Animalia Pet World merayakan ulang tahun ketiga puluh pada hari Sabtu yang panasnya baru pecah menjelang sore. Koperasi mengadakan kegiatan sederhana di halaman: meja vaksinasi di bawah tenda putih, sesi edukasi untuk pemilik baru di teras samping, dan pameran sejarah layanan hewan yang dipasang di papan gabus sepanjang pagar. Tidak ada panggung besar, tidak ada dekorasi sewaan. Yang ada hanya kursi plastik yang dipinjam dari balai warga, kabel yang direkatkan ke lantai dengan lakban, dan bau rumput yang baru dipotong bercampur bau makanan hewan dari dalam.
Dine diminta memberikan sambutan sebagai pendiri generasi kedua. Ia sempat menolak dua kali sebelum akhirnya menerima, bukan karena gugup, melainkan karena tidak yakin acara itu perlu berpusat pada satu nama. Ketika giliran tiba, ia berdiri di depan foto orang tuanya yang diperbesar dan dipasang di dinding depan. Di hadapannya duduk staf lama yang rambutnya sudah memutih, dokter muda yang baru setahun bergabung, dan keluarga pasien yang datang membawa anjing dan kucing mereka seperti membawa anggota keluarga ke pesta.
Mikrofonnya berdengung sebentar. Dine menunggu sampai dengung itu hilang.
"Tempat ini dimulai sebagai rumah," katanya. "Ia bertahan bukan karena satu keluarga terus memilikinya, tetapi karena banyak orang bersedia bertanggung jawab terhadap kehidupan yang dipercayakan kepada mereka."
Ia berhenti sebentar, membiarkan kalimat itu mendarat, lalu melanjutkan ke bagian yang tidak biasa dibacakan dalam acara ulang tahun. Ia menyebut kesalahan dosis yang pernah terjadi di klinik itu, yang menyebabkan kematian seorang pasien, dan ia menyebutnya dengan tenang, tanpa memperhalus istilah. Beberapa orang menunduk. Seorang staf lama menyeka mata dengan punggung tangan. Dine tidak berhenti di rasa bersalah. Ia menjelaskan bahwa sistem keselamatan yang lahir dari kejadian tersebut kini digunakan banyak klinik koperasi di berbagai kota: pemeriksaan ganda sebelum obat diberikan, catatan yang tidak bisa diubah diam-diam, dan kewajiban melapor tanpa hukuman bagi yang melapor.
Beberapa dokter muda di barisan depan mencatat. Bagi mereka kejadian itu hanya nama prosedur di buku panduan, bukan malam panjang yang pernah membuat seluruh klinik berhenti bicara. Dine sengaja menyebutnya justru agar tetap begitu: dikenang sebagai sebab, bukan sebagai aib yang disimpan rapat sampai terulang.
Bian hadir sebagai suami, bukan sponsor utama. Ia duduk di deretan tengah selama sambutan, dan sesudahnya kembali ke tugas yang ia ambil sendiri sejak pagi: mengurus meja minuman bersama Nola dan Tara. Ia menuang es teh ke gelas kertas, salah menghitung kembalian dua kali, dan diomeli Tara karena menaruh sirop di tempat yang salah. Nola menertawakannya tanpa ampun. Tidak ada yang memperlakukannya sebagai orang penting, dan justru itu yang membuatnya bertahan berdiri di sana sampai sore.
Es di ember mencair lebih cepat daripada perkiraan siapa pun, dan sepanjang siang selalu ada orang yang berjalan ke meja itu hanya untuk berteduh sebentar.
Helena datang mewakili yayasan keluarga. Ia menyalami ketua koperasi, duduk di kursi plastik yang sama dengan orang lain, dan menolak tawaran tempat khusus. Tidak ada logo Emery di panggung, di spanduk, maupun di lembar acara. Sumbangan yayasan tercatat di laporan keuangan koperasi, di baris yang sama dengan sumbangan lain, dengan ukuran huruf yang sama pula.
Ia membawa amplop berisi laporan penggunaan dana tahun sebelumnya dan menyerahkannya kepada bendahara di sela acara, seperti orang menyerahkan tugas yang memang harus diserahkan.
Orin datang menjelang siang, menghadiri sesi rehabilitasi sebagai bagian dari tugasnya, memeriksa dua ekor anjing bekas kasus penelantaran, menandatangani berita acara, lalu pulang setelah tugas selesai. Ia tidak berlama-lama di halaman. Tidak ada reuni yang dipaksakan, tidak ada foto bersama yang diminta seseorang demi kenangan. Sebagian orang memang hanya perlu bertemu secukupnya.
Sebelum pergi ia sempat berhenti di papan pameran, membaca keterangan satu foto lama, lalu melanjutkan langkah. Dine melihatnya dari jauh dan memilih tidak memanggil.
Banan tidak hadir. Namun ada donasi anonim yang masuk dua hari sebelum acara, dan bendahara mengetahui asalnya karena nomor rekening tidak bisa berbohong. Ia mencatatnya seperti sumbangan lain, memasukkannya ke laporan, dan tidak menyebutkannya di depan siapa pun. Uang itu dipakai untuk membeli dua tabung oksigen baru.
Dea memandu stan hewan laut meski acara berfokus pada hewan darat. Ia memasang poster penyu dan paus di antara meja vaksinasi kucing, dan ketika ada yang bertanya kenapa stannya ada di situ, ia menjelaskan bahwa kesehatan sungai, laut, manusia, dan hewan saling terhubung. Air yang membawa limbah ke laut adalah air yang sama yang mengalir di belakang perumahan. Ikan yang sakit adalah ikan yang sampai ke meja makan. Anak-anak mendengarkan sambil memegang boneka penyu, dan beberapa orang tua bertahan lebih lama daripada yang mereka rencanakan.
Menjelang siang persediaan brosurnya habis, dan ia menulis ulang poin-poin penting di kertas bekas dengan spidol yang tintanya hampir kering.
Di sudut halaman, di dekat pagar yang catnya mengelupas, terdapat foto Dre saat pertama ditemukan Bian: kurus, basah, dengan mata yang terlalu besar untuk tubuh sekecil itu. Keterangan di bawahnya tidak menyebut kucing itu sebagai takdir romantis. Tertulis bahwa satu hewan terlantar mempertemukan orang-orang yang kemudian membangun banyak pilihan. Beberapa pengunjung membacanya dua kali sebelum berpindah ke papan berikutnya.
Seorang anak bertanya kepada ibunya apakah kucing itu masih hidup. Ibunya membaca keterangan sekali lagi sebelum menjawab bahwa kucing itu sudah lama tidak ada, tetapi tempat ini masih berdiri karenanya.
Sore turun perlahan. Tenda dibongkar, kursi dikembalikan, sisa makanan dibungkus untuk staf yang berjaga malam. Setelah acara, Dine menutup pintu klinik bersama ketua koperasi. Kunci utama berada di tangan orang lain sekarang, dan Dine berdiri sedikit di belakang sambil menunggu bunyi kunci itu. Ia tidak lagi memiliki kunci utama, tetapi tetap merasa pulang setiap kali masuk. Perasaan itu ternyata tidak bergantung pada siapa yang memegang logam kecil di tangan.
Bian menunggunya di luar, bersandar pada tiang lampu, lengan baju digulung, gelas kertas terakhir masih di tangannya.
"Tiga puluh tahun," katanya.
"Dan semoga tiga puluh tahun lagi tanpa harus dimiliki Dea."
Bian tertawa pendek, mengangguk, lalu membuang gelas itu ke tempat sampah. Mereka berjalan ke rumah bersama, menyusuri jalan yang lampunya baru menyala satu per satu, melewati pagar-pagar yang sudah mereka hafal urutannya. Di halaman belakang, di bawah pohon tempat abu Dre ditanam, Dea sudah lebih dahulu berjongkok. Ia meletakkan gambar paus kecil yang ia buat sendiri, ditindih batu supaya tidak terbang, lalu berdiri dan menepuk celananya.
Tidak ada yang berkata apa-apa selama beberapa saat. Angin menggerakkan daun di atas mereka. Dari dalam rumah terdengar bunyi kulkas yang menyala.
Masa lalu, pekerjaan, dan keluarga bertemu di sana tanpa saling memiliki.