Pada usia sepuluh tahun, Dea mendapat tugas sekolah yang terdengar sederhana: menuliskan pekerjaan orang tua dan satu hal yang membuatnya bangga. Ia membuka peramban di ruang tengah, mengetik nama ayahnya dengan dua jari, lalu menunggu daftar hasil muncul. Kipas angin berputar pelan di sudut ruangan. Dari dapur terdengar bunyi wajan dan air mengalir. Layar itu menyala kebiruan di wajahnya, dan gulungan pertama saja sudah cukup untuk mengubah bentuk sorenya.
Ia menemukan berita lama tentang Banan, tentang perselingkuhan, tentang sabotase, dan tentang penculikan Dine. Foto beresolusi rendah. Judul yang ditulis untuk dijual, bukan untuk dijelaskan. Kolom komentar yang dibiarkan terbuka bertahun-tahun tanpa ada yang menutupnya. Ia menggulir terus, melewati satu judul ke judul berikutnya, dan setiap kali menemukan wajah ibunya di foto lama itu jarinya berhenti sebentar sebelum melanjutkan. Nama-nama di dalamnya ia kenal semua. Itulah bagian yang membuat perutnya terasa dingin: bukan karena ceritanya terdengar asing, melainkan karena ceritanya mengenai orang-orang yang setiap pagi menyiapkan sarapannya.
Dea berjalan ke dapur dengan wajah tegang, tablet masih menyala di tangannya, dan bertanya siapa lelaki yang hampir menikahi ibunya.
Dine mematikan kompor. Bian meletakkan gelasnya. Mereka berdua sebenarnya telah merencanakan percakapan ini sejak lama, bahkan pernah menulis urutan kalimatnya di ponsel masing-masing supaya tidak saling bertentangan. Yang tidak mereka sangka adalah percakapan itu datang lebih dahulu dari hasil pencarian internet, bukan dari mulut mereka, dan datang pada sore biasa ketika sayur masih setengah matang di atas kompor.
Mereka duduk. Bukan di ruang tamu yang formal, melainkan di lantai ruang tengah, sejajar dengan anak itu.
Mereka menjelaskan dengan bahasa yang sesuai usia, tanpa memperhalus sampai berbohong. Dine pernah bertunangan dengan Banan. Banan berselingkuh serta terlibat tindakan ilegal, dan hal itu sudah diputus pengadilan, bukan sekadar tuduhan orang. Bian menyembunyikan identitasnya ketika pertama berkenalan dengan Dine, dan penyembunyian itu salah meskipun akhirnya mereka menikah. Orang-orang dewasa membuat pilihan buruk dan menghadapi akibatnya, termasuk ayah dan ibunya sendiri.
Dea mendengarkan sambil menggigit bagian dalam pipinya. Lalu ia mengulang satu kalimat yang jelas bukan miliknya, kalimat yang bunyinya terlalu rapi untuk anak sepuluh tahun.
"Ayah merebut Ibu?" tanya Dea, mengulang judul berita.
"Tidak," jawab Dine. "Ibu meninggalkan hubungan yang tidak sehat. Setelah itu Ibu memilih mengenal Ayah."
Ia mengucapkannya pelan, memastikan tidak ada nada membela diri yang terselip di dalamnya. Sebab kalimat itu bukan pembelaan. Itu urutan kejadian, dan Dea berhak memiliki urutan yang benar sebelum orang lain menyusunkannya untuk dia.
Bian tidak menunggu ditanya. Ia juga mengakui dirinya datang ke akad lama untuk menghentikannya, setelah bukti perselingkuhan lengkap di tangannya. Ia menyebutkan tempatnya, menyebutkan bahwa banyak orang menonton, menyebutkan bahwa ibunya berdiri kaku di depan semua mata itu. Ia tidak menampilkan tindakan tersebut sebagai kepahlawanan, tidak menghias suaranya, tidak sekali pun memakai kata menyelamatkan.
"Seharusnya orang dewasa jujur sebelum hari pernikahan," katanya.
Dea diam beberapa saat. Lalu marah. Bukan kepada Banan, bukan kepada berita, melainkan kepada mereka berdua, karena tidak memberi tahu lebih awal, karena membiarkan ia menemukannya dari layar bersama jutaan orang asing. Suaranya naik, matanya memerah, dan ia menyebut kata rahasia dua kali dalam satu kalimat.
Mereka menerima kemarahan itu. Tidak menyuruhnya bicara lebih pelan, tidak menyebutnya kurang ajar, tidak memutus percakapan dengan alasan sopan santun. Mereka juga tidak menghapus akses internet sebagai hukuman, sebab menutup pintu tidak pernah menghapus isi ruangan di baliknya, hanya membuat anak itu belajar mencari lewat jendela orang lain. Bian ingin sekali membela diri, ingin menjelaskan bahwa mereka sedang menunggu usia yang tepat. Ia menahannya. Penjelasan yang diucapkan ketika anak sedang marah hanya terdengar sebagai pembelaan orang dewasa, dan Dea akan mengingat pembelaan itu jauh lebih lama daripada isinya.
Malam itu mereka justru duduk lebih lama dan menyusun album digital berisi sumber yang dapat dipercaya: salinan putusan pengadilan, artikel dengan nama redaksi yang jelas, dan pernyataan Dine sendiri yang ditulis dengan bahasa yang bisa dibaca ulang Dea kapan pun ia siap. Mereka memberi satu aturan tunggal. Dea boleh bertanya kapan saja, tentang bagian mana pun, tanpa harus memilih waktu yang nyaman bagi orang tuanya.
Dua minggu berlalu dan tampak tenang. Lalu sekolah mengirim panggilan.
Di sekolah, seorang teman sekelas mengejek ibunya sebagai perempuan yang memiliki dua pengantin. Anak-anak lain tertawa di sekeliling meja kantin, dan tawa itu bergema di ruangan berlantai keramik. Dea mendorong anak itu sampai punggungnya membentur sandaran kursi, dan mendapat teguran dari guru piket.
Dine datang sore itu juga. Di ruang guru yang berbau kertas dan pengharum murah, ia tidak membenarkan dorongan tersebut. Ia mengatakan kepada Dea, di depan orang dewasa lain, bahwa tangan tidak boleh menjadi jawaban pertama. Namun ia memahami rasa malu dan marah yang mendorongnya, dan ia mengucapkan pemahaman itu keras-keras supaya anaknya tahu ia tidak sedang menanggungnya sendirian.
Mereka menemui pihak sekolah dan meminta penanganan perundungan sesuai aturan yang memang sudah tertulis, lengkap dengan tenggat dan nama orang yang bertanggung jawab. Sepanjang pertemuan, Dine tidak sekali pun menggunakan nama Emery untuk memberi tekanan. Nama itu ada di kepala semua orang di ruangan, tetapi ia menolak mengeluarkannya. Kalau anaknya hanya aman karena keluarganya kaya, maka anak lain yang keluarganya biasa saja akan tetap dimakan hal yang sama pekan depan.
Dea meminta beberapa hari sebelum kembali. Mereka mengizinkan tanpa tawar-menawar dan tanpa ceramah tentang ketahanan mental. Selama hari-hari itu ia banyak berbaring di kamar, sesekali membuka album digital yang mereka susun, dan sekali bertanya apakah ibunya pernah ingin pindah kota. Dine menjawab jujur bahwa ia pernah ingin, bertahun-tahun lalu, dan bahwa ia memilih tinggal karena pindah tidak memindahkan berita, hanya memindahkan tubuh. Dea menerima jawaban itu tanpa berkomentar, lalu kembali menatap langit-langit kamarnya.
Saat akhirnya masuk sekolah, ia berjalan lurus ke kelas dan tidak menunduk. Ia membawa satu jawaban sederhana yang sudah ia siapkan sendiri, tanpa diajari siapa pun: cerita ibuku bukan bahan leluconmu.
Malamnya ia menceritakan kalimat itu di meja makan dengan nada biasa, seolah sedang melaporkan nilai ulangan. Dine menahan diri supaya tidak menangis di depannya.
Masa lalu telah sampai kepada generasi berikutnya, lewat jalur yang tidak bisa mereka atur, pada usia yang tidak mereka pilih. Dine dan Bian tidak dapat menghapusnya. Yang dapat mereka lakukan hanyalah memastikan Dea tidak harus menanggungnya sendirian.