Pada suatu pagi bertahun-tahun setelah akad mereka, Dine dan Bian duduk di teras rumah. Udara masih menyimpan sisa hujan semalam, dan lantai teras terasa dingin di telapak kaki. Dua cangkir kopi mengepul di meja kecil di antara mereka, satu sudah setengah, satu belum disentuh sama sekali. Dea sedang bersiap berangkat kuliah ilmu kelautan. Koper-kopernya memenuhi ruang keluarga, tiga buah, berjejer seperti barisan yang menunggu perintah, dengan label maskapai yang sudah ditempel semalam.
Bian berulang kali memeriksa dokumen perjalanan. Ia membuka map, menghitung lembar, menutup, lalu membuka lagi tiga menit kemudian seolah ada halaman yang bisa hilang sendiri. Dine memperhatikannya tanpa berkata apa-apa, mengenali kegelisahan yang tidak tahu harus disalurkan ke mana. Akhirnya Dea keluar dari kamar, mengambil map itu kembali dari tangan ayahnya dengan gerakan yang sudah dilatih bertahun-tahun.
"Ayah sudah memeriksa tiga kali."
"Pemeriksaan keempat kadang menemukan hal baru."
"Tidak."
Bian menyerah dan mengangkat kedua tangan, telapak menghadap ke depan, seperti orang yang mengaku kalah di tengah jalan. Dine tertawa melihatnya, tawa yang keluar begitu saja dan membuat pagi itu terasa lebih ringan daripada sebelumnya.
Di dalam rumah, mesin cuci berputar untuk terakhir kalinya sebelum ditinggalkan, dan suara air itu mengisi jeda di antara mereka. Dine sempat menghitung berapa jam lagi sebelum berangkat, lalu berhenti menghitung karena tidak ada gunanya.
Dea memilih universitas di luar negeri yang tidak terhubung dengan Emery. Ia mencari sendiri, membandingkan sendiri, dan mengirim berkasnya tanpa meminta siapa pun membaca lebih dahulu. Ia menggunakan dana perwalian pendidikan, karena itu memang haknya dan tidak ada gunanya berpura-pura miskin, tetapi mengatur sendiri tempat tinggal serta program studinya. Kontrak sewa kamarnya ia baca sendiri, dua kali, sambil mencatat pertanyaan di pinggir halaman.
Sebelum berangkat, ia duduk di lantai kamar dan membuka kotak kenangan Dre: kalung kecil, sisir bulu, dan selembar foto yang sudut kanannya sudah melengkung. Setelah itu ia membuka surat ulang tahun pernikahan orang tuanya, dan terakhir album kelahirannya sendiri, yang halaman pertamanya memuat gambar inkubator. Ia diam cukup lama di halaman itu. Kemudian ia bertanya apakah boleh membawa salinan foto Dre.
"Foto itu milik keluarga. Tentu boleh," kata Dine.
Dea memasukkannya ke halaman belakang paspornya, tempat yang paling jarang dibuka orang lain.
Di bandara, mereka tidak mengadakan perpisahan besar. Helena, Nola, dan Tara mengucapkan selamat jalan dari rumah, karena Dea sendiri yang meminta demikian; menurutnya rombongan pengantar hanya membuat kepergian terasa seperti upacara. Bian serta Dine mengantar sebagai orang tua, bukan pemilik perusahaan yang melepas pewaris. Mereka berdiri di antara keluarga-keluarga lain, di bawah papan jadwal yang huruf-hurufnya terus berganti, memegang tiket yang sama biasanya dengan orang lain.
Antrean bergerak lambat. Seorang anak kecil menangis di dekat mesin pemindai, dan suaranya membuat semua orang di sekitar diam sebentar.
Dea memeluk keduanya, lama, satu per satu.
"Jangan datang diam-diam untuk memeriksa," katanya kepada Bian.
"Aku akan meminta izin."
"Ibu pastikan Ayah menepati."
"Itu tanggung jawab Ayah sendiri," jawab Dine. "Tapi Ibu akan mengingatkan kalau diminta."
Setelah Dea melewati pemeriksaan, punggungnya menghilang di antara orang-orang, muncul sekali lagi ketika ia menoleh dan melambai, lalu benar-benar hilang. Bian menatap lorong kosong itu cukup lama, jauh setelah tidak ada lagi yang bisa dilihat. Dine tidak menariknya pergi.
"Rumah akan sepi."
"Kita pernah hidup berdua sebelum dia ada."
"Kita juga punya Dre waktu itu."
"Benar."
Mereka berjalan keluar melewati pintu kaca yang membuka sendiri, ke tempat parkir yang panasnya menempel di kulit. Bian menyetir pulang tanpa menyalakan radio, dan Dine membiarkan keheningan itu ada.
Mereka pulang dan menemukan rumah benar-benar sunyi. Tidak ada jadwal sekolah yang menempel di pintu kulkas, tidak ada tas yang tergeletak di tangga, tidak ada suara air mengalir dari kamar mandi lantai atas pada jam-jam yang biasa. Bian hampir mengisi kekosongan itu dengan proyek baru; ia sudah membuka berkas lama dan menulis dua baris rencana. Dine hampir menambah jam praktik, sudah menghitung slot yang kosong di kalender koperasi. Keduanya berhenti dan membicarakannya lebih dahulu, di meja makan, dengan lampu yang terlalu terang untuk dua orang.
Perjalanan ke sana memakan waktu dua hari penuh, dan untuk pertama kalinya keduanya berangkat tanpa membawa berkas apa pun di dalam tas.
Mereka memilih mengambil perjalanan ke Abram Creeks, kali ini tanpa krisis, tanpa telepon darurat, tanpa daftar korban yang harus dibaca setiap pagi. Dine mengunjungi pusat keamanan biologis yang dahulu ia kritik dengan keras. Ia melihat protokol yang sekarang berjalan, bertanya kepada petugas mudanya, dan mengakui bahwa sebagian kritiknya sudah tidak berlaku lagi. Bian berjalan di peternakan tanpa menjadi pemilik yang memberi perintah kepada semua orang. Ia membuka pagar sendiri, menutup kembali sendiri, dan mendengarkan mandor bercerita tanpa memotong.
Saat matahari terbit, mereka berdiri di depan jendela tempat Bian pernah mengirim foto tanpa lokasi. Cahaya jatuh sama seperti dulu, kuning tipis di atas rumput yang masih berembun, dengan kabut rendah yang bergerak pelan ke arah timur.
"Beautiful morning view from my window," kata Bian.
Dine tersenyum. "Sekarang tidak ada yang kamu sembunyikan di balik pemandangannya?"
"Tidak. Aku masih punya pikiran yang belum semuanya kuucapkan, tapi tidak ada kehidupan lain di belakangmu."
"Aku juga."
Mereka tidak pernah menjadi pasangan tanpa rahasia dalam arti mengetahui setiap isi kepala satu sama lain. Ada hari-hari ketika masing-masing memilih diam karena belum selesai memikirkan sesuatu, dan diam semacam itu tidak pernah mereka anggap kejahatan. Mereka menjadi pasangan yang tidak sengaja menahan kebenaran untuk mengendalikan pilihan satu sama lain.
Dine mengingat akad yang gagal dan suara langkah di lantai marmer hari itu. Ia mengingat kartu akses Orin, wabah Abram Creeks, inkubator Dea dengan bunyi alat yang tidak pernah berhenti berdetak, kematian Dre di pagi yang terlalu tenang, serta rumah yang kini tumbuh sunyi kembali. Semua itu tidak membentuk akhir sempurna. Ia membentuk kehidupan yang terus membutuhkan kejujuran, berulang-ulang, tanpa satu kali pun boleh dianggap selesai.
Bian menggenggam tangannya setelah Dine mengulurkan lebih dahulu.
Telapak tangan itu masih kasar di pangkal jari, bekas pekerjaan yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.
Di kejauhan, ternak bergerak melintasi padang, garis-garis gelap yang berpindah pelan di bawah langit yang makin terang. Perusahaan berjalan tanpa Bian, Animalia berjalan tanpa Dine, dan Dea menuju hidup yang tidak ditulis oleh keduanya.
Tidak ada lagi orang yang berdiri di belakang sambil menentukan arah mereka.
Tidak ada yang main belakang.
Yang ada hanya dua orang berdiri berdampingan, melihat pagi datang, dan tetap memilih saling memberi tahu ketika jalan berubah.