Dea menelepon tengah malam. Ponsel di meja samping tempat tidur bergetar dua kali sebelum layarnya menyala terlalu terang di kamar yang gelap, dan hanya butuh satu detik bagi keduanya untuk terbangun sepenuhnya. Suaranya gemetar, terputus oleh napas yang tidak teratur, dengan bunyi angin di latar belakang seperti ia sedang berdiri di luar ruangan dan tidak tahu harus masuk ke mana.
Dine menyalakan lampu meja dan duduk tegak, memaksa suaranya sendiri terdengar tenang meski jantungnya tidak. Ia tahu satu hal dari bertahun-tahun menerima panggilan darurat: orang yang gemetar butuh mendengar suara yang tidak ikut gemetar.
Dalam kegiatan lapangan, salah seorang temannya terluka akibat perahu terbalik. Air dingin, jarak ke pantai lebih jauh daripada perkiraan, dan tim penyelamat membutuhkan waktu untuk sampai. Dea selamat. Ia mengulang kalimat itu sendiri, seolah menyebutnya berkali-kali bisa membuatnya terasa masuk akal. Tetapi ia merasa bersalah, karena dialah yang menjadi orang yang menyarankan lokasi pengamatan itu dua hari sebelumnya.
Ia menceritakannya berulang, kadang melompat, kadang kembali ke bagian yang sudah ia sebut. Dine tidak memotong dan tidak meminta urutannya dirapikan. Di kamar itu hanya ada bunyi kipas dan suara napas mereka sendiri.
Bian sudah berdiri sebelum panggilan selesai. Ia menyalakan lampu, mengambil ponselnya sendiri, dan ingin terbang malam itu juga. Jarinya sudah mengetik nama bandara ketika Dine memegang lengannya dan meminta mereka mendengar seluruh keadaan lebih dahulu, bukan untuk menunda, melainkan supaya keputusan yang diambil benar-benar menolong.
Selama beberapa detik keduanya saling menatap di bawah lampu kamar. Dine tidak melarang. Ia hanya menahan lengan itu sampai Bian sendiri yang menurunkan ponselnya ke ranjang.
Mereka mendengarkan sampai habis. Teman Dea sudah dirawat di rumah sakit, kondisinya stabil, keluarganya sudah diberi tahu sejak sore. Kampus melakukan investigasi resmi mulai pagi berikutnya. Dan Dea sendiri tidak sedang sendirian; ia berada bersama konselor kampus yang menemaninya sejak petang.
Nama konselor itu disebut Dea sendiri, lengkap dengan jam janji temu keesokan harinya. Bagi Dine, detail sekecil itu berarti banyak: putrinya masih sanggup memegang jadwal, dan itu tanda bahwa ia belum jatuh sejauh yang mereka takutkan.
"Kamu ingin kami datang?" tanya Dine.
Dea diam, lalu menjawab, "Besok. Bukan malam ini. Aku mau tidur dulu."
Bian menutup mata sebentar. Menunggu satu malam terasa jauh lebih berat daripada terbang sekarang juga, tetapi ia menerima jawaban itu tanpa membujuk. Mereka mengambil penerbangan komersial pagi hari, duduk berdampingan tanpa banyak bicara, dan tidak seorang pun benar-benar tidur di pesawat.
Sepanjang penerbangan Bian menulis di ponselnya, menghapus, lalu menulis lagi. Dine melihat sekilas dan tahu itu bukan rencana kerja, melainkan kalimat yang ingin ia ucapkan begitu bertemu putrinya, disusun ulang berkali-kali sampai tidak terdengar seperti perintah.
Di sana, Bian tidak mengambil alih investigasi atau menghubungi pejabat. Ia tidak menelepon kenalan, tidak meminta laporan lebih cepat daripada yang diterima keluarga lain. Ia duduk di ruang tunggu fakultas seperti orang tua peserta lainnya, memegang gelas kopi yang mendingin di tangannya, dan berdiri hanya ketika namanya dipanggil. Dine menemani Dea bertemu konselor, masuk ketika diminta, menunggu di koridor ketika tidak.
Sekali seorang staf mengenali nama Bian dan menawarkan ruang terpisah. Ia menolak dengan sopan dan tetap duduk di kursi yang sama. Dine membawakan makan siang yang akhirnya tidak dimakan siapa pun, lalu membawanya pulang lagi dalam kotak yang sama.
Pemeriksaan berjalan beberapa minggu, dengan wawancara, catatan cuaca, dan pemeriksaan perlengkapan. Pemeriksaan menunjukkan keputusan lokasi dibuat oleh instruktur, bukan Dea seorang. Usulan Dea hanya salah satu bahan pertimbangan, sedangkan penetapan akhir berada di tangan orang yang memang berwenang. Perahu terbalik karena perubahan cuaca yang datang lebih cepat daripada perkiraan serta kegagalan alat keselamatan yang seharusnya diperiksa sebelum berangkat.
Laporannya tebal, memuat data cuaca per jam, foto pelampung yang tali pengikatnya sudah getas, dan catatan bahwa pemeriksaan terakhir alat itu tercatat tiga bulan sebelumnya. Dea diminta memberi keterangan dua kali. Pada kesempatan kedua ia sudah sanggup menyebut urutan kejadian tanpa berhenti di tengah kalimat.
Dea membaca laporan itu sampai selesai. Ia mengangguk pada setiap bagian, memahami setiap kalimat, dan tetap ingin berhenti kuliah.
Rasa bersalah tidak selalu tunduk pada bukti. Itu hal yang Dine pahami jauh sebelum menjadi ibu, dan hal yang paling sulit dijelaskan kepada orang yang sedang mengalaminya.
Orang tuanya tidak langsung membujuk. Bian menahan seluruh daftar argumen yang sudah tersusun rapi di kepalanya, dan itu barangkali hal tersulit yang ia lakukan sepanjang tahun itu. Dine tidak menyodorkan angka tentang berapa banyak orang yang menyesal berhenti di tengah jalan. Mereka memberi waktu dan membantu memisahkan ketakutan sementara dari keputusan jangka panjang, dengan pertanyaan yang tidak menuntun ke jawaban tertentu.
Selama masa itu Dea pulang, tidur banyak, membantu di klinik tanpa diminta, dan berhari-hari tidak menyebut laut sama sekali. Tidak ada yang memancingnya.
Beberapa bulan berlalu. Teman yang terluka itu pulih dan menghubungi Dea sendiri. Ia sudah bisa berjalan tanpa alat bantu dan sedang menyiapkan diri kembali ke lapangan. Ia menolak dijadikan alasan Dea meninggalkan bidang yang dicintainya, dan mengatakannya terus terang, tanpa dibungkus rasa kasihan yang justru akan membuat Dea makin sulit bergerak.
Percakapan mereka berlangsung lama. Sesudahnya Dea duduk di teras cukup lama tanpa mengatakan apa pun kepada siapa pun.
Setelah satu semester cuti, Dea memilih kembali dengan fokus pada keselamatan operasi laut. Ia mengembangkan proyek pemeriksaan peralatan bagi kelompok riset mahasiswa: daftar periksa sebelum berangkat, jadwal uji pelampung dan radio, serta catatan yang harus ditandatangani dua orang. Sederhana, membosankan, dan persis jenis hal yang tidak tersedia ketika ia sendiri membutuhkannya.
Ia menyusun daftar itu dari catatan lapangan yang dulu ia buat sendiri, termasuk halaman yang ditulisnya pada hari kejadian dan hampir ia robek.
Bian menawarkan pendanaan pada percakapan pertama tentang proyek itu, hampir sebagai refleks. Dea menolak dengan sopan, tetapi Dea meminta mengajukan proposal seperti peserta lain, lewat jalur yang sama dan penilaian yang sama. Proposalnya sempat dikembalikan untuk direvisi karena anggarannya belum rinci. Pada pengajuan kedua, proyeknya mendapat hibah kampus, bukan uang keluarga.
Bian menerima penolakan itu tanpa tersinggung. Ia membaca proposal versi pertama sebagai orang luar, memberi dua catatan pada bagian anggaran, lalu berhenti di situ. Pengumuman hibah ditempel di papan fakultas bersama nama-nama lain, dan Dea mengirim fotonya ke rumah tanpa keterangan apa pun.
Dine melihat putrinya menghadapi rasa bersalah tanpa diwarisi kebutuhan orang tuanya untuk menyelamatkan semuanya sendiri.