Karpet tebal itu sudah dipasang sejak dua bulan sebelumnya, menutupi lantai kayu ruang tengah dari sudut ke sudut, dan baru sekarang alasannya benar-benar terbukti berguna. Dea mulai berdiri sambil berpegangan ketika usia koreksinya mendekati satu tahun. Jari-jari kecilnya mencengkeram tepi sofa sampai buku-bukunya memutih, lututnya bergetar seperti ranting yang menahan angin, dan di wajahnya ada konsentrasi yang membuat siapa pun di ruangan itu ikut lupa bernapas. Cahaya sore masuk miring lewat jendela, membuat debu halus terlihat melayang di antara mereka.
Bian selalu berada satu langkah di depannya dengan tangan siap menangkap. Ia bahkan tidak sadar melakukannya. Tubuhnya bergerak lebih dahulu daripada pikirannya, kebiasaan yang tumbuh dari bulan-bulan ketika putrinya masih sekecil telapak tangan dan setiap angka di layar monitor terasa seperti vonis. Telapak tangannya mengambang beberapa sentimeter di belakang punggung Dea, mengikuti setiap goyangan, siap menutup jarak dalam sepersekian detik.
Dine memperhatikan dari ambang dapur, kain lap masih tersampir di bahunya. Ia mengenali bentuk ketakutan itu karena pernah memilikinya sendiri, dan tahu betul apa yang dilakukannya pada seorang anak kalau dibiarkan terlalu lama. Ia mendekat, berdiri di samping suaminya, lalu bicara pelan supaya Dea tidak ikut tegang. Dine meminta ia mundur sedikit.
"Kalau jatuh?" Bian tidak menoleh. Matanya tetap terkunci pada dua kaki mungil yang sedang mengukur keberanian sendiri.
"Lantainya aman. Dia perlu mencoba." Dine menyentuh punggung tangan Bian, bukan menariknya, hanya mengingatkan bahwa tangan itu boleh diturunkan.
Bian mundur. Setengah langkah dulu, lalu satu langkah penuh, dan rasanya seperti melepaskan tali pengaman di ketinggian. Dea melepaskan tangan dari sofa, mengambil satu langkah, lalu jatuh terduduk. Bunyinya tumpul di karpet, nyaris tidak terdengar. Ia terkejut, tetapi tidak menangis. Bibirnya membuka sedikit, alisnya naik, seolah sedang menghitung apa yang baru saja terjadi pada tubuhnya sendiri.
Bian langsung hendak mengangkatnya. Dine menahan lengan suaminya, cukup kuat untuk menghentikan, cukup lembut untuk tidak terasa seperti larangan. Beberapa detik itu terasa panjang bagi Bian. Ada dorongan lama di dadanya yang mengatakan bahwa membiarkan seseorang tetap jatuh adalah bentuk kegagalan. Lalu Dea bangkit sendiri, bertumpu pada telapak dan lutut, mendorong badannya ke atas dengan susah payah, dan mencoba kembali.
Beberapa hari kemudian, ia berjalan tiga langkah menuju Dre. Kucing itu sedang berbaring di petak cahaya dekat pintu, ekornya bergerak malas ke kiri dan ke kanan. Dea mendekat dengan tangan terentang dan napas tertahan. Kucing itu pergi sebelum berhasil disentuh, membuat Dea tertawa dan mengejar dengan gerakan goyah, tertawanya pecah memenuhi ruangan sampai Dine harus duduk supaya matanya tidak terlihat basah. Bian menghitung tanpa sengaja, tiga, lalu empat, lalu berhenti menghitung karena sadar ia sedang mengubah putrinya menjadi angka lagi. Ia memilih hanya melihat. Dre berhenti di ujung ruangan, menoleh sekilas, lalu duduk dengan gaya kucing yang tahu betul dirinya sedang dikejar dan diam-diam menikmatinya.
Perkembangan Dea dinilai baik menurut usia koreksi. Di ruang praktik yang berbau alkohol dan sabun bayi itu, dokter membaca catatannya lama sebelum bicara, dan Dine mendapati dirinya menghitung detik sambil menahan tas di pangkuan. Dokter tetap menyarankan pemantauan, tetapi frekuensinya berkurang. Kalimat sederhana itu mengubah cara mereka menyusun kalender selama setahun ke depan.
Dine mulai percaya pada tubuh putrinya tanpa memeriksa setiap pencapaian. Ia berhenti mencatat berapa detik Dea sanggup berdiri, berhenti membandingkan angka dengan grafik yang selalu terbuka di kepalanya. Bian juga berhenti membaca tabel perkembangan setiap malam. Tablet yang dulu menyala di sisi ranjang sampai lewat tengah malam kini tersimpan di laci, dan untuk pertama kalinya lampu kamar mereka padam sebelum pukul sebelas.
Mereka merayakan ulang tahun pertama Dea secara kecil. Tidak ada siaran media atau pesta pewaris. Tidak ada karangan bunga bernama perusahaan di beranda. Para tamu diminta tidak mengunggah foto wajah, dan permintaan itu ditulis di kartu undangan dengan kalimat sopan yang tidak bisa disalahartikan. Yang tersisa hanya suara sendok beradu dengan piring, aroma kue mentega dari dapur, dan sedikit orang yang benar-benar dikenal. Dea memakai gaun katun sederhana yang sudah dicuci dua kali sebelum hari itu, dan sepanjang sore ia lebih sering berada di lantai daripada di gendongan siapa pun. Dine sempat berdiri di dapur selama beberapa menit, sendirian, hanya untuk mendengar suara ruangan sebelah dari kejauhan: tawa, langkah kecil, seseorang menegur Dre yang naik ke meja. Setahun sebelumnya ia tidak berani membayangkan sore seperti itu.
Helena membawa hadiah saham simbolis, dibungkus map kulit yang jauh lebih rapi daripada bungkus kado mana pun di meja itu. Dine dan Bian mengingatkan bahwa seluruh aset harus masuk perwalian yang telah disepakati. Bian mengatakannya tanpa nada menantang, hanya menyebut ulang kesepakatan yang sudah hitam di atas putih. Helena menerima tanpa perdebatan. Ia mengangguk sekali, menutup map itu kembali, lalu meminta segelas teh.
Nola memberikan kotak berisi surat untuk dibuka Dea saat dewasa. Kotak kayu kecil dengan tutup geser, ringan di tangan, berbau serutan kayu baru. Di dalamnya, Nola menulis bahwa ibunya pernah takut dan tetap memilih hidup, sedangkan ayahnya pernah berkuasa dan belajar mundur satu langkah. Nola hanya membacakan ringkasannya, karena isi utuhnya memang bukan untuk telinga orang dewasa di ruangan itu.
Bian tertawa membaca ringkasannya. Tawa yang keluar sedikit terlambat, seperti orang yang baru menyadari dirinya sedang dilihat dari jarak yang jujur.
"Aku hanya dikenang karena belajar mundur?" Ia meletakkan surat itu kembali ke kotak dengan hati-hati, dua jari menahan tutupnya supaya tidak berbunyi.
"Itu pencapaian besar untukmu," jawab Dine. Ia tidak tersenyum saat mengatakannya, dan justru itu yang membuat kalimat tersebut terasa seperti pujian sungguhan.
Ketika lilin dinyalakan, ruangan meredup sebentar dan semua wajah menjadi hangat oleh nyala kecil itu. Dea lebih tertarik pada pantulan cahaya daripada kue. Ia mengulurkan tangan ke arah kilau di permukaan meja, mengejar sesuatu yang tidak bisa dipegang, dan tidak peduli sama sekali pada krim di depannya. Dine meniup lilin bersamanya, menunduk dekat pipi putrinya, membiarkan asap tipis naik di antara mereka berdua.
Satu tahun pertama tidak berakhir dengan hilangnya risiko. Malam itu masih ada obat di lemari, masih ada jadwal kontrol di kalender, masih ada malam-malam ketika Dine terbangun hanya untuk memastikan dada kecil itu naik dan turun. Ia berakhir dengan seorang anak yang dapat berdiri kembali setelah jatuh dan dua orang tua yang mulai tahu kapan mengulurkan tangan.