Banan kembali ke Jakarta pada awal musim hujan, ketika aspal kota selalu basah menjelang sore dan pendingin di dalam gedung terasa dingin berlebihan. Ia tidak datang untuk urusan pekerjaan, tidak menghubungi siapa pun lebih dahulu, dan tidak singgah ke tempat mana pun yang dulu ia kenal. Ia datang membawa anjingnya berobat ke pusat darurat koperasi Animalia, satu-satunya tempat di kota itu yang membuka pintu dua puluh empat jam untuk kasus yang tidak sanggup menunggu pagi.
Kandang jinjing itu ia letakkan di meja penerimaan dengan kedua tangan, pelan, seperti orang meletakkan sesuatu yang bisa retak kalau salah sudut. Lantai ruang tunggu berbau disinfektan bercampur bulu basah. Lampu neon berdengung samar di atas kepala. Dokter jaga meraba perut anjing itu, berhenti terlalu lama di satu titik, lalu meminta pemeriksaan lanjutan. Hasilnya menemukan tumor yang membutuhkan operasi. Bukan sesuatu yang bisa ditunda dengan obat, bukan pula sesuatu yang hasilnya bisa dijanjikan.
Banan tidak meminta Dine menangani. Ia tidak menuliskan nama itu di formulir mana pun, tidak menyebutnya kepada perawat, tidak memakainya sebagai kunci untuk membuka pintu yang sudah lama tertutup. Tetapi koperasi bekerja dengan rapat medis setiap pagi, dan kasus berat selalu dibacakan di sana. Begitulah kabar itu sampai kepada Dine: sebagai nomor rekam medis, jenis tumor, dan berat badan pasien, sebelum akhirnya sampai ke nama pemiliknya.
Ada jeda beberapa detik di ruang rapat itu, jeda yang hanya Dine sendiri yang tahu ada. Ia menatap layar, membaca ulang baris yang sama dua kali, lalu meletakkan pena. Di antara semua dokter yang duduk di meja itu, keahliannya memang paling sesuai. Ia sudah menangani puluhan kasus serupa, tangannya paling terlatih untuk lokasi tumor semacam itu, dan menolak berarti menaruh risiko tambahan pada makhluk yang tidak ikut menentukan apa pun dalam sejarah manusia di sekitarnya.
Ia dapat menyerahkan kasus tersebut kepada dokter lain. Tidak ada aturan yang melarangnya, dan tidak seorang pun akan bertanya. Namun ia lebih dahulu memeriksa dirinya sendiri, jujur, tanpa berpura-pura sudah selesai: apakah masih ada bagian dalam dirinya yang ingin membuktikan sesuatu, membalas sesuatu, atau menghukum seseorang lewat meja operasi. Ketika jawabannya tidak, barulah ia memilih memeriksa kasus itu sebagai profesional, setelah memastikan dirinya sanggup.
Pertemuan berlangsung di ruang konsultasi, bukan di koridor, bukan di ruang kerjanya sendiri. Seorang perawat hadir dan mencatat, sesuai prosedur yang berlaku untuk semua pasien dan tidak dibuat khusus untuk hari itu. Meja pendek memisahkan dua kursi. Di dinding tergantung poster anatomi yang tintanya sudah memudar di sudut bawah.
Banan tampak lebih tua daripada terakhir kali Dine melihatnya. Rambutnya menipis di pelipis, bahunya turun sedikit, dan ada garis di sekitar mulut yang tidak dibuat oleh tawa. Ia duduk dengan punggung agak membungkuk, kedua tangan menggenggam satu sama lain di atas lutut. Ia tidak mencoba membicarakan hubungan lama, tidak melempar kalimat pembuka yang bisa ditarik ke arah lain, tidak sekali pun menyebut apa pun di luar pasien.
"Namanya Milo," katanya. Suaranya rendah, seperti orang yang menahan napas terlalu lama sebelum bicara. "Dia satu-satunya yang tetap bersama saya ketika semua orang pergi."
Dine mendengar kalimat itu sampai selesai. Ia tahu bentuk kalimat semacam itu: bukan laporan tentang seekor anjing, melainkan permohonan supaya seseorang mau menimbang ulang seluruh hidup pembicaranya. Ia memilih tidak masuk ke sana. Bukan karena kejam, melainkan karena di ruangan itu hanya ada satu pihak yang benar-benar tidak punya suara, dan pihak itu sedang berbaring di kandang observasi.
"Hewan tidak seharusnya menjadi hukuman atau penebusan," jawab Dine. Ia menggeser map di depannya, membuka halaman hasil pemeriksaan, dan menghadapkannya ke arah Banan. "Kita fokus pada kondisi Milo."
Banan menatap lembar itu tanpa benar-benar membacanya, lalu mengangguk pelan. Perawat di sudut ruangan terus menulis, penanya bergerak tanpa suara. Di luar jendela, hujan mulai turun lagi, tipis, membuat cahaya sore menjadi kelabu. Dine menjelaskan tahapan operasi, risiko pembiusan pada usia setua itu, dan apa yang akan terjadi bila tumor ternyata sudah menempel ke jaringan lain.
Operasi dijadwalkan tiga hari kemudian. Ruang bedah dingin, lampu di atas meja putih dan rata, dan selama dua jam yang terdengar hanya bunyi monitor serta suara instrumen yang diletakkan kembali ke nampan logam. Operasi berhasil mengangkat tumor. Jahitan rapi, pendarahan terkendali, pasien bangun dengan baik. Namun hasil laboratorium yang datang sepuluh hari kemudian menunjukkan kanker agresif. Perawatan dapat memperpanjang waktu tanpa menjamin kesembuhan.
Dine menjelaskan pilihan yang tersedia satu per satu: yang paling agresif dengan efek samping berat, yang menengah, dan yang hanya menjaga kenyamanan. Ia menjelaskan pula apa arti kualitas hidup dalam praktik sehari-hari, bukan sebagai istilah, melainkan sebagai hal yang bisa dilihat pemilik di rumah setiap pagi. Banan mendengarkan, lalu bahunya bergetar. Ia menangis tanpa suara, mengusap wajah dengan telapak tangan, dan meminta rekomendasi jujur.
"Pilih berdasarkan kenyamanan Milo, bukan ketakutan Anda sendiri untuk sendirian," katanya.
Banan memilih terapi yang tidak terlalu agresif. Ia datang untuk kontrol sesuai jadwal, membawa catatan makan dan berat badan yang ditulis tangan, dan tidak pernah sekali pun meminta perlakuan di luar antrean. Milo hidup enam bulan lagi. Ia meninggal di rumahnya, di keranjang tidurnya sendiri, bukan di meja klinik.
Setelah itu Banan mengirim pembayaran terakhir serta surat terima kasih kepada koperasi, bukan kepada Dine pribadi. Surat itu dibacakan bendahara dalam rapat, disimpan di arsip bersama surat-surat lain, dan tidak diberi tempat istimewa. Beberapa minggu kemudian ia pindah permanen ke kota tempat istrinya bekerja.
Bian mengetahui seluruh proses sejak hari pertama, karena Dine sendiri yang memberitahunya, pada malam yang sama, sebelum ditanya. Ia sempat merasa tidak nyaman. Rahangnya mengeras sebentar ketika nama itu disebut, dan ia butuh beberapa detik untuk memilih kalimat berikutnya. Tetapi ia tidak meminta Dine menyerahkan kasus tersebut kepada orang lain.
"Aku percaya pada batas profesionalmu," katanya.
"Terima kasih."
"Tetap saja aku tidak suka dia berada dekatmu."
"Kamu boleh tidak suka."
Bian menarik napas, lalu mengangguk sekali. Perasaan tidak selalu harus diubah menjadi perintah. Rasa tidak suka boleh tinggal di dadanya tanpa dipakai untuk mengatur ke mana istrinya boleh melangkah. Bian belajar membiarkannya lewat, seperti orang membiarkan kereta yang bukan tujuannya berhenti sebentar lalu berangkat lagi.
Dine menyimpan rekam medis Milo sesuai aturan, di rak yang sama dengan ratusan berkas lain, dengan masa simpan yang sama pula. Ia tidak menjadikan akhir itu simbol perdamaian dengan Banan. Tidak ada percakapan penutup, tidak ada maaf yang diucapkan, tidak ada pelukan di pintu. Mereka tidak menjadi teman. Mereka hanya dua orang yang pernah saling melukai dan akhirnya dapat berada dalam satu urusan tanpa mengulang luka.