Hujan tipis turun sejak sore dan berhenti tepat ketika lampu ruang tengah dinyalakan. Di laci bawah lemari buku, amplop itu masih ada, sudutnya melengkung karena sudah tiga kali berpindah tempat penyimpanan. Pada ulang tahun pernikahan ketiga, Dine dan Bian membuka surat yang ditulis saat bulan madu. Kertasnya berbau kayu lemari, tintanya memudar di bagian yang dahulu terkena uap jendela. Mereka membaca bergantian, pelan, dan beberapa kali berhenti bukan karena terharu, melainkan karena kalimat mereka sendiri terdengar terlalu yakin ketika dibacakan keras-keras.
Beberapa pelajaran masih berlaku. Beberapa kesalahan bahkan telah diulang dalam bentuk berbeda. Dine membaca satu paragraf tentang janji saling memberi kabar, lalu teringat pekan lalu ketika ia pulang dua jam lebih lambat tanpa mengirim pesan apa pun. Bian menemukan barisnya sendiri tentang tidak memutuskan sendirian, dan kali ini ia tidak menyiapkan pembelaan. Mereka membiarkan kertas itu terbuka di meja, seperti cermin yang tidak bisa diajak berdebat dan tidak bisa dibujuk supaya lebih ramah.
Bian masih kadang membuat keputusan keamanan terlalu cepat. Ia memindahkan jadwal, menambah orang, mengunci sesuatu, lalu memberi tahu sesudahnya dengan alasan tidak ingin membuat Dine cemas lebih dahulu. Dine masih menahan kelelahan sampai marah, menyimpan lelah seperti utang yang bunganya baru terasa pada jam sebelas malam. Namun waktu yang dibutuhkan untuk mengakui pola itu semakin pendek. Dahulu berminggu-minggu, lengkap dengan diam yang berat. Sekarang kadang hanya satu tarikan napas dan satu kalimat pendek: aku melakukannya lagi.
Mereka merayakan di rumah setelah Dea tidur. Tidak ada restoran atau hadiah besar. Tidak ada meja yang dipesan atas nama Emery, tidak ada karangan bunga yang dikirim orang lain agar terlihat di foto. Lampu dapur menyala setengah, kipas di sudut berputar dengan bunyi berdecit tipis, dan piring yang mereka pakai adalah piring biasa yang sudah gompal di satu sisi. Bian memasak ulang menu yang dahulu terlalu asin dan kali ini rasanya dapat dimakan. Ia berdiri di dekat kompor lebih lama daripada perlu, menunggu vonis.
Dine menyuap satu sendok, mengunyah lama, lalu meletakkan garpunya seolah sedang menandatangani sesuatu.
"Kemajuan," kata Dine.
"Standarmu rendah." Bian menuang air ke gelasnya sendiri tanpa menoleh, tetapi ujung bibirnya bergerak.
"Itu membantu pernikahan."
Bian tertawa pelan, suara yang jarang ia keluarkan di luar rumah. Ia teringat dapur sempit penginapan waktu bulan madu, garam yang tumpah karena tutup toplesnya longgar, dan wajah Dine yang berusaha menelan tanpa mengubah ekspresi. Tiga tahun bukan waktu yang panjang untuk memperbaiki satu resep. Ia menerima kemenangan kecil itu tanpa merasa perlu mengecilkannya lebih dahulu, kebiasaan lama yang dulu ia pakai untuk melindungi diri dari kekecewaan yang belum tentu datang.
Piring dibiarkan di wastafel. Mereka duduk lebih lama di meja, dan pembicaraan bergerak ke arah yang sudah beberapa bulan menunggu di pinggir tanpa pernah benar-benar diajak masuk. Mereka membicarakan kemungkinan anak kedua. Dine tidak ingin hamil lagi karena pengalaman medis serta kecemasan yang menyertainya. Ia menyebutkan itu tanpa suara yang bergetar, karena sudah lama menyusun kalimatnya sendirian di kamar mandi, di mobil, di sela jadwal praktik. Tubuhnya masih menyimpan ingatan tentang ruang tindakan, dan ia tidak ingin menawarkan tubuh itu untuk kedua kalinya hanya supaya rumah terasa lebih penuh.
Bian mendengarkan sampai selesai. Ia mengaku sempat membayangkan lebih dari satu anak, meja makan yang ribut, dua suara berebut menceritakan hari mereka. Tetapi ia tidak ingin Dine mengulang risiko demi gambaran keluarganya. Ia menyebut hal itu dengan jujur, termasuk bagian yang tidak enak didengar: bahwa keinginannya lahir dari gambar di kepalanya, bukan dari kebutuhan siapa pun. Menamai keinginan itu membuatnya lebih mudah diletakkan.
Adopsi atau pengasuhan alternatif dibahas, lalu ditunda sampai Dea lebih besar. Mereka menimbang usia, kesiapan Dea, jadwal keduanya, dan sederet pertanyaan yang tidak dapat dijawab malam itu juga. Dine menyadari sebagian dari dirinya takut jawaban itu berubah suatu hari, dan justru karena itu ia tidak ingin menguncinya malam ini. Bian memikirkan hal yang mirip dari arah yang berlawanan: ia lebih takut pada pintu yang ditutup rapat daripada pada kemungkinan salah satu dari mereka berubah pikiran. Mereka tidak membutuhkan keputusan segera. Ada kelegaan tertentu dalam mengakui bahwa sebuah topik boleh dibiarkan terbuka tanpa harus ditutup dengan kesimpulan yang dipaksakan.
Hal lain yang dibicarakan adalah masa depan Animalia dan peran baru Bian. Dine ingin membentuk yayasan pendidikan atas nama orang tuanya. Ia menjelaskannya dengan hati-hati, seperti orang yang takut idenya terdengar sentimental, padahal yang ia inginkan sederhana: nama itu dipakai untuk sesuatu yang bekerja, bukan dipajang. Bian ingin terus mendampingi peternak tanpa membuat perusahaan baru. Ia sudah cukup lama memimpin sesuatu yang besar dan tahu bagaimana sebuah lembaga bisa berubah menjadi cara mengumpulkan kesetiaan.
Menjelang tengah malam mereka menulis surat berikutnya untuk dibuka lima tahun kemudian. Bian mencari pena yang masih menyala, Dine memilih kertas polos dari laci yang sama. Isinya bukan target kekayaan atau jumlah anak, melainkan pertanyaan: apakah rumah ini masih memberi ruang bagi setiap orang menjadi dirinya sendiri? Mereka membaca ulang satu kalimat itu, tidak menambah apa-apa, lalu melipatnya jadi dua.
Dea terbangun sebelum mereka selesai dan berjalan masuk sambil membawa Dre yang sebenarnya ingin melepaskan diri. Kucing itu digendong di bawah ketiak, kaki belakangnya menggantung, ekornya bergerak cepat ke kiri dan ke kanan. Dea tersenyum lebar, bangga, tidak sadar bahwa ia sedang membawa makhluk yang sedang menghitung jalan keluar.
"Dre tidak boleh diangkat begitu," kata Dine sambil membantu menurunkan kucing. Ia berlutut, menopang badan Dre dari bawah, dan menunjukkan cara memegang yang benar dengan tangan Dea diletakkan di atas tangannya sendiri.
Bian menggendong Dea, sedangkan Dine memeriksa Dre. Jari-jarinya menyusuri tulang belakang kucing itu, menekan pelan di beberapa titik, memastikan tidak ada yang tertarik atau nyeri. Dre menguap, lalu duduk di lantai membelakangi mereka semua, cara paling sopan seekor kucing menyatakan keberatan. Perayaan mereka berakhir dengan susu hangat, bulu kucing di pakaian, dan seorang anak yang menolak kembali tidur.
Dea berbicara tentang mimpinya dengan urutan yang tidak masuk akal, berpindah dari kolam ke sepatu ke burung. Bian menjawab semuanya dengan serius. Dine menyandarkan punggung ke kursi, memandang surat yang belum sempat dimasukkan ke amplop, dan merasa bahwa malam itu justru menjawab pertanyaan di dalamnya lebih baik daripada kalimat mana pun yang bisa mereka tulis.
Tiga tahun pernikahan tidak membuat hidup lebih rapi. Ia hanya membuat mereka lebih terlatih menghadapi kekacauan tanpa menyembunyikannya satu sama lain. Piring masih menumpuk, bulu masih menempel di lengan baju, seorang anak masih terjaga pada jam yang salah. Perbedaannya, tidak ada satu pun dari semua itu yang perlu disimpan diam-diam sampai pagi.