Nola akhirnya bersedia bertemu Orin ketika pusat rehabilitasi mengadakan program bagi anak-anak adopsi dan hewan terlantar. Undangannya datang lewat selebaran biasa, bukan lewat permintaan pribadi, dan justru itulah yang membuatnya mungkin. Tara ingin ikut sejak melihat foto anjing di halaman depan selebaran dan menanyakannya tiga kali dalam satu minggu, sementara Orin menjadi koordinator kegiatan tersebut.
Mereka sepakat lewat pesan singkat, dua kalimat masing-masing, bahwa pertemuan itu akan berlangsung sebagai orang dewasa yang bekerja, bukan sebagai percobaan mengulang persahabatan lama. Kesepakatan itu meringankan keduanya. Tidak ada yang perlu berpura-pura hangat sejak pagi.
Meski begitu, Nola tidak tidur nyenyak pada malam sebelumnya. Ia memeriksa tas Tara dua kali, menyiapkan topi dan botol air, lalu mengulang di dalam kepalanya kalimat-kalimat yang mungkin ia perlukan. Sebagian dari dirinya diam-diam berharap Orin berhalangan hadir, supaya keputusan itu datang tanpa ia harus mengambilnya sendiri.
Halaman pusat rehabilitasi berbau jerami dan sabun hewan. Matahari belum tinggi, dan kandang-kandang di sisi belakang mengeluarkan bunyi yang saling bersahutan. Beberapa keluarga sudah datang lebih dulu, membawa anak-anak yang berdiri terlalu dekat dengan orang tuanya, masih ragu apakah mereka boleh berlari di halaman itu.
Orin menyambut Tara dengan tenang. Ia berjongkok agar tingginya sejajar, memperkenalkan diri dengan nama saja, dan tidak menyentuhnya tanpa izin, bahkan tidak lebih dulu mengulurkan tangan. Ia menunggu sampai anak itu sendiri yang memutuskan berdiri lebih dekat. Setelah itu ia mengajaknya berkeliling dan memperkenalkan beberapa hewan yang sedang dipulihkan, termasuk seekor anjing bertelinga cokelat yang takut suara keras dan selalu mundur ke sudut ketika pintu terbanting angin.
Tara memperhatikan anjing itu lama sekali, lalu mendongak.
"Dia seperti Tara?" tanya anak itu.
"Ketakutan setiap makhluk berbeda," jawab Orin. "Kita tidak harus menyamakan agar bisa berhati-hati."
Tara mengangguk pelan, lalu berjongkok pada jarak yang cukup jauh dari kandang, meletakkan kedua tangan di lutut, dan menunggu tanpa memanggil. Anjing itu tidak mendekat, tetapi juga tidak mundur lebih jauh ke sudut.
Nola berdiri beberapa langkah di belakang, memegang botol air anaknya, dan mendengar seluruh percakapan itu. Ia melihat perubahan pada perempuan yang dahulu ia kenal, perubahan yang sulit dibantah karena tampak pada hal-hal kecil, pada cara menunggu, pada cara tidak memaksa. Namun ia tetap menjaga jarak. Melihat seseorang berubah bukan berarti wajib membuka kembali pintu yang sudah ia tutup dengan biaya bertahun-tahun. Ia juga tahu apa yang akan dikatakan orang kalau ia bersikap dingin hari itu: bahwa ia menyimpan dendam, bahwa ia tidak cukup dewasa. Ia sudah lama berhenti mengatur sikapnya berdasarkan tuduhan yang bahkan belum tentu diucapkan siapa pun.
Setelah kegiatan selesai dan anak-anak berkumpul di dekat tenda minum, Orin meminta maaf langsung kepadanya karena dahulu menjadikan pertemanan mereka penutup perselingkuhan. Ia menyebut perbuatannya dengan kalimat yang jelas, tanpa kata yang memperhalus, tanpa menjelaskan keadaan dirinya waktu itu sebagai pembenaran.
"Aku menerima bahwa kamu menyesal," kata Nola. "Tapi hidupku tidak membutuhkan persahabatan kita kembali."
Orin mengangguk. "Aku mengerti."
Tidak ada yang menangis. Tidak ada yang mencoba menambahkan satu kalimat lagi untuk melunakkan bunyinya. Angin membawa bau jerami dari arah kandang. Di kejauhan seorang relawan memanggil anak-anak untuk mencuci tangan sebelum makan siang. Percakapan itu selesai dalam waktu yang jauh lebih pendek daripada bertahun-tahun yang mendahuluinya.
Dine berdiri agak jauh dan tidak mencoba menjadi penengah. Bertahun-tahun lalu ia mungkin akan menyodorkan kalimat penghubung, mencari cara agar semua orang pulang dengan perasaan enak. Sekarang ia tahu perasaan enak yang dibuat paksa hanya menunda hal yang sama untuk muncul lagi nanti dengan bentuk lebih buruk.
Mereka bertiga akhirnya duduk di bangku kayu di bawah pohon, minum selama beberapa menit, membicarakan pekerjaan dan anak-anak. Orin bercerita tentang dana kegiatan yang selalu kurang. Nola menyebut jadwal terapi Tara. Dine menceritakan koperasi yang baru mengambil alih kliniknya. Percakapan itu datar, sopan, dan anehnya melegakan. Tidak ada yang menyinggung masa lalu. Bukan karena sengaja dihindari, melainkan karena bagian itu sudah diselesaikan setengah jam sebelumnya, dan tidak ada yang merasa perlu mengulanginya untuk memastikan.
Lalu mereka berdiri hampir bersamaan, dan pulang melalui arah berbeda.
Tidak ada pelukan. Tidak ada foto reuni yang diminta seseorang untuk diunggah dengan keterangan panjang tentang waktu yang menyembuhkan segalanya. Namun pertemuan itu membuktikan sesuatu yang tidak pernah bisa mereka lakukan pada masa lalu: mereka dapat berada dalam satu ruang tanpa kebohongan di antara mereka.
Di mobil, dengan Dea duduk di samping ibunya dan lampu jalan mulai menyala satu per satu, pertanyaan itu datang.
Dea kemudian bertanya mengapa Orin bukan lagi sahabat ibunya, padahal tadi semuanya terlihat baik-baik saja. Dine menjelaskan bahwa seseorang dapat dimaafkan tanpa mendapat tempat yang sama seperti dahulu. Maaf menghentikan dendam. Maaf tidak dengan sendirinya mengembalikan kunci rumah. Ia memilih kata-katanya hati-hati, sebab Dea sedang berada pada usia ketika penjelasan orang tua langsung diubah menjadi aturan hidup tanpa disaring lagi.
Dea memutar-mutar tali tasnya, lalu bertanya lagi dengan suara yang lebih kecil.
"Kalau Dea salah, Ibu tidak mau jadi ibu lagi?" tanyanya.
"Tidak. Hubungan orang tua dan anak berbeda. Tapi Ibu tetap boleh membuat batas kalau tindakanmu menyakiti."
Dea memikirkan jawaban itu lama, sampai wajahnya berganti terang dan gelap di kaca jendela. Dine membiarkannya berpikir tanpa diganggu. Ia tahu tidak ada penjelasan yang sempurna untuk anak sepuluh tahun tentang hal yang bahkan sering disalahpahami orang dewasa. Tetapi ia tidak ingin mengajarkan pengampunan sebagai kewajiban mengembalikan akses, sebab anak yang tumbuh dengan pelajaran seperti itu akan menjadi orang dewasa yang membiarkan dirinya disakiti berulang kali demi terlihat berhati baik.
Malamnya Orin mengirim pesan terakhir kepada grup lama mereka yang sudah bertahun-tahun tidak aktif. Grup itu masih menyimpan foto profil zaman kuliah dan pesan terakhir tentang rencana makan malam yang tidak pernah terjadi.
Terima kasih sudah memberi ruang hari ini. Aku tidak akan memakai ruang itu untuk meminta lebih.
Nola membaca pesan itu, menatapnya beberapa detik, lalu meletakkan ponselnya menghadap ke bawah di atas meja. Ia tidak membalas, dan ia tidak merasa perlu menjelaskan alasannya kepada siapa pun.
Dine mengirim satu tanda terima kasih. Setelah itu layar berhenti bergerak. Ia menaruh ponselnya di meja samping tempat tidur dan mematikan lampu. Sempat beberapa menit ia menunggu, setengah berharap ada yang mengetik di sana, lalu menyadari bahwa tidak adanya balasan pun merupakan jawaban yang sah.
Grup itu kembali sunyi, kali ini bukan karena rahasia.