Ruang rapat di lantai paling atas gedung Emery selalu terlalu dingin, dan pagi itu dinginnya terasa menempel di tengkuk lebih lama dari biasanya. Dewan Emery mengusulkan Bian menjadi ketua non-eksekutif dan menyerahkan jabatan CEO kepada direktur profesional. Usulan itu dibacakan dengan tenang, disertai lampiran angka yang rapi. Perusahaan telah stabil, tetapi sebagian keluarga menganggap pengunduran itu mengkhianati warisan Abram. Dua kursi di ujung meja bahkan tidak berusaha menyembunyikan wajah mereka ketika kalimat itu selesai dibacakan. Salah satunya mendorong berkas ke tengah meja dengan ujung jari, gerakan kecil yang bicara lebih banyak daripada keberatan tertulis mana pun.
Bian sendiri takut kehilangan identitas. Ia tidak mengatakannya di ruangan itu; ia menyimpannya sampai malam, sampai rumah sepi dan yang tersisa hanya suara jam dinding. Sejak orang tuanya meninggal, memimpin Emery menjadi cara mempertahankan hubungan dengan ayahnya. Setiap keputusan besar terasa seperti percakapan yang masih bisa diteruskan dengan orang yang sudah tidak ada. Melepas jabatan itu berarti menutup satu-satunya saluran yang tersisa.
Ia sempat menghitung berapa banyak dari dirinya yang akan tersisa kalau nama jabatan itu dicabut. Suami. Ayah. Pemilik peternakan yang jarang ditengoknya. Daftar itu sebenarnya tidak pendek, tetapi tidak satu pun terasa cukup keras untuk menahan namanya berdiri sendiri, dan ia malu menyadari hal tersebut pada usianya sekarang.
Dine tidak menyuruhnya mundur demi lebih banyak waktu keluarga. Godaan itu ada, dan ia tahu persis kalimat mana yang akan bekerja kalau ia mau memakainya. Tetapi keputusan yang diambil untuk menyenangkan istri akan berbalik menjadi dendam diam-diam beberapa tahun kemudian, dan ia sudah cukup lama hidup bersama laki-laki ini untuk tahu ke mana dendam semacam itu bermuara. Ia meminta Bian menilai apa yang benar-benar diinginkan.
"Kalau kamu tetap menjadi CEO, lakukan karena pekerjaan itu masih milikmu. Bukan karena orang mati membutuhkanmu menjaganya." Dine mengatakannya sambil melipat pakaian Dea, tidak menatap suaminya, memberi Bian ruang untuk tidak menjawab saat itu juga.
Bian menjalani evaluasi kepemimpinan dan berbicara dengan pekerja, dewan, serta direktur operasional. Ia duduk di kantin pabrik dengan kemeja tanpa jas, mendengar keluhan tentang jadwal malam dan mesin tua yang sering berhenti sendiri. Ia menemukan bahwa banyak orang sudah lama menyelesaikan masalah tanpa menunggu tanda tangannya. Seorang penyelia bahkan menjelaskan sistem penggantian jadwal yang dibuat sendiri oleh timnya, sistem yang tidak pernah tercatat di dokumen mana pun dan sudah berjalan tiga tahun tanpa satu pun keluhan naik ke lantai atas. Hasilnya menunjukkan perusahaan dapat berjalan tanpa keterlibatan hariannya. Kesimpulan itu melegakan dan melukai pada saat yang bersamaan.
Ia menerima posisi ketua non-eksekutif dengan masa transisi satu tahun. CEO baru dipilih melalui proses terbuka, bukan dari keluarga Emery. Pengumumannya ditulis dalam empat paragraf pendek, tanpa satu pun kalimat yang menyebut kata warisan, karena kata itu sudah terlalu sering dipakai untuk menutup perdebatan sebelum dimulai. Bian ikut menyusun kriterianya, lalu sengaja menjauh dari tahap wawancara akhir supaya namanya tidak menjadi bayangan di ruangan itu.
Pasar bereaksi negatif selama beberapa hari. Grafik di layar berwarna merah, telepon berdering dari analis yang meminta pernyataan, dan seseorang menyarankan agar Bian muncul di televisi untuk menenangkan pemegang saham. Bian tidak membatalkan keputusan hanya untuk menenangkan harga jangka pendek. Ia menutup laptopnya lebih awal malam itu dan pergi menemani Dea mandi, mendengar suara air dan tawa yang jauh lebih nyaring daripada berita apa pun. Keesokan paginya angka itu masih merah, dan ia tetap sarapan di rumah.
CEO baru, Maya Santoso, mengambil keputusan pertama yang tidak disukai Bian: menjual salah satu unit usaha lama yang didirikan Abram karena terus merugi. Berkas usulannya tipis, dingin, dan tidak menyebut siapa pun sebagai pendiri, hanya kolom angka dan satu rekomendasi di halaman terakhir.
Bian hampir menggunakan hak dewan untuk menghalangi. Ia sudah menyiapkan argumennya, sudah menyusun urutan kalimat di kepala, dan tangannya sudah berada di gagang pintu ruang rapat. Setelah melihat data, ia menyadari penolakannya bersifat emosional. Unit itu merugi selama sembilan tahun berturut-turut, dan yang ia pertahankan bukan bisnisnya melainkan tulisan tangan ayahnya di papan nama depan. Ia meminta sejarah unit tersebut diarsipkan dan pekerja mendapat paket transisi, lalu menyetujui penjualan.
Malam setelah rapat itu, ia duduk lama di ruang kerja rumah dengan lampu meja menyala sendirian, membaca daftar nama pekerja yang terdampak sampai halaman terakhir. Ia ingin keputusan tersebut punya wajah, bukan hanya angka penghematan di baris paling bawah.
Hari terakhir sebagai CEO, Bian membersihkan ruang kerja. Ruangan itu terasa lebih besar begitu rak-raknya kosong, dan setiap langkah menghasilkan gema kecil yang belum pernah ia dengar selama bertahun-tahun di sana. Ia membawa foto orang tua dan kursi kecil tempat Dre sering tidur, kursi berlapis kain abu-abu yang bulunya sudah menempel permanen di sudut jahitan. Meja serta ruangan ditinggalkan untuk Maya, tanpa catatan tempel, tanpa pesan warisan yang diselipkan di laci. Di ambang pintu ia berhenti sekali, memandang ke belakang, dan mendapati ruangan itu sudah tidak menyimpan apa pun tentang dirinya. Sepuluh tahun ternyata muat di dalam satu kardus dan satu kursi kucing.
Di rumah, Dea menyambut dengan berjalan dua langkah sebelum jatuh ke pelukannya. Bian berlutut di lantai dengan jas masih melekat di badan, menahan berat kecil itu di dadanya, dan tidak beranjak selama beberapa saat.
"Hari ini aku kehilangan jabatan," kata Bian kepada Dine. Suaranya datar, seperti orang yang sedang memeriksa apakah kalimatnya sendiri benar.
"Kamu menyerahkannya. Bukan kehilangan." Dine duduk di lengan sofa, memandang punggung suaminya yang masih membungkuk di lantai.
"Tetap terasa kosong."
"Ruang kosong tidak selalu harus segera diisi."
Dine mengatakannya sambil menurunkan tangan ke bahu suaminya, lalu membiarkan kalimat itu berdiri sendiri tanpa penjelasan tambahan.
Bian mengangguk. Ia belum tahu kehidupan berikutnya akan berbentuk apa. Selama lebih dari sepuluh tahun, setiap paginya sudah ditentukan orang lain lewat undangan rapat, dan sekarang halaman itu putih tanpa satu baris pun. Untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu tidak membuatnya kembali bersembunyi di peternakan atau mengendalikan semua orang. Ia hanya melonggarkan dasinya, melepasnya, lalu menaruhnya di sandaran kursi.
Ia duduk di lantai bersama Dea dan Dre, membiarkan masa depan datang tanpa jabatan yang menulis namanya lebih dahulu. Lantai terasa dingin menembus celana kainnya, dan ia tidak beranjak mengambil bantal. Kucing itu naik ke pahanya seolah tempat tersebut memang selalu miliknya, dan Dea menepuk lantai dengan kedua telapak, meminta ayahnya tetap di bawah, sejajar dengan dirinya.