Enam bulan setelah menjabat, Maya Santoso menemukan kontrak lama yang memberi keluarga Emery hak khusus menunjuk pemasok tanpa tender. Berkasnya tersimpan di lemari arsip lantai dua, kertasnya sudah menguning di tepi, dan tanda tangannya berasal dari zaman ketika perusahaan masih muat di satu gedung. Ia meminta dewan menghapusnya, dan permintaan itu dikirim tanpa basa-basi pembuka. Lampirannya hanya dua halaman: salinan kontrak dan daftar tujuh pemasok yang tidak pernah sekali pun harus bersaing untuk mendapatkan pekerjaan.
Helena menolak karena kontrak itu dianggap bagian hak pendiri. Ia menyebutnya warisan, bukan keistimewaan, dan suaranya di telepon naik satu tingkat setiap kali kata tender diucapkan. Ia menyebut nama Abram tiga kali dalam percakapan yang tidak sampai sepuluh menit. Bian sebagai ketua non-eksekutif harus memimpin rapat yang dapat mengurangi kuasa keluarganya sendiri. Ia membaca berkas itu dua malam berturut-turut, mencari alasan yang membenarkan keberatan Helena, dan tidak menemukan satu pun yang bertahan setelah dibaca ulang.
Yang membuatnya sulit tidur bukan isi kontraknya, melainkan kenyataan bahwa ia sendiri pernah menandatangani perpanjangannya dua kali tanpa membaca lampiran. Waktu itu ia sedang sibuk, dan sibuk selalu menjadi alasan yang paling mudah dimaafkan oleh orang yang memegang kuasa.
Di ruang rapat, udara terasa berat sebelum siapa pun bicara. Bian meletakkan kedua tangannya di meja, memandang berkeliling, lalu memilih kalimat yang paling pendek karena kalimat panjang akan terdengar seperti pembelaan.
"Kalau pemasok keluarga memang terbaik, mereka dapat menang melalui proses terbuka," kata Bian. Tidak ada yang menjawab selama beberapa detik, dan detik-detik itu terasa jauh lebih lama daripada semestinya. Seseorang membalik halaman. Pendingin ruangan berdengung. Bian menahan diri untuk tidak menambahkan kalimat kedua, karena kebiasaan lamanya adalah mengisi kekosongan dengan tekanan.
Dewan menyetujui penghapusan hak khusus. Hasil pemungutan suara ditulis dalam satu baris notulen, dingin dan ringkas, seolah bukan sesuatu yang memutus kebiasaan puluhan tahun. Beberapa kerabat menuduh Dine memengaruhi Bian menjadi anti-keluarga, dan tuduhan itu beredar lewat pesan berantai yang tidak pernah dikirim langsung kepada orang yang dituduh. Dine mengetahuinya bukan dari mereka, melainkan dari tangkapan layar yang dikirim seorang sepupu jauh dengan niat baik yang keliru.
Dine tidak menanggapi di media. Ada wartawan yang menelepon Animalia dua kali, dan ia meminta staf mencatat nomornya lalu menutup percakapan dengan sopan. Namun saat Helena menyebutnya dalam makan keluarga, dengan piring masih penuh dan Dea baru saja diangkat ke kursi tingginya, Dine meletakkan sendoknya lebih dulu supaya suaranya tidak terdengar terburu-buru. Ia berkata, "Keputusan dewan bukan pekerjaan saya. Jangan memakai nama saya untuk menolak perubahan yang tidak Anda sukai."
Meja itu sunyi sebentar. Sendok berhenti di udara, dan seseorang di ujung meja berdeham terlalu keras. Helena tidak membalas, hanya menggeser gelasnya sedikit, dan makan malam berlanjut dengan pembicaraan yang sengaja dibelokkan ke arah lain.
Bian tidak membela istrinya di meja itu, dan diamnya disengaja. Dine tidak membutuhkan pembela; ia membutuhkan kalimatnya sendiri berdiri utuh tanpa ditopang nama Emery. Baru di dalam mobil, dalam perjalanan pulang, Bian berkata bahwa ia sempat menghitung tiga orang yang ingin menyela dan tidak satu pun berani.
Maya juga menolak permintaan Bian memasukkan program peternak kecil ke anggaran sebelum studi kelayakan selesai. Ia menyampaikannya dalam pertemuan singkat, berdiri, tanpa menghaluskan kalimat karena tahu Bian tidak menyukai kalimat yang dihaluskan. Bian kecewa, dan kekecewaan itu sempat menetap di rahangnya selama beberapa hari, tetapi ia menghormati kewenangannya. Ia tidak menelepon anggota dewan mana pun untuk mencari jalan pintas. Selama seminggu ia mengulang argumennya di dalam kepala dan mendapati argumen itu selalu kembali ke satu kalimat yang sama: karena aku yang mengusulkannya.
Studi kemudian menunjukkan program layak jika dijalankan melalui koperasi, bukan bantuan langsung. Angkanya bahkan lebih baik daripada rancangan awal Bian, karena beban pengawasan berpindah ke kelompok yang memang tinggal di sana. Gagasan Bian diperbaiki dan diterapkan tanpa menjadikannya proyek pribadi sang mantan CEO. Namanya tidak muncul di dokumen peluncuran, dan ia menyadari dirinya sanggup membaca kabar itu tanpa merasa dicuri. Kepuasan yang datang terasa lebih tenang daripada kepuasan lama, dan anehnya bertahan lebih lama. Ia menyimpan salinan studi itu di laci rumah, bukan untuk ditunjukkan kepada siapa pun, melainkan sebagai pengingat bahwa gagasan yang benar sering kali baru berguna setelah dipegang orang lain.
Hubungan Maya dan Bian sering diberitakan sebagai perebutan kendali. Judul-judul berita menyusun keduanya berhadapan, lengkap dengan foto yang diambil dari sudut yang membuat wajah mereka tampak keras. Mereka mengadakan konferensi bersama untuk menjelaskan pembagian tugas, tetapi menolak membuat pertunjukan persahabatan palsu. Tidak ada jabat tangan yang ditahan lama demi kamera, tidak ada pujian bergantian yang sudah dihafal sebelumnya. Beberapa wartawan tampak kecewa karena tidak mendapat adegan yang bisa dipotong menjadi gambar.
"Kami tidak harus selalu sepakat agar tata kelola bekerja," kata Maya di depan ruangan yang penuh, nadanya tenang, tanpa senyum tambahan.
Bian menyetujui. Ia menambahkan bahwa perbedaan pendapat yang tercatat justru lebih aman daripada kesepakatan yang dipaksakan di belakang pintu. Ia mulai menikmati posisi yang memungkinkannya memberi pandangan tanpa menjadi orang terakhir yang selalu menentukan. Ada kelegaan aneh dalam mengetahui bahwa dunia tetap berjalan setelah ia mengangkat tangan dan berhenti bicara. Dulu, keheningan sesudah pendapatnya adalah tanda bahwa masalah sudah selesai. Sekarang keheningan itu berarti orang lain sedang berpikir, dan ia belajar duduk di dalamnya tanpa gelisah.
Di rumah, Dine mengatakan perubahan itu terlihat dari cara Bian menghadapi penolakan. Mereka sedang di dapur, air keran mengalir pelan, dan Dea sudah tidur di kamar sebelah. Piring bekas makan malam masih menumpuk, dan tidak satu pun dari mereka terburu-buru menyelesaikannya.
"Dulu kamu akan mencari lima alasan kenapa orang lain salah." Dine menyandarkan pinggangnya ke meja, melipat tangan.
"Sekarang hanya dua." Bian menjawab tanpa mengangkat kepala dari piring yang sedang dibilasnya.
"Masih perlu latihan."
Mereka tertawa, pelan supaya tidak membangunkan siapa pun, dan tawa itu bertahan lebih lama daripada lelucon yang menyebabkannya. Kekuasaan tidak hilang dari hidup Bian. Ia masih punya kursi, masih punya suara, masih bisa membuat orang di ruangan menoleh hanya dengan diam. Tetapi kekuasaan itu mulai memiliki pagar yang tidak selalu dibangunnya sendiri, dan untuk pertama kalinya ia tidak merasa perlu memeriksa apakah pagar itu masih bisa dipindahkan. Ia mematikan keran, mengelap tangannya, lalu naik ke lantai atas untuk memeriksa selimut putrinya.