Ketika Dea memasuki usia sekolah, beberapa sekolah elite menawarkan tempat tanpa proses seleksi. Surat-suratnya datang dalam amplop tebal berlogo timbul, disertai nomor telepon langsung ke kepala sekolah. Ada yang menelepon Bian di kantor. Ada yang mencari jalan lewat kenalan keluarga. Mereka tertarik pada nama Emery dan kemungkinan sumbangan, dan tidak satu pun dari surat itu menanyakan bagaimana anaknya, apa yang ia sukai, atau apa yang membuatnya takut.
Bian membaca surat-surat itu di meja makan pada satu malam, satu per satu, lalu menumpuknya kembali dengan rapi seperti berkas kantor. Ia mengenali nadanya karena ia sendiri pernah menulis surat semacam itu untuk kepentingan yang berbeda. Yang membuatnya berhenti bukan besarnya penawaran, melainkan kesadaran bahwa Dea baru berumur enam tahun dan sudah punya harga di mata orang yang belum pernah bertemu dengannya sekali pun.
Dine serta Bian menolak jalur khusus. Mereka mengisi formulir seperti orang lain, mengantre pada hari wawancara, dan duduk di kursi plastik bersama orang tua yang membawa map berisi fotokopi. Mereka memilih sekolah yang dekat rumah, memiliki kebijakan privasi, dan tidak menuntut orang tua tampil dalam promosi. Halamannya kecil, catnya kusam di beberapa bagian, tetapi gurunya menyebut nama anak-anak tanpa membaca daftar lebih dahulu.
Dine sempat bertanya kepada dirinya sendiri apakah pilihan itu diambil demi Dea atau demi membuktikan sesuatu kepada keluarga besar. Ia memeriksa pertanyaan tersebut beberapa kali pada hari yang berbeda dan akhirnya menerima bahwa keduanya bercampur. Yang bisa ia lakukan hanyalah memastikan alasan yang pertama tetap lebih berat ketika keputusan benar-benar diambil, dan mengakui yang kedua tanpa berpura-pura tidak ada.
Pada hari pertama, halaman sekolah penuh suara. Dea menangis dan memegang kaki Bian. Tangannya mengunci di lipatan celana, wajahnya ditempelkan, dan tangisnya bukan tangis rewel melainkan tangis yang dalam dan tidak bisa dinegosiasi. Dine hampir membawanya pulang. Ia sudah menyusun alasan yang masuk akal di kepalanya: mungkin terlalu dini, mungkin bulan depan lebih baik. Tetapi guru meminta mereka memberi waktu.
"Kalau setelah satu jam dia tetap tidak tenang, kami hubungi," katanya. Guru itu berjongkok setinggi Dea, tidak menarik tangan anak itu, hanya menunggu di samping sampai genggaman pada celana Bian mengendur dengan sendirinya.
Bian dan Dine menunggu di kedai dekat sekolah. Kedai itu berbau roti panggang dan minyak yang dipakai berulang. Seorang pelayan mengelap meja sebelah dua kali karena tidak ada pekerjaan lain pada jam itu. Kopi mereka dingin tanpa diminum. Bian meletakkan ponsel menghadap ke atas di meja dan tidak menyentuhnya selama lima puluh menit penuh. Dine menghitung kendaraan yang lewat, lalu berhenti menghitung, lalu mulai lagi tanpa sadar. Setiap kali layar ponsel di meja menyala karena pesan biasa, keduanya menoleh bersamaan, lalu sama-sama berpura-pura tidak menoleh. Tidak ada panggilan. Saat dijemput, Dea bercerita tentang cat, pasir, dan seorang teman bernama Rafi, semuanya dalam satu kalimat panjang tanpa jeda bernapas.
Masalah muncul seminggu kemudian ketika orang tua murid memotret Bian di gerbang. Bian sedang membungkuk membetulkan tali sepatu Dea, dan foto itu diambil dari seberang jalan tanpa ia sadari. Grup sekolah ramai membahas kekayaan keluarga Dea, lengkap dengan tangkapan layar berita lama dan angka yang dikutip tanpa sumber. Seorang anak kemudian berkata kepada Dea bahwa ayahnya memiliki semua makanan di toko.
Dea pulang dan bertanya apakah dirinya juga memiliki toko. Ia bertanya sambil melepas sepatu, ringan, seolah menanyakan cuaca besok. Bian meletakkan tasnya, duduk di lantai supaya tingginya sama, dan tidak menjawab dengan bercanda.
"Tidak," jawab Bian. "Ayah memiliki bagian dari perusahaan, tapi banyak orang bekerja dan memiliki peran di sana."
Dea memikirkannya sambil menarik kaus kaki sebelah kanan yang tersangkut di tumit.
"Dea nanti punya?"
"Kalau sudah besar, Dea boleh memilih."
Anak itu menerima jawaban tersebut seperti menerima informasi biasa, lalu pergi mencari air. Dine yang mendengar dari dapur menahan diri untuk tidak menambahkan apa pun. Ia tahu keinginan menjelaskan lebih panjang biasanya lahir dari kecemasan orang dewasa, bukan dari pertanyaan anak yang sebenarnya sudah selesai.
Sekolah mengingatkan orang tua mengenai larangan foto, tanpa menyebut siapa pelanggar. Pesannya dikirim ke semua orang, isinya pendek, dan tidak berisi ancaman. Bian tidak meminta anak orang tersebut dikeluarkan. Ia sempat merasakan dorongan lama itu naik, dorongan untuk menutup masalah dengan cara yang cepat dan menyakitkan, dan ia mengenalinya sebagai kebiasaan bertahun-tahun yang dulu selalu berhasil. Ia membiarkannya lewat. Yang ia lakukan hanya berhenti mengantar sampai gerbang selama beberapa minggu, lalu kembali seperti biasa.
Dine memperhatikan perubahan kecil itu dan memilih tidak berkomentar. Ia tahu menahan diri memakan tenaga, dan tenaga semacam itu tidak akan terlihat oleh siapa pun kecuali orang yang mengeluarkannya. Ia hanya mengambil alih antar-jemput selama masa itu tanpa membicarakan alasannya, dan Bian menerima pembagian tersebut tanpa bertanya.
Di kelas, Dea lebih tertarik menjadi dokter kucing seperti ibunya daripada pemilik perusahaan. Ia menggambar kucing di sampul bukunya, membawa cerita tentang hewan ke meja makan, dan bertanya mengapa kucing tidak bisa disuruh membuka mulut sendiri. Dine tidak merayakan pilihan itu sebagai kemenangan atas keluarga Emery. Ia menahan rasa bangga yang keliru, yang ingin membaca pilihan seorang anak enam tahun sebagai putusan tentang dua keluarga besar.
"Besok dia bisa ingin menjadi pilot," katanya. Ia mengatakannya kepada Bian di dapur sambil menutup toples, tanpa nada kecewa sedikit pun.
Bian membawakan buku tentang berbagai pekerjaan, buku tebal dengan gambar besar dan sedikit tulisan. Mereka membacanya di lantai ruang tengah, halaman demi halaman: tukang roti, masinis, penjaga hutan, perawat, nelayan. Halaman astronot bergambar orang dengan helm besar dan latar hitam penuh titik putih. Dea menempelkan jarinya di bulan sepanjang penjelasannya, seolah memastikan tempat itu tidak berpindah selama ia berbicara. Dea memilih halaman astronot dan mengatakan ingin membawa Dre ke bulan. Ia menjelaskan rencananya dengan rinci, termasuk bagian tentang helm kecil untuk kucing dan makanan yang harus dibawa dalam tas. Ia juga sudah memikirkan tempat tidur Dre di sana, dan memutuskan selimutnya harus yang biru karena selimut itu paling sering dipakai di rumah.
Bian bertanya apakah Dre setuju dengan rencana itu. Dea menjawab bahwa Dre pasti setuju kalau dibujuk pelan-pelan. Dine tertawa dari sofa dan tidak mengoreksi apa pun. Mereka membiarkan cita-cita itu berubah sebanyak yang diperlukan, karena satu-satunya hal yang mereka janjikan pada malam surat itu ditulis adalah ruang, bukan arah.