidak ada yang perlu sungkan.
Malam setelah pemilihan, Dine pulang dan mendapati rumah sudah gelap. Ia duduk di dapur dengan segelas air, menunggu rasa lega yang ia bayangkan akan datang. Yang datang justru semacam kekosongan yang tenang, seperti ruangan yang baru dikosongkan perabotnya.
Keputusan pertama Sinta adalah memindahkan sebagian anggaran dari acara Jakarta ke pelatihan daerah. Dine awalnya tidak setuju karena acara tersebut sumber donasi besar, dan karena ia yang membangun acara itu dari nol delapan tahun lalu, ketika belum ada yang mau datang.
Ia sempat mengetik pesan panjang, membacanya ulang, lalu menghapusnya. Yang ia kirim akhirnya hanya permintaan waktu lima belas menit dalam rapat berikutnya.
Ia menyampaikan data: jumlah donatur baru per acara, biaya penyelenggaraan, dan perbandingan tiga tahun terakhir. Ia menyampaikannya sebagai penasihat, bukan sebagai pemilik. Lalu ia menerima ketika dewan memilih rencana Sinta.
Menerima itu tidak berlangsung mulus di dalam kepalanya. Selama dua pekan ia menunggu kabar buruk dengan cara yang hampir menyerupai mengharapkannya. Enam bulan kemudian, jumlah relawan daerah meningkat dan donasi tidak turun sebanyak yang dikhawatirkan.
Sinta mengirim laporan setiap bulan tanpa diminta, dan tidak sekali pun menutupi bagian yang meleset. Pelatihan di dua provinsi gagal terlaksana karena masalah izin, dan itu ditulis di halaman pertama.
Dine membaca laporan itu di meja dapur, biasanya pagi-pagi sebelum rumah bangun. Ia menandai dua tiga hal yang ingin ditanyakan, lalu menghapus separuhnya sebelum mengirim, karena separuh itu ternyata hanya keinginan untuk ikut memutuskan.
Dine merasakan bangga sekaligus kehilangan, dan ia berhenti berpura-pura kedua hal tersebut tidak bisa hadir bersamaan. Selama bertahun-tahun dirinya selalu menjadi orang yang dicari saat ada masalah. Ponselnya berbunyi pada jam berapa pun, dan ia mengeluhkannya sambil diam-diam merasa dibutuhkan.
Sekarang ponsel itu lebih sepi. Sepi yang ia pilih sendiri, yang tetap saja terasa seperti kursi yang dipindahkan dari ruangan.
Dea belajar duduk pada bulan yang sama. Dine sadar sebagian rasa kehilangannya tertutup begitu saja oleh hal-hal kecil yang menuntut hadir sekarang, bukan besok.
Bian mengenali perasaan itu tanpa perlu dijelaskan. Ia juga sedang mengurangi keterlibatan harian di Emery dan memberi kewenangan lebih besar kepada direktur operasional. Beberapa keputusan kini sampai kepadanya sebagai laporan, bukan sebagai pertanyaan.
"Kita pandai membangun penerus, tapi buruk saat mereka benar-benar meneruskan," katanya.
Dine tertawa pendek karena kalimat itu terlalu tepat untuk dibantah. Tawanya berhenti cepat. Kalimat tersebut juga berlaku untuk hal-hal lain yang belum mereka bicarakan. Di luar, hujan turun tipis dan tidak ada yang berniat menutup jendela.
Mereka membicarakannya lebih panjang malam itu, dua orang yang sama-sama terbiasa menjadi tempat berhenti bagi masalah orang lain, sekarang belajar menjadi tempat yang boleh dilewati.
Dine kembali memusatkan perhatian pada praktik dokter dan pendidikan pemilik hewan. Ia menemukan bahwa dirinya paling betah di ruang periksa, menjelaskan hal yang sama untuk keseratus kalinya kepada orang yang baru pertama kali mendengarnya. Ia mulai menulis panduan perawatan hewan untuk keluarga dengan anak kecil, terinspirasi hubungan Dre dan Dea.
Ada kepuasan aneh dalam pekerjaan yang tidak diumumkan siapa pun: seekor anjing yang berhenti pincang, seorang pemilik yang akhirnya mengerti kenapa obatnya harus dihabiskan. Tidak ada rapat, tidak ada notulen, tidak ada yang perlu difoto.
Isi panduan itu hal-hal yang jarang ditulis di buku: cara mengenali kucing yang sedang tidak ingin disentuh, batas ruangan yang perlu dibuat, tanda alergi pada bayi, dan kapan seekor hewan justru harus dilindungi dari anak, bukan sebaliknya. Dine menulisnya pada malam hari, sepotong-sepotong, sering berhenti di tengah kalimat karena Dea terbangun.
Animalia menerbitkan panduan itu secara gratis, dalam bentuk unduhan dan lembaran cetak yang ditaruh di ruang tunggu. Emery Food menawarkan sponsor dengan angka yang cukup untuk mencetak puluhan ribu eksemplar. Dine memilih pendanaan koperasi agar isi tidak dikaitkan dengan produk tertentu.
Koperasi tersebut mensyaratkan panduannya boleh dicetak ulang siapa saja selama isinya tidak diubah. Dine menandatanganinya tanpa ragu.
Ia menjelaskan alasannya kepada Bian di dapur, siap berdebat. Bian tidak tersinggung. Ia justru meminta timnya memakai panduan tersebut dalam pelatihan internal tanpa menambahkan logo, dan meminta bagian hukum memastikan tidak ada satu pun berkas perusahaan yang mengesankan panduan itu milik Emery.
Dine sempat menunggu Bian menyinggung soal sponsor tadi di lain hari, karena begitulah kebiasaan lama mereka: hal yang tidak selesai akan muncul lagi. Kali ini tidak muncul.
Beberapa bulan kemudian panduan tersebut dicetak ulang oleh dua klinik di kota lain, dengan nama Animalia tetap tercantum di bawah dan nama Dine di halaman dalam, kecil. Ia menyimpan salinan pertamanya di rak yang sama dengan album foto keluarga.
Dine mundur dari kursi ketua, tetapi tidak kehilangan pengaruh. Pengaruhnya berubah dari kendali menjadi pengetahuan yang dapat dipakai orang lain.