Minggu pertama setelah tidak lagi menjadi CEO, Bian bangun pukul lima pagi seperti biasa dan mengenakan pakaian kerja sebelum mengingat tidak ada rapat yang harus dipimpinnya. Ia sudah mengancingkan manset ketika kesadaran itu datang, dan tangannya berhenti di tengah gerakan. Di luar jendela langit masih kelabu dan burung-burung baru mulai berbunyi. Rumah sepi dengan cara yang belum pernah ia dengar pada jam segitu, karena selama bertahun-tahun jam segitu selalu berarti pintu depan yang menutup dan mesin mobil yang menyala di halaman. Ia berdiri di depan cermin lebih lama daripada yang ia mau akui. Dasi sudah tergantung di lehernya sebelum ia memutuskan tidak jadi memakainya, dan benda itu tetap menggantung di sana sepanjang pagi seperti sesuatu yang lupa dilepas.
Ia duduk di dapur sambil menatap kalender kosong. Layar tablet itu menampilkan tujuh kotak putih berderet, tanpa satu pun blok warna di dalamnya. Kopi di depannya mendingin sampai permukaannya berselaput tipis. Ia menekan tombol perbarui dua kali, seperti orang yang menunggu surat yang tidak akan pernah datang. Dine menemukan suaminya menyusun ulang rak makanan hanya untuk memiliki sesuatu yang dapat dikendalikan, menyejajarkan label toples supaya semuanya menghadap ke depan, mengelompokkan bumbu menurut ukuran. Ada tiga toples yang sudah dipindahkannya kembali ke posisi semula, bukti bahwa yang dikerjakannya bukan kerapian melainkan cara menghabiskan waktu.
"Kamu boleh bingung," katanya sambil menuang air panas ke cangkirnya sendiri, tidak sedikit pun mengomentari rak yang sudah tersusun dua kali itu.
"Aku merasa tidak berguna." Bian mengatakannya dengan punggung membelakangi Dine, dan pengakuan itu keluar lebih mudah justru karena ia tidak perlu melihat wajah istrinya.
"Jabatanmu selesai, kemampuanmu tidak hilang."
Bian tidak menjawab. Ia menutup pintu rak, memutar tubuhnya, lalu duduk di kursi seberang istrinya dan membiarkan kalimat itu bekerja tanpa dibantah.
Bian mengantar Dea ke pemeriksaan rutin dan untuk pertama kalinya hadir tanpa sambil menjawab surel. Ponselnya tetap di saku selama satu jam penuh. Benda itu bergetar tiga kali dan ia membiarkannya, dan dunia tidak runtuh. Ia menghafal nama perawat yang menimbang putrinya, memperhatikan cara Dea menarik napas ketika stetoskop menyentuh punggung kecilnya, dan menyadari bahwa selama ini ia selalu mendapat laporan tentang ruangan ini dari mulut orang lain. Setelah itu ia membawa Dre kontrol ke Animalia sebagai pelanggan biasa, duduk di ruang tunggu bersama pemilik hewan lain, mendengar gonggongan dari balik pintu dan mencium bau antiseptik yang bercampur makanan kucing. Seorang anak di kursi seberang bertanya kepada ibunya kenapa kucing di dalam kotak itu diam saja, dan Bian mendapati dirinya ikut menunggu jawabannya.
Staf masih memanggilnya Pak CEO. Panggilan itu keluar refleks, disertai anggukan hormat yang otomatis. Bian mengoreksi dengan tertawa, mengangkat tangan dan berkata bahwa gelar itu sudah berpindah pemilik, tetapi sebutan itu membuat dadanya terasa kosong setiap kali diucapkan. Ternyata namanya sendiri terdengar lebih asing daripada jabatan yang baru ia lepas. Ia mencoba memperkenalkan diri hanya dengan nama depan kepada seorang perawat baru, berhasil, lalu merasa seperti anak sekolah yang lulus ujian kecil.
Ia mempertimbangkan membangun perusahaan baru. Gagasannya datang cepat, lengkap dengan struktur dan perkiraan modal, dan selama dua malam ia hampir tidak tidur karena kepalanya kembali bekerja seperti dulu. Rasanya menyenangkan, dan justru itu yang mencurigakan. Dine menanyakan apakah keinginan itu benar-benar gagasan atau hanya cara mendapatkan jabatan kembali. Pertanyaan itu tidak dijawab malam itu, dan justru diamnya yang menjadi jawaban.
Bian menunda keputusan selama tiga bulan. Ia mengikuti program pendampingan peternak kecil sebagai relawan, tanpa menaruh nama Emery pada spanduk mana pun. Ia datang memakai sepatu bot yang sudah berlumpur sejak hari kedua, berdiri di kandang yang panas dan berbau amonia, mencatat di buku kecil karena sinyal ponsel tidak sampai ke sana.
Tidak ada yang tahu siapa dirinya selama dua minggu pertama, dan ia sengaja tidak memperbaiki keadaan tersebut. Ia dipanggil dengan nama depannya saja, disuruh memegang ember, ditegur ketika berdiri di jalur keluar sapi. Semua itu terasa aneh dan melegakan pada saat yang bersamaan.
Di lapangan, seorang peternak menolak sarannya karena Bian tidak memahami keterbatasan modal mereka. Lelaki itu bicara terus terang, tangannya menunjuk pagar kayu yang reyot, menjelaskan bahwa saran tentang sistem pakan otomatis sama saja dengan menyuruhnya membeli mobil hanya untuk pergi ke halaman sendiri. Dahulu ia mungkin menganggap penolakan itu ketidaktahuan. Ia akan mengangguk sopan, lalu tetap menjalankan rencananya karena merasa data ada di pihaknya. Kali ini ia mendengar dan membantu mencari pilihan yang lebih murah, duduk di bangku kayu selama dua jam sampai celananya kotor, menghitung ulang memakai angka yang benar-benar dimiliki orang itu. Dalam perjalanan pulang ia menyadari bahwa saran yang dipakai orang jauh lebih berguna daripada saran yang benar.
Hari-hari kosong perlahan memiliki bentuk baru. Bian memasak sarapan dengan resep yang dibacanya dari layar ponsel yang disandarkan ke toples gula, membakar telur pada percobaan pertama dan tidak mengulangi kesalahan yang sama pada percobaan keempat. Ia mengantar Dea, menghadiri rapat dewan hanya sesuai jadwal, dan belajar bahwa waktu keluarga bukan sekadar sisa pekerjaan. Yang berubah bukan jumlah jamnya, melainkan mutu perhatiannya. Dulu ia hadir dengan setengah kepala berada di tempat lain, dan anak sekecil Dea pun ternyata tahu bedanya. Kalau ia menjawab sambil menatap layar, Dea akan berhenti bicara dan pergi mencari Dre.
Suatu sore Dea menyebut "Ayah" dengan jelas. Suaranya kecil dan bulat, muncul di antara bunyi kipas dan denting mainan, dan Bian membeku di tengah ruangan seperti orang yang takut menakuti burung. Ia merekam suara kedua, bukan yang pertama, karena ponselnya tertinggal di meja di seberang ruangan dan ia memilih tidak beranjak mengambilnya.
"Kamu melewatkan momen pertama," goda Dine dari pintu, lengannya bersilang, senyumnya ditahan setengah.
"Aku tidak melewatkannya. Aku hanya tidak merekam." Bian masih menatap putrinya ketika menjawab, seolah menoleh sedikit saja akan membuat sesuatu hilang. Dea mengulanginya lagi, dua kali, lalu bosan dan kembali ke mainannya seakan tidak baru saja membelah hari ayahnya menjadi sebelum dan sesudah.
Bian akhirnya memahami perbedaan tersebut. Selama bertahun-tahun ia mengumpulkan bukti bahwa sesuatu telah terjadi, berupa laporan, notulen, arsip, dan foto, lalu menyangka itu sama dengan mengalaminya. Sore itu ia duduk di karpet tanpa sehelai dokumen pun di tangan, dan tetap merasa hari itu tercatat penuh. Tidak ada yang bisa ia tunjukkan kepada siapa pun sebagai bukti, dan untuk pertama kalinya ia tidak merasa perlu.