Surat penerimaan itu datang lewat surel pada jam empat sore, dan Dea membacanya di tangga rumah tanpa melepas sepatu. Ia diterima dalam program musim panas biologi laut di Australia. Kegiatannya berlangsung dekat Adelaide, di pesisir dengan air dingin dan angin yang katanya tidak pernah benar-benar berhenti, tetapi bukan bagian dari perusahaan Emery. Tidak ada kantor keluarga di sana, tidak ada nama yang bisa dipakai untuk membuka pintu, tidak ada orang yang akan menyapanya sebagai anak siapa.
Ia membaca surat itu tiga kali sebelum memberitahu siapa pun. Baru setelah itu ia masuk, meletakkan tas di kursi, dan menyodorkan layar ponselnya ke meja makan tanpa berkata apa-apa.
Reaksi pertama Bian adalah menghitung. Dine melihatnya terjadi dari seberang meja: mata suaminya bergerak cepat, dahi berkerut, jari mengetuk sisi gelas. Sebelum makan malam selesai, Bian sudah menyusun rencana lengkap di kepalanya. Ia ingin menyediakan pesawat pribadi supaya jadwal penerbangan tidak perlu menunggu, dan pengawal supaya ada orang yang tahu di mana putrinya berada setiap jam.
Dea menolak sebelum kalimat itu selesai diucapkan. Alasannya sederhana dan tidak bisa dibantah: peserta lain menggunakan penerbangan biasa serta tinggal di asrama. Datang dengan pesawat sendiri berarti masuk ke ruangan itu sebagai orang yang berbeda sejak menit pertama, dan Dea tahu betul bagaimana rasanya diperlakukan berbeda karena hal-hal yang tidak ia pilih.
"Dea mau sama seperti teman-teman," katanya.
Kalimat itu turun ke meja dan tinggal di sana. Bian tidak langsung menjawab. Ia meletakkan sendok, menatap piring, dan tampak sedang berkelahi dengan sesuatu di dalam dirinya sendiri, sesuatu yang jauh lebih tua daripada perjalanan ini.
Dine tahu apa yang sedang ditimbang suaminya. Bukan soal biaya, bukan pula soal kenyamanan. Bian pernah kehilangan kendali atas hal-hal yang ia kira sudah ia amankan, dan sejak itu setiap keberangkatan terasa seperti pintu yang dibiarkan terbuka. Tetapi ketakutan lama bukan alasan yang sah untuk memperkecil dunia anaknya, dan Bian mengetahui hal itu juga.
Penilaian risiko dilakukan seperti untuk urusan lain di rumah itu: tertulis, dengan data, bukan dengan perasaan. Hasilnya menunjukkan perjalanan komersial aman dengan satu pendamping program. Rute ramai, maskapai dengan catatan baik, asrama dengan pengelola yang bertanggung jawab, dan jadwal kegiatan yang jelas dari hari pertama sampai terakhir. Dine mendukung, meski dirinya juga cemas. Ia tidak menyembunyikan kecemasan itu, tetapi juga tidak menaruhnya di pundak Dea sebagai beban tambahan.
Bian akhirnya menyetujui, dan yang lebih sulit daripada menyetujui adalah menepati. Ia tidak diam-diam menempatkan petugas di kota itu, tidak menitipkan pesan kepada siapa pun untuk mengawasi, tidak meminta laporan dari pihak ketiga. Ia hanya meminta kontak darurat serta jadwal kabar yang wajar: satu pesan setiba di asrama, satu panggilan di akhir pekan. Dea menyetujuinya tanpa menawar.
Di program tersebut, Dea belajar merawat penyu yang terluka oleh jaring, membersihkan tempurung, mengukur laju napas, dan mencatat berat badan setiap pagi dengan tangan yang perlahan berhenti gemetar. Ia mengamati paus dari perahu kecil, duduk berjam-jam dalam angin asin, sampai punggung hitam itu muncul jauh di depan dan seluruh perahu diam bersamaan. Ia tidak mengunjungi kantor Emery satu kali pun. Sebagai gantinya, ia memilih bertemu dokter Oliver yang sudah pensiun, untuk mendengar cerita tentang Abram Creeks langsung dari orang yang berada di sana.
Rumah Oliver kecil, penuh buku, dan berbau kopi yang terlalu sering dipanaskan ulang. Ia bercerita panjang, dengan jeda, kadang berhenti untuk mengingat nama. Oliver menjelaskan wabah lama tanpa menyebut Bian sebagai satu-satunya penyelamat. Ada banyak dokter yang tidak tidur berhari-hari, pekerja kandang yang tetap masuk padahal takut, dan penyidik yang menolak menutup berkas ketika ditekan. Dea menulis semuanya di buku catatan, dan untuk pertama kalinya sejarah ayahnya terasa seperti sejarah banyak orang.
Ia pulang dari rumah itu berjalan kaki, menyusuri jalan yang lampunya jarang, dengan buku catatan didekap di dada.
Dea pulang membawa kulit yang lebih gelap, sepatu yang tidak bisa diselamatkan, dan sebuah laporan tentang dampak industri pangan terhadap laut. Ia menyusunnya sendiri, dengan sumber, tabel, dan catatan kaki. Beberapa isinya mengkritik rantai usaha Emery secara langsung, menyebut praktik yang masih berjalan dan angka yang tidak enak dibaca.
Ia menyerahkannya kepada ayahnya di ruang kerja, lalu berdiri di dekat pintu, siap untuk dibantah. Bian membaca dari halaman pertama sampai terakhir tanpa defensif. Ia tidak berkata bahwa Dea belum paham konteks. Ia tidak menjelaskan sejarah perusahaan sebagai pembelaan. Setelah selesai, ia menutup map itu dan meminta izin meneruskan laporan tersebut kepada Faris serta dewan keberlanjutan.
"Kalau mereka tidak setuju?" tanya Dea.
"Mereka harus menjawab dengan data."
Laporan Dea belum cukup sebagai penelitian. Metodenya masih sederhana, sampelnya kecil, dan beberapa kesimpulannya melompat. Dewan menyebut kekurangan itu terus terang. Tetapi laporan tersebut membuka program magang lingkungan bagi pelajar, yang berjalan sejak musim berikutnya dengan anggaran tetap. Namanya tidak dipakai sebagai pendiri, dan ia sendiri yang meminta hal itu.
Beberapa malam kemudian, di meja yang sama tempat surat penerimaan itu dulu disodorkan, Dea menyatakan ingin belajar ilmu kelautan. Bukan memimpin Emery, bukan pula menjadi dokter hewan. Ia mengatakannya pelan, tetapi tanpa meminta maaf.
Dine dan Bian mendukung tanpa menyembunyikan kekecewaan kecil masing-masing, karena menyembunyikannya justru akan membuat dukungan itu terasa palsu. Dine pernah membayangkan Dea meneruskan Animalia, berdiri di ruang periksa yang sama tempat ia sendiri belajar. Bian pernah membayangkan mengajaknya ke peternakan, menunjukkan padang di pagi hari, dan menyerahkan sesuatu yang ia bangun dengan susah payah. Keduanya mengakui bayangan itu ada, lalu meletakkannya.
"Bayangan orang tua bukan kontrak anak," kata Dine.
Bian mengangguk. Ia diam beberapa saat, menatap tangan sendiri, lalu mengangguk sekali lagi seperti orang yang menandatangani sesuatu di dalam kepalanya. Perwalian Dea kemudian diperbarui agar pendidikan apa pun yang dipilih dapat didanai tanpa syarat bergabung dengan perusahaan keluarga. Klausul lama yang mengaitkan dana dengan jalur karier tertentu dicabut, dan pencabutan itu ditandatangani di hadapan Dea supaya ia melihat sendiri kalimatnya hilang.
Dea membaca klausul baru itu sampai habis sebelum ikut membubuhkan paraf, kebiasaan yang tidak ia pelajari dari siapa pun kecuali dari melihat kedua orang tuanya bertahun-tahun.
Pilihan itu belum tentu tetap sampai dewasa. Anak enam belas tahun bisa berubah arah tiga kali sebelum lulus, dan semua orang di ruangan itu tahu. Namun untuk saat ini, Dea memiliki hak mengucapkannya dan didengar, tanpa harus menang lebih dahulu dalam perdebatan tentang siapa yang paling tahu isi masa depannya.