Dine mulai membentuk yayasan pendidikan dokter hewan atas nama kedua orang tuanya. Ia mengerjakannya pelan-pelan, di sela jadwal praktik, dengan tumpukan map di meja kerja yang tingginya bertambah setiap pekan. Tujuannya memberi beasiswa serta pelatihan kepada tenaga medis hewan di daerah yang minim layanan. Ia sudah beberapa kali menerima rujukan dari kota kecil yang terlambat hanya karena tidak ada yang bisa memasang infus pada anak kambing, dan angka-angka itu tidak pernah masuk laporan siapa pun.
Ia menyimpan daftar semacam itu di buku catatan yang sama sejak lama: nama desa, jarak ke klinik terdekat, jenis hewan, dan apa yang akhirnya terjadi. Beberapa baris ditulis dengan tinta berbeda karena ditambahkan pada malam yang berbeda pula. Daftar itu tidak pernah dimaksudkan menjadi bahan pidato. Fungsinya lebih sederhana dan lebih keras kepala: membuat Dine sulit meyakinkan dirinya sendiri bahwa persoalan tersebut sedang ditangani orang lain di suatu tempat yang tidak ia ketahui.
Bian menawarkan modal awal. Tawarannya tulus dan jumlahnya cukup untuk membuat yayasan berjalan sepuluh tahun tanpa mencari dana ke mana-mana. Tetapi Dine tidak ingin yayasan bergantung pada satu penyumbang. Ia menjelaskan alasannya tanpa menuduh: lembaga yang hidup dari satu tangan akan selalu memandang wajah tangan itu sebelum mengambil keputusan. Mereka menyepakati sumbangan Emery dibatasi dan dilaporkan terbuka, angkanya tercantum di laman yang dapat dibaca siapa saja tanpa perlu bertanya.
Bian sempat merasa tersinggung selama satu malam penuh. Ia mengenali rasa itu, memberinya nama di dalam kepalanya, lalu menyimpannya tanpa dilontarkan. Uangnya ditolak bukan karena berasal dari dirinya, melainkan karena jumlahnya terlalu besar bagi sebuah lembaga yang belum punya kebiasaan berdebat. Pagi berikutnya justru ia yang menyusun batas persentase itu, lengkap dengan aturan bahwa batasnya tidak boleh diubah tanpa persetujuan pengurus di luar keluarga.
Nama Yayasan Edrea memicu pertanyaan mengapa Dine tidak memakai nama Emery. Pertanyaan itu datang dari wartawan, dari kenalan lama, bahkan dari orang yang berniat baik dan menganggap ia sedang menolak sesuatu. Ia menjelaskan program itu menghormati pekerjaan orang tuanya, bukan menolak keluarga suami. Ia mengulang penjelasan yang sama berkali-kali dengan sabar, karena tahu jawaban yang tidak diulang akan digantikan oleh tebakan orang lain, dan tebakan selalu lebih menarik daripada kenyataan.
Panitia seleksi beasiswa dibentuk tanpa Dine sebagai ketua. Ia duduk di ruangan yang sama, menyediakan data, dan menahan diri ketika berkas dibacakan satu per satu. Salah satu pelamar ternyata anak staf lama Animalia, seseorang yang pernah menjaga kandang malam bertahun-tahun dan mengenal Dine sejak ia masih memakai seragam magang yang kebesaran. Dine mengundurkan diri dari penilaian kasus tersebut untuk menghindari konflik. Ia keluar ruangan, menutup pintu, dan menunggu di koridor sampai pembahasan selesai.
Di koridor itu ia berdiri lama, menghitung ubin, menahan keinginan untuk masuk sekadar menambahkan satu keterangan yang menurutnya terdengar netral. Ia tahu keterangan netral dari orang yang berkepentingan tetap memiliki berat yang berbeda di telinga panitia. Ketika pintu akhirnya dibuka, ia tidak bertanya hasilnya, dan tidak ada yang menawarkan menceritakannya.
Bian melihat proses itu dan menerapkannya pada program peternak yang ia bangun. Ia menyadari bahwa selama ini bantuan yang ia salurkan selalu punya wajahnya di ujungnya, dan orang yang menerima akan mengingat wajah itu setiap kali diminta sesuatu di kemudian hari. Ia membentuk koperasi independen agar bantuan tidak menjadi cara memperoleh kesetiaan kepada dirinya. Pengurusnya dipilih para peternak sendiri, dan namanya tidak dicantumkan di papan mana pun.
Pada peluncuran yayasan, ruangan yang dipakai adalah aula sekolah pertanian dengan kipas angin berdiri dan kursi lipat yang bunyinya bersahutan. Kipas itu berdecit setiap kali menoleh ke kanan. Bau kapur dan cat lama menempel di dinding, bercampur bau nasi kotak yang ditumpuk di meja belakang. Mikrofon sempat mendengung dua kali sebelum akhirnya stabil, dan seorang panitia muda berlari kecil membetulkan kabelnya sambil meminta maaf kepada semua orang sekaligus. Dine memperlihatkan foto laboratorium sederhana milik orang tuanya. Foto itu buram, diambil dengan kamera lama, memperlihatkan meja kayu, dua botol reagen, dan mikroskop yang catnya terkelupas di bagian pegangan. Ia tidak menceritakan mereka sebagai orang sempurna. Ada catatan lama yang menunjukkan ayahnya pernah salah mendiagnosis wabah kecil dan kemudian memperbaiki prosedur. Catatan itu ia bawa, ia buka, dan ia bacakan bagian yang paling memalukan.
Ruangan menjadi hening. Beberapa orang saling melirik, tidak terbiasa mendengar sebuah acara pembukaan dimulai dengan pengakuan kesalahan.
"Warisan bukan hanya keberhasilan," kata Dine. "Warisan juga cara seseorang bertanggung jawab ketika salah."
Ia menurunkan kertas itu dan membiarkan kalimatnya berdiri sendiri beberapa detik. Kalimat itu mengingatkannya pada Animalia, pada tahun-tahun ketika ia belajar bahwa kesalahan yang disembunyikan akan menagih bunganya di tubuh makhluk lain. Keluarga pasien yang meninggal akibat salah dosis hadir secara diam-diam. Mereka duduk di barisan tengah, tidak menyebut nama, tidak meminta waktu bicara, dan kemudian menyumbangkan buku tentang keselamatan obat. Buku itu diletakkan di meja penerima tamu tanpa kartu ucapan.
Dine mengetahui kehadiran mereka setelah acara hampir berakhir. Ia berjalan menemui mereka dengan langkah yang terasa lebih berat daripada seluruh sesi bicara tadi. Ia tidak menganggap kehadiran mereka sebagai pengampunan penuh. Tidak ada yang berhak menerjemahkan kesediaan duduk di ruangan yang sama menjadi kalimat bahwa semuanya sudah selesai. Ia berterima kasih dan memastikan rekomendasi mereka masuk pelatihan, tercantum sebagai bahan wajib, bukan lampiran yang bisa dilewati kalau waktunya mepet.
Yayasan Edrea dimulai tanpa gala besar. Tidak ada pita, tidak ada panggung tinggi, tidak ada daftar tamu kehormatan yang disebut satu per satu. Konsumsinya nasi kotak dan teh dalam gelas plastik. Para penerima beasiswa pertama duduk bersama staf, dokter, dan peternak di kursi yang sama tanpa pembagian barisan. Beberapa dari mereka datang dengan tas ransel yang masih basah karena menembus gerimis dari terminal.
Dea berlari di antara kursi sampai Bian mengajaknya keluar. Suara langkah kecilnya sempat mengisi jeda ketika seorang penerima beasiswa gugup membaca sambutan singkat, dan itu justru membuat suasananya lebih longgar. Di halaman, Bian menunjuk pohon dan burung, membiarkan anak itu membuang tenaga yang tidak muat di dalam aula.
Dine berdiri di pintu, memandang ruangan itu dari belakang. Ia memikirkan meja kayu di foto tadi, dua botol reagen, mikroskop yang catnya terkelupas. Nama orang tua Dine hidup kembali bukan sebagai gedung megah, melainkan kesempatan bagi orang lain belajar dari keberhasilan serta kesalahan mereka. Itu bentuk yang lebih rapuh, membutuhkan perawatan tiap tahun, tidak bisa difoto sekali lalu ditinggalkan. Dine memilihnya justru karena alasan itu.