Setelah dua tahun tidak berkomunikasi, Dine menerima surat dari Banan melalui notaris. Amplopnya cokelat, tebal karena kertas pengantar kantor notaris, dan diserahkan dengan tanda terima yang harus ia tandatangani di depan pintu. Untuk beberapa detik ia berdiri memegang amplop itu sambil memangku Dea yang sedang menarik-narik kerah bajunya.
Ia membukanya di dapur, berdiri, dengan pisau roti karena tidak ada benda lain yang cukup dekat. Tulisan tangan Banan tidak berubah: huruf-huruf yang miring ke kanan, jarak antar kata yang terlalu lebar.
Banan menulis bahwa anjing yang dahulu dibawanya ke Animalia kini sehat dan menemaninya tinggal di kota baru. Ia menyebut usia anjing itu, jenis makanannya, dan kebiasaannya tidur di dekat pintu. Detail-detail yang hanya masuk akal ditulis kepada seorang dokter hewan.
Dine ingat anjing tersebut. Ia ingat bunyi napasnya yang berat di meja periksa, dan ia ingat siapa yang berdiri di sisi lain meja malam itu. Ingatan datang lengkap dengan bau ruangan, seperti biasanya ingatan bekerja.
Ia tidak meminta bertemu. Tidak ada nomor telepon, tidak ada alamat balasan selain kantor notaris. Ia hanya mengabarkan telah menikah secara sederhana dengan seorang perempuan yang mengetahui seluruh masa lalunya.
Kalimat terakhir itu ditulis tanpa penjelasan tambahan, dan justru karena tanpa penjelasan, Dine tahu itu benar. Orang yang berbohong biasanya menerangkan lebih banyak.
Dine terkejut bukan karena masih menginginkan Banan, melainkan karena bagian hidup yang pernah hampir menjadi miliknya kini benar-benar bergerak ke arah lain. Ada rumah di kota yang tidak ia ketahui namanya, ada perempuan yang tidak ia kenal, ada anjing yang pernah ia jahit lukanya sendiri, dan semuanya berjalan tanpa dirinya.
Ia duduk lama di kursi dapur. Dea menjatuhkan sendok plastik dua kali dan tertawa dua kali, dan Dine memungutnya dua kali, dan di sela itu ia menyadari bahwa dadanya tidak sakit. Yang ada hanya rasa aneh seperti melihat foto rumah lama yang sudah dicat orang lain.
Ia sempat berpikir untuk tidak menceritakannya kepada siapa pun, dan pikiran itu sendiri yang membuatnya waspada. Dulu diam adalah cara mereka menabung masalah.
Ia menaruh surat itu di meja makan, terbuka, menghadap ke atas. Membiarkannya terlihat terasa lebih jujur daripada menyodorkannya nanti dengan penjelasan yang sudah disusun rapi.
Ia memberi tahu Bian malam itu juga, sebelum makan malam, karena ia tahu apa yang terjadi pada hal-hal yang disimpan sebentar lalu menjadi terlalu berat untuk dikeluarkan. Ia menyerahkan surat jika suaminya ingin membaca. Bian menolak.
Ia menolak dengan gelengan pelan, tangannya tetap di meja, tidak menyentuh kertas itu sama sekali.
"Surat itu ditujukan kepadamu. Kamu boleh menceritakan bagian yang ingin dibagikan."
Bian bertanya satu hal saja: apakah Dine baik-baik saja. Bukan apa isinya, bukan apa yang akan dilakukannya.
Dine sempat menawarkan surat itu sekali lagi keesokan pagi, dan jawabannya sama. Ia akhirnya menceritakan isinya sendiri, hampir seluruhnya, sambil mencuci piring.
Dine memilih membalas satu kalimat melalui notaris: semoga kalian membangun hubungan dengan kejujuran yang dahulu tidak kita miliki.
Ia menulis ulang kalimat tersebut empat kali sebelum puas. Versi pertama terlalu panjang dan berisi penjelasan tentang dirinya sendiri yang tidak diminta siapa pun. Yang ia kirim akhirnya tidak memuat kata maaf, tidak juga kata terima kasih. Hanya harapan, yang memang satu-satunya hal yang pantas dikirimkan kepada orang yang tidak lagi menjadi urusannya.
Notaris mengonfirmasi pengiriman tiga hari kemudian lewat surel berisi satu paragraf. Tidak ada balasan sesudah itu, dan Dine tidak menunggunya.
Bian mengakui ada rasa cemburu ketika Dine membalas. Ia mengatakannya terus terang, di ruang keluarga, dengan Dea yang sudah tidur di kamar sebelah. Namun ia tidak menjadikan perasaan itu larangan.
"Aku takut surat itu membuka sesuatu," katanya.
"Membuka kenangan, iya. Bukan keinginan kembali."
Mereka membicarakan perbedaan tersebut sampai lewat tengah malam, pelan-pelan, dengan lampu yang tidak dinyalakan penuh. Dine tidak menjanjikan tak pernah memikirkan Banan; janji seperti itu hanya akan membuatnya berbohong di kemudian hari, dan mereka sudah pernah membayar mahal untuk kebohongan yang dianggap kecil. Masa lalu bukan berkas yang dapat dihapus, tetapi tidak lagi menentukan pilihannya.
Bian mendengarkan sampai selesai, lalu mengakui bahwa yang ia takutkan sebenarnya bukan Banan, melainkan dirinya sendiri yang dahulu merasa harus mengendalikan segalanya agar tidak kehilangan. Kali ini ia memilih bertanya, dan bertanya ternyata cukup.
Dine mengulurkan tangan dan menepuk lutut suaminya sekali, gerakan kecil yang tidak berarti apa-apa bagi orang lain. Mereka tidur lewat pukul satu, dan tidak ada yang merasa perlu menutup percakapan itu dengan kesimpulan. Dea tidak terbangun sekali pun malam itu.
Pada minggu yang sama Orin mengirim undangan seminar rehabilitasi satwa. Undangannya resmi, dicetak, dikirim ke alamat klinik, bukan ke rumah. Ia akan berbicara tentang etika kerja serta penyalahgunaan akses.
Dine membaca judul sesi itu dua kali. Ia memilih tidak hadir langsung, sebab kehadirannya akan mengubah isi ruangan dan ia tidak ingin ada yang berbisik selama Orin berbicara, tetapi menonton rekamannya setelah acara, di ruang kerja, dengan pintu tertutup.
Rekamannya berdurasi lima puluh menit. Dine menontonnya sekaligus, tanpa mempercepat bagian mana pun. Ada dua pertanyaan dari peserta di akhir sesi, dan keduanya dijawab pendek.
Orin menyebut kesalahannya tanpa membuka identitas Dine atau Banan. Ia menyebut jabatan, bukan nama; menyebut jenis akses yang disalahgunakannya, bukan orang yang dirugikan. Ia tidak menampilkan diri sebagai korban cinta. Tidak ada satu kalimat pun yang menjelaskan bahwa ia melakukannya karena perasaan tertentu.
Di layar, ia terlihat lebih tua dan berbicara lebih pelan daripada yang Dine ingat. Ada bagian ketika suaranya tersendat sedikit, lalu ia melanjutkan tanpa meminta pengertian siapa pun.
Dine tidak merasa puas, tidak juga kasihan. Yang ia rasakan lebih mirip lega yang datang terlambat bertahun-tahun.
Dine mengirim pesan singkat: saya melihat presentasimu. Terima kasih sudah tidak memakai cerita saya sebagai bahan penebusanmu.
Orin membalas terima kasih tanpa meminta lebih. Tidak ada ajakan bertemu, tidak ada penjelasan tambahan, tidak ada permintaan untuk dianggap sudah selesai.
Ada masa ketika Dine akan menganggap balasan sesingkat itu dingin. Sekarang ia membacanya sebagai tanda bahwa seseorang sudah belajar berhenti pada tempatnya.
Malam itu Dine menyimpan surat Banan dan catatan Orin dalam kotak arsip di rak paling atas, di antara berkas klinik lama dan sertifikat yang tidak pernah dipajang. Bukan tempat yang harus dibuka setiap hari. Ia menutup kotak itu tanpa upacara, lalu mematikan lampu.
Masa lalu tetap ada, tetapi tidak lagi berdiri di tengah rumah.