Sepulang dari Abram Creeks, Dine dan Bian menghadapi rumah tanpa Dea. Koper mereka masih berdiri di ruang depan ketika keduanya sadar bahwa yang berubah bukan hanya jumlah orang, melainkan bunyi. Rumah itu terlalu jelas terdengar sekarang. Bunyi kulkas yang menyala dan mati, bunyi pagar tetangga, bunyi burung di halaman belakang, semuanya naik ke permukaan karena tidak ada lagi yang menimpanya.
Dine sempat berpikir menyalakan televisi hanya untuk mengisi udara, lalu mengurungkannya karena merasa konyol. Bian membuka jendela dapur, dan angin sore masuk membawa bau tanah dari halaman tetangga yang baru disiram.
Kamar putrinya tetap rapi, dan justru kerapian itu yang mengganggu. Ranjangnya tertata, meja belajarnya kosong, tirainya terbuka setengah persis seperti ditinggalkan. Tidak lagi memiliki pakaian yang dilempar sembarangan ke kursi, tidak ada buku yang tertinggal di tangga sehingga hampir membuat orang tersandung setiap malam. Dine berdiri di ambang pintu kamar itu selama beberapa detik pada hari pertama, lalu menutupnya kembali tanpa masuk.
Ia sadar sedang menahan diri untuk tidak merapikan apa yang sudah rapi, kebiasaan lama yang dulu ia kerjakan sambil menggerutu dan kini terasa seperti kehilangan tugas.
Bian mengurus kesepiannya dengan cara yang paling ia kuasai: mengubahnya menjadi rencana. Ia mulai memeriksa jadwal penerbangan ke kota tempat Dea kuliah, membuka tiga tab sekaligus di layar, membandingkan waktu transit dan harga di hari kerja dengan hari libur.
Layar itu menyala terus di pangkuannya, memantul di kacamata bacanya. Dine melihat layar itu dari belakang punggungnya sambil membawa dua gelas air, lalu mengingatkan janji untuk meminta izin sebelum berkunjung.
"Aku hanya melihat harga tiket."
"Dan setelah itu biasanya kamu menyusun rencana lengkap."
Bian membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi karena tahu istrinya benar. Ia menatap layar sekali lagi, kemudian menutup layar dan meraih ponsel. Ia mengirim pesan kepada Dea, langsung, dengan pertanyaan yang jujur dan tanpa dibungkus sebagai basa-basi. Putrinya menjawab beberapa jam kemudian, ketika hari sudah pagi di tempatnya, bahwa kunjungan boleh dilakukan setelah ujian pertengahan semester, bukan sekarang. Bian membaca balasan itu dua kali, lalu meletakkan ponsel dengan tenang. Ia kecewa, dan ia membiarkan dirinya kecewa tanpa menawar.
Malam itu ia tidur lebih cepat daripada biasanya, dan Dine tahu itu bukan tanda lelah melainkan tanda menyerah pada hal yang memang bukan haknya untuk diatur.
Dine sendiri menambah jadwal di Yayasan Edrea tanpa menyadarinya. Satu rapat tambahan di sini, satu kunjungan lapangan di sana, satu berkas yang sebenarnya bisa dibaca besok tetapi ia pilih selesaikan malam itu juga. Meja kerjanya di yayasan perlahan terasa lebih nyaman daripada meja makan di rumah, dan ia tidak pernah berhenti cukup lama untuk bertanya kenapa.
Ia berdalih pada dirinya sendiri bahwa musim itu memang sedang padat. Alasan semacam itu selalu tersedia bagi orang yang pekerjaannya menolong pihak lain, dan justru karena itu paling sulit dibantah. Dua kali ia bahkan menolak tumpangan pulang supaya bisa berjalan dulu ke halte, sekadar menunda beberapa menit.
Ketika tiga malam berturut-turut ia pulang larut, mendapati piring makan sudah tertutup dan lampu teras masih menyala, Bian menunggunya di ruang tengah. Ia tidak marah dan tidak menuduh. Ia bertanya apakah pekerjaan itu benar-benar mendesak atau cara menghindari rumah sepi.
Dine duduk, melepas sepatu perlahan, dan diam beberapa saat sebelum menjawab. Dine mengakui keduanya. Sebagian pekerjaan memang mendesak, dan sebagian lagi ia ambil karena tidak tahan pulang ke rumah yang tidak lagi menuntut apa pun darinya pada jam tujuh malam. Mengakui hal itu terasa lebih sulit daripada mengakui kesalahan teknis di ruang rapat medis, karena tidak ada prosedur yang bisa dipakai untuk memperbaikinya.
Bian tidak menyela sampai ia selesai. Ia hanya mengambilkan piring dari dapur, memanaskannya kembali, dan meletakkannya di depan istrinya.
Mereka mengurangi kegiatan tambahan, keduanya, bukan hanya salah satu. Bian melepas satu kursi penasihat yang selama ini ia pegang karena sungkan, dan Dine mengembalikan dua kunjungan lapangan kepada staf yang memang bertugas. Sesudah itu mereka membuat rutinitas baru, ditulis di kertas dan ditempel di pintu kulkas seperti jadwal anak sekolah: satu malam memasak, satu malam bebas untuk kegiatan masing-masing, serta akhir pekan tanpa kewajiban mengisi semua waktu. Bagian terakhir itu yang paling sulit dijalani. Keduanya sama-sama tidak terbiasa duduk tanpa tujuan.
Pada minggu pertama keduanya sempat melanggar sendiri jadwal yang mereka tulis, lalu memasang ulang kertas itu tanpa mengubah isinya.
Beberapa bulan kemudian, mereka juga membuka program keluarga asuh sementara bagi hewan tua, hewan yang paling lama menunggu di penampungan karena hampir tidak ada yang mau mengambil makhluk dengan sisa waktu pendek. Rumah itu didaftarkan seperti rumah calon pengasuh lain, melalui kunjungan pemeriksaan dan berkas yang sama, tanpa jalur khusus.
Petugas penampungan datang memeriksa pagar, tempat makan, dan ruang tidur calon hewan asuh. Bian menjawab pertanyaan formulir dengan serius, seperti orang yang sedang diuji dan ingin lulus.
Seekor anjing bernama Sora tinggal selama dua bulan. Bulunya sudah memutih di sekitar moncong, langkahnya pelan, dan ia perlu waktu lama untuk memutuskan naik ke sofa. Setiap pagi ia berdiri di dapur menunggu seseorang bangun, dan bunyi kukunya di lantai keramik menjadi hal pertama yang terdengar di rumah itu. Kehadirannya tidak menggantikan Dre atau Dea, dan tidak seorang pun berpura-pura demikian. Ia hanya memberi rumah itu suara langkah baru, dan ternyata itu sudah cukup.
Sora tidak banyak menggonggong. Kalau ada yang pulang larut, ia hanya mengangkat kepala dari keranjang, memastikan, lalu tidur lagi. Pada minggu kedua ia mulai mengikuti Dine ke dapur setiap pagi, berhenti tepat di ambang pintu, dan tidak pernah masuk lebih jauh dari itu.
Ketika Sora memperoleh keluarga permanen, sepasang pensiunan yang datang tiga kali sebelum memutuskan, Bian sedih dengan cara yang tidak biasa ia tunjukkan. Ia berdiri lama di dapur pada pagi setelah anjing itu pergi, tepat di titik tempat Sora biasa menunggu. Namun ia tidak mencoba membatalkan adopsi, tidak mengajukan alasan tambahan, tidak menawar perpanjangan waktu.
Ia justru mengantar sendiri Sora ke rumah barunya, membawa keranjang dan mangkuk yang sudah dipakai selama dua bulan, lalu menjelaskan kebiasaan anjing itu kepada pemilik barunya dengan rinci sekali.
"Ternyata rumah bisa terasa penuh tanpa harus memiliki semua yang masuk," katanya.
Dine mengangguk. Mereka pernah mengira membangun keluarga berarti mempertahankan orang-orang agar selalu dekat, mengunci pintu dari dalam dan menghitung kepala setiap malam sebelum tidur. Kini mereka belajar bahwa rumah juga harus sanggup membiarkan penghuninya pergi, dan tetap disebut rumah sesudahnya.