Dre mulai lebih banyak tidur dan sulit melompat ke sofa. Ia berhenti dahulu di depan sandaran, mengukur jarak lebih lama daripada dulu, kadang mengurungkan niat dan memilih tidur di karpet. Bulunya menipis di sekitar pinggul dan warnanya kehilangan kilau. Pemeriksaan menunjukkan gangguan ginjal tahap awal yang dapat dikelola, tetapi tidak disembuhkan. Dine membaca hasilnya di layar, dua kali, lalu menutup berkas itu dengan gerakan yang terlalu rapi untuk orang yang sedang tenang.
Dine menghitung sendiri berapa tahun umur Dre, dan angka itu membuat seluruh gejalanya masuk akal. Justru bagian itulah yang paling sulit. Tidak ada pihak yang bisa disalahkan, tidak ada keterlambatan yang bisa diperbaiki, tidak ada prosedur yang bisa ditulis ulang supaya lain kali hasilnya berbeda. Yang bekerja hanya waktu, seperti biasanya, pada tubuh yang kebetulan mereka sayangi.
Bian ingin memakai semua pengobatan yang tersedia. Ia menyebut nama rumah sakit di luar negeri, terapi yang belum umum, dokter yang bisa dihubungi malam itu juga. Ia berbicara cepat, seperti orang yang sedang menyusun rencana penyelamatan dan takut kehilangan momentum. Dine mengingatkan keputusan harus menilai kualitas hidup, bukan hanya memperpanjang waktu. Ia bicara dengan suara datar bukan karena tidak peduli, melainkan karena itu satu-satunya cara supaya kalimatnya sampai ke ujung.
Bian meletakkan ponselnya di meja dan diam beberapa saat. Ketika ia bicara lagi, nada penyelamatan itu sudah hilang seluruhnya.
"Aku tidak siap kehilangan dia," kata Bian.
"Aku juga tidak. Tapi Dre tidak boleh menanggung ketakutan kita."
Mereka duduk lama di lantai malam itu, dengan Dre di antara mereka, tidak membicarakan apa-apa lagi. Keesokan harinya mereka menyusun rencana bersama dokter lain agar Dine tidak menjadi satu-satunya pengambil keputusan medis untuk hewan keluarganya sendiri. Dine tahu batas dirinya: seorang dokter yang mencintai pasiennya akan membaca hasil dengan mata yang berharap, dan mata yang berharap adalah mata yang buruk untuk membaca angka.
Dokter yang mereka pilih bukan yang paling ramah, melainkan yang paling berani menyampaikan kemungkinan buruk tanpa memperhalusnya lebih dahulu. Dine menandatangani lembar persetujuan sebagai pemilik, bukan sebagai kolega, dan tanda tangan itu terasa asing di tangannya sendiri setiap kali ia membubuhkannya.
Dre mendapat diet khusus, obat, dan pemeriksaan berkala. Makanannya ditakar dengan sendok kecil, jadwalnya ditempel di pintu kulkas, dan botol obat berbaris rapi di rak dapur. Kondisinya membaik beberapa bulan. Ia kembali naik ke jendela pada sore hari, duduk menghadap halaman, mengamati burung dengan ekor bergerak pelan. Dea belajar menyentuhnya dengan lembut dan tidak mengangkat tanpa izin. Anak itu memakai punggung tangannya lebih dahulu, seperti yang diajarkan, dan menunggu Dre mendekat sendiri.
Beberapa sore Bian pulang lebih cepat hanya untuk duduk di dekat jendela itu. Ia tidak mengerjakan apa pun di sana, tidak membuka berkas, tidak menjawab pesan yang masuk. Ia hanya memastikan sore tersebut benar-benar dihitung, karena ia sudah lama tahu bahwa waktu yang tidak diperhatikan akan lewat seperti tidak pernah ada.
Suatu malam Dre mengalami kesulitan bernapas. Suaranya terdengar dari ruang tengah, pendek dan berulang, dada kecilnya naik turun terlalu cepat. Mereka membawanya ke Animalia dengan mobil, Dea tertidur di kursi belakang, jalanan hampir kosong dan lampu-lampu jalan berjajar tanpa kendaraan lain. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi ginjal memburuk serta ada komplikasi jantung. Layar monitor memantulkan cahaya kebiruan di wajah mereka berdua.
Ruang tunggu Animalia pada dini hari terasa lebih besar daripada siang hari. Lantainya baru dipel, baunya tajam, dan bunyi mesin dari ruang dalam terdengar teratur seperti detik jam. Dine mengenal setiap bunyi itu, tahu apa artinya masing-masing, dan malam itu ia berharap tidak mengenalnya sama sekali.
Rawat intensif dapat memberi waktu, tetapi peluang pemulihan rendah. Dokter jaga menjelaskan angka-angkanya tanpa membulatkan ke atas dan tanpa menambahkan kalimat penghibur. Bian meminta satu malam untuk melihat respons terapi. Ia menyebutkan permintaan itu dengan sadar bahwa mungkin itu untuk dirinya sendiri, dan ia mengakuinya di depan Dine tanpa diminta. Dine tidak menolak. Satu malam masih berada di dalam batas yang dapat ditanggung Dre.
Mereka bergantian menunggu di kursi plastik yang dingin, tidak benar-benar tidur, dan tidak membicarakan kemungkinan yang sudah sama-sama mereka hitung di kepala masing-masing. Menjelang subuh Bian berkata bahwa ia tidak menyesal meminta satu malam itu, dan Dine menjawab bahwa memang tidak ada yang perlu disesali.
Pagi berikutnya Dre tidak membaik. Napasnya tetap pendek, tubuhnya tidak lagi merespons sentuhan seperti biasa, dan matanya tidak mengikuti gerakan tangan. Dine serta Bian memilih menghentikan tindakan agresif dan membawanya ke ruang tenang, ruangan kecil dengan lampu redup dan selimut yang selalu dihangatkan karena memang disiapkan untuk hari-hari seperti ini.
Dea diberi penjelasan sesuai usia bahwa tubuh Dre tidak dapat bekerja lagi. Tidak ada kiasan, tidak ada kata perjalanan jauh, tidak ada janji bertemu lagi nanti. Ia datang untuk mengucapkan selamat tinggal dan meletakkan mainan pertama kucing itu di samping selimut, tikus kain yang sudah kehilangan satu telinga dan warnanya sudah pudar. Ia memandang Dre lama, lalu bertanya apakah Dre masih bisa mendengar. Dine menjawab kemungkinan besar iya. Dea kemudian berbisik sesuatu yang tidak diminta diulang oleh siapa pun di ruangan itu.
Dre meninggal dalam pelukan Bian dengan tangan Dine di punggungnya. Ruangan itu sangat sunyi. Bian tidak bersuara, tetapi bahunya bergerak, dan Dine membiarkan tangannya tetap di sana lama sesudah tidak ada lagi yang perlu ditenangkan.
Rumah terasa kosong setelah kandang serta tempat makannya disimpan. Bunyi-bunyi kecil yang selama bertahun-tahun tidak pernah mereka sadari kini hilang semuanya: kuku di lantai kayu, mangkuk yang bergeser sedikit, lompatan pelan ke tempat tidur pada dini hari. Mereka tidak segera mengadopsi hewan baru untuk menutup kehilangan. Rak tempat makanan dibiarkan kosong beberapa minggu tanpa diisi barang lain.
Dea bertanya apakah Dre akan pulang. Ia bertanya pada malam ketiga, sambil memeluk bantal, dengan suara yang berharap jawabannya kali ini berbeda. Dine menjelaskan kematian tanpa mengatakan kucing itu hanya tidur. Ia memilih kata-kata yang tidak perlu dibongkar ulang bertahun-tahun kemudian.
"Kita masih sayang meski Dre tidak ada," katanya.
Mereka menanam abu Dre di bawah pohon halaman dan memasang batu kecil tanpa nama perusahaan. Tidak ada logo, tidak ada tanggal panjang, tidak ada kutipan. Kalimatnya dipilih Bian dan Dine tidak mengubah satu kata pun, meskipun ia sempat berpikir kalimat tersebut terlalu sederhana untuk menampung semua yang terjadi sesudahnya. Hanya tertulis: Dre, kucing yang mempertemukan kami.