Kematian Dre memengaruhi Bian lebih dalam daripada yang ia perkirakan. Ia sudah menyiapkan diri untuk sedih beberapa hari, seperti orang yang menghitung jatah cuti. Yang datang bukan itu. Kucing itu terhubung dengan awal hubungannya bersama Dine dan masa ketika ia kembali menemukan rumah di Jakarta. Setiap sudut ruangan menyimpan sesuatu: jendela tempat Dre duduk tiap sore, sisi sofa yang teksturnya berubah karena dicakar bertahun-tahun, ambang pintu yang selalu dijaga menjelang malam.
Ia sempat berpikir bahwa kesedihan seharusnya sebanding dengan besarnya yang hilang, dan seekor kucing terdengar kecil begitu diucapkan dengan suara keras. Tetapi yang hilang bukan hanya kucing itu. Yang hilang adalah penanda satu periode dalam hidupnya, saksi terakhir dari hari-hari sebelum segalanya menjadi rumit, sebelum ada perusahaan yang harus dijaga dan nama yang harus dijelaskan.
Bian berhenti mengikuti kegiatan peternak selama beberapa minggu. Ia mengirim pesan singkat, meminta orang lain menggantikan, dan tidak menjelaskan alasannya kepada siapa pun. Ia merasa bersalah karena telah memilih menghentikan perawatan. Pikiran itu datang berulang pada jam yang sama, biasanya menjelang subuh: bagaimana kalau satu malam lagi, bagaimana kalau ia tidak terburu-buru, bagaimana kalau ia menyerah lebih cepat daripada yang seharusnya.
Ia tidak menceritakan pikiran itu selama beberapa hari karena tahu bunyinya akan terdengar seperti menyalahkan Dine, padahal keputusan tersebut diambil berdua. Ketika akhirnya ia mengatakannya, kalimatnya berantakan dan ia tidak berusaha merapikannya. Dine tidak menawarkan bantahan. Ia hanya mendengarkan sampai selesai, yang ternyata lebih berguna daripada bantahan mana pun.
Dine juga berduka, tetapi tidak memakai keahliannya untuk menyatakan keputusan mereka pasti benar. Ia bisa saja menyusun kalimat medis yang rapi, menyebut angka, menutup persoalan dengan otoritas seorang dokter yang memang berhak menutupnya. Ia tidak melakukan itu. Ia mengakui selalu ada pertanyaan setelah kehilangan, dan pertanyaan itu tidak hilang hanya karena dijawab oleh orang yang paling tahu. Yang ia lakukan adalah duduk di dekat Bian pada jam-jam subuh tersebut, kadang tanpa bicara sama sekali.
Dea mulai takut tidur karena mengira orang tuanya juga dapat tidak bangun. Ia meminta pintu kamar dibuka lebar, lalu meminta lampu koridor dinyalakan, lalu meminta dicek dua kali sebelum matanya benar-benar tertutup. Beberapa malam ia terbangun dan berjalan ke kamar mereka hanya untuk memastikan dua tubuh masih bernapas di sana. Mereka menjelaskan bahwa semua makhluk hidup dapat meninggal, tetapi saat ini tubuh Ayah dan Ibu sehat serta ada banyak orang yang menjaganya. Mereka tidak berjanji akan hidup selamanya, karena janji seperti itu akan runtuh suatu hari dan meninggalkan kerusakan yang jauh lebih besar.
Psikolog anak membantu mereka membuat kotak kenangan Dre. Kotak kardus biasa, dilapisi kertas cokelat, dihias sendiri oleh Dea dengan spidol yang tintanya sudah hampir habis. Dea memasukkan gambar, kalung lama, dan foto tanpa mengubah kotak itu menjadi sesuatu yang harus dilihat setiap hari. Kotak tersebut diletakkan di rak yang bisa dijangkau, dan Dea boleh membukanya kapan saja atau tidak sama sekali. Beberapa minggu pertama ia membukanya hampir tiap sore. Lalu jaraknya melebar dengan sendirinya, tanpa ada yang mengaturnya.
Psikolog itu menyampaikan satu hal yang membuat Bian diam lama: anak-anak menyalin cara orang dewasa berduka, bukan kata-kata yang diucapkan orang dewasa tentang duka. Sejak itu Bian berhenti berbalik badan ketika matanya memerah di depan Dea. Ia juga berhenti mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja pada hari-hari yang jelas tidak baik-baik saja.
Sebulan kemudian, Yayasan Satwa Dwipantara meminta Bian merawat sementara seekor kucing tua yang pemiliknya meninggal. Permintaan itu masuk lewat telepon, sopan, dengan catatan bahwa kucing tersebut sulit ditempatkan karena usianya sudah lanjut. Bian menolak karena belum siap. Ia menolak sambil menahan rasa bersalah jenis lain, rasa bersalah orang yang biasanya selalu bisa membantu dan tiba-tiba tidak bisa.
Dine mendukung penolakannya. Ia tidak mendorong Bian mengambil kucing itu demi pemulihan, tidak menyarankan bahwa merawat sesuatu yang hidup akan menyembuhkan luka. Membantu tidak selalu berarti menerima setiap kebutuhan yang datang. Rumah yang belum sanggup akan menjadi tempat yang buruk bagi hewan mana pun, dan kebaikan yang dipaksakan biasanya berakhir sebagai beban bagi pihak yang ditolong.
Beberapa minggu kemudian Bian sendiri menghubungi yayasan. Ia menelepon pada siang hari, tanpa membicarakannya lebih dahulu, lalu memberi tahu Dine sesudahnya, dan mereka berdua sama-sama menyadari bahwa itu urutan lama yang biasanya menimbulkan masalah. Kali ini Dine hanya bertanya apakah Bian yakin. Ia bersedia menjadi keluarga asuh sementara tanpa janji adopsi, dan ia menyebutkan batas itu di depan yayasan sejak kalimat pertama.
Kucing tua bernama Momo datang ke rumah dalam kandang plastik dengan handuk di dasarnya. Ia keluar perlahan, mengendus lantai, lalu memilih sudut paling jauh dari semua orang. Ia tidak mirip Dre dan tidak menyukai pangkuan. Warnanya lebih gelap, badannya lebih besar, dan ia mendesis pelan bila disentuh dari arah yang tidak terlihat olehnya. Dea sempat kecewa. Ia sudah menyiapkan mainan dan tempat tidur, dan tidak ada satu pun yang dipakai pada hari pertama. Tetapi ia belajar bahwa hewan baru tidak bertugas menggantikan yang lama.
Rumah menyesuaikan diri dengan aturan yang berbeda. Tidak ada yang boleh mendekat dari belakang. Mangkuk diletakkan di tempat yang bisa dilihat dari dua arah. Pintu kamar mandi dibiarkan terbuka sedikit karena Momo ternyata suka tidur di ubin dingin. Dea menghafal aturan itu lebih cepat daripada orang dewasa mana pun di rumah tersebut, dan sesekali mengingatkan ayahnya dengan nada yang sangat mirip nada ibunya.
Momo tinggal tiga bulan sebelum diadopsi pasangan lanjut usia. Dalam tiga bulan itu ia akhirnya mau tidur di kursi dekat jendela dan menerima usapan singkat di kepala, selalu dengan syarat ia melihat tangan itu datang lebih dahulu. Saat ia pergi, Dea menangis tetapi memahami rumah mereka hanya tempat persinggahan. Ia melambai dari teras dan bertanya apakah Momo akan diberi makan tepat waktu di rumah barunya.
Bian kembali mendampingi peternak. Ia berangkat pagi-pagi, membawa berkas koperasi, dan berdiri lagi di kandang-kandang yang berbau jerami basah. Orang-orang di sana tidak bertanya ke mana ia selama beberapa bulan terakhir. Mereka hanya menggeser tempat duduk supaya ada ruang untuknya, dan bagi Bian itu sudah lebih dari cukup. Kesedihan belum hilang, tetapi dapat berjalan di samping kegiatan baru, tidak lagi menempati seluruh ruangan sendirian.
Di bawah pohon Dre, tunas kecil muncul setelah musim hujan. Dea berjongkok memandanginya lama, lalu berlari masuk memanggil semua orang. Ia menganggap itu Dre yang tumbuh. Dine menjelaskan pohonnya yang tumbuh, sementara kenangan Dre hidup dengan cara berbeda, di dalam kepala mereka dan di kotak di rak yang boleh dibuka kapan saja.