Notaris itu menelepon pada hari Selasa, pukul sembilan lewat, ketika Dine baru saja menutup pintu ruang konsultasi dan aroma kopi dari pantry Animalia masih menempel di lorong. Suaranya datar dan sopan, dilatih bertahun-tahun untuk menyampaikan hal berat tanpa membuat orang di ujung sana merasa dipojokkan. Ia menyebut nama lengkap Banan Aleric, menyebut kata almarhum, lalu berhenti sebentar agar kata itu punya tempat untuk mendarat.
Banan meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di kota tempat tinggalnya. Truk pengangkut yang rem anginnya gagal di turunan, mobil kecil di jalur kiri, dan urusan sepersekian detik yang tidak bisa dibantah siapa pun. Istrinya yang mengurus semua dokumen. Di antara berkas itu ia menemukan surat wasiat pribadi berisi permintaan agar beberapa barang lama dikembalikan kepada Dine.
Dine mendengarkan sambil berdiri di samping jendela. Di luar, seorang pemilik kucing sedang menurunkan kandang dari motor, dan suara logam kandang beradu terdengar sampai ke dalam. Ia menyadari tangannya dingin. Ia juga menyadari bahwa yang mengejutkan bukan kabar kematiannya, melainkan betapa sedikit yang ia rasakan pada detik pertama, seolah tubuhnya menunggu izin untuk merasakan sesuatu.
Barang itu tiba dua minggu kemudian dalam kotak karton berukuran sedang, disegel lakban cokelat, ringan sekali untuk sesuatu yang membawa nama sebanyak itu. Isinya hanya salinan foto masa muda dan buku perencanaan pernikahan yang gagal. Bukan perhiasan, bukan surat berharga, bukan apa pun yang bisa diperkarakan.
Kotak itu berdiri tiga hari di sudut ruang kerja. Dine mempertimbangkan membuangnya tanpa melihat. Ia sudah menyusun alasannya dengan rapi di kepala: tidak ada gunanya, ia sudah selesai, membuka kotak itu hanya memberi masa lalu ruang yang tidak diminta. Namun ia mengenali bentuk pikirannya sendiri. Itu bukan ketenangan. Itu penghindaran yang dipakaikan baju rapi.
Maka pada malam keempat, setelah rumah sepi dan lampu ruang tengah dikecilkan, ia membawa kotak itu ke meja makan dan memilih membukanya bersama Bian.
Bian tidak bertanya apa-apa. Ia mengambil pisau kecil dari laci, memotong lakban dalam satu tarikan, lalu duduk di kursi sebelah, bukan di seberang. Jarak itu ia pilih dengan sadar. Duduk di seberang berarti menonton. Duduk di sebelah berarti menemani.
Foto-foto itu keluar lebih dulu. Dine berumur dua puluh dua di sana, rambut diikat asal, jas dokter yang masih terlalu baru, tertawa ke arah kamera yang dipegang seseorang yang saat itu ia percaya sepenuhnya. Kertasnya sudah menguning di tepi dan berbau seperti lemari lama.
Surat Banan berada di bawah buku perencanaan, dilipat dua, ditulis tangan. Ia tidak meminta maaf lagi. Kalimat pembukanya justru menyebutkan bahwa permintaan maaf sudah habis nilainya sejak lama, dan mengulanginya hanya akan menjadi cara menyamankan diri sendiri. Ia menulis bahwa kehidupan barunya tidak menghapus kerusakan lama; anak-anaknya, pekerjaannya, kota yang ia tempati, semuanya berdiri di atas tanah yang ia rusak sendiri dan tidak pernah ia perbaiki. Lalu satu kalimat di paragraf terakhir, ditulis dengan tinta yang lebih tebal seolah pena ditekan: ia bersyukur Dine tidak menikah dengannya saat dirinya belum mampu jujur.
Dine membaca kalimat itu dua kali. Pada bacaan kedua, sesuatu di dadanya lepas.
Ia menangis. Bukan tangis pendek yang bisa dihapus dengan punggung tangan, melainkan tangis yang membuat bahunya bergerak dan napasnya patah-patah. Ia menangisi kematian seseorang yang pernah dicintainya, dan ia tidak berusaha meluruskan itu menjadi sesuatu yang lebih pantas.
Bian duduk di sampingnya tanpa bergerak menjauh. Ada waktu, bertahun-tahun lalu, ketika ia akan menghitung tangis ini sebagai ancaman, sebagai bukti bahwa ada ruang dalam diri istrinya yang tidak pernah ia miliki. Malam itu ia hanya meletakkan telapak tangan di punggung Dine dan membiarkannya sampai selesai. Ia sudah cukup lama belajar bahwa duka bukan pengkhianatan.
"Aku tidak ingin kembali kepadanya," kata Dine.
"Aku tahu."
"Tapi ada bagian hidupku yang ikut selesai."
"Aku tahu."
Dua kata itu diucapkan dengan cara yang sama persis pada kedua kalinya, tanpa tambahan, tanpa penjelasan. Dine bersandar ke bahu suaminya dan membiarkan ruangan diam.
Keesokan harinya ia mengirim belasungkawa kepada istri Banan. Pesannya pendek, ditulis ulang tiga kali sampai tidak ada kalimat yang bisa dibaca sebagai pintu. Ia menyebut turut berduka, menyebut bahwa barang-barang sudah diterima, dan berterima kasih atas kesediaan perempuan itu mengurusnya di tengah kehilangan. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada tawaran bertemu. Percakapan itu selesai di satu kali kirim, dan keduanya membiarkannya selesai.
Buku perencanaan pernikahan disimpan di arsip pribadi dengan akses terbatas, di lemari yang sama tempat ia menyimpan dokumen hukum lama. Ia memikirkan Dea saat memutuskan itu. Ia tidak ingin anaknya menemukan buku itu suatu hari tanpa konteks, membaca daftar susunan kursi dan menu yang tidak pernah dipakai, lalu menyusun sendiri cerita yang salah. Namun ia juga tidak mau berpura-pura masa itu tidak pernah ada. Menyembunyikan dan menghapus adalah dua hal berbeda, dan ia sudah pernah melihat apa yang dilakukan penghapusan kepada satu keluarga.
Pemakaman berlangsung di kota Banan, di bawah langit yang mendung sejak pagi. Dine berdiri di barisan belakang, mengenakan pakaian gelap tanpa aksesori, dan tidak mendekat ke depan. Ia melihat Orin di sisi lain kerumunan, berdiri sama jauhnya dari liang, dengan payung yang tidak dibuka meski gerimis mulai turun.
Mereka saling mengangguk. Hanya itu. Tidak ada yang berjalan mendekat, tidak ada percakapan tentang siapa yang lebih berhak berduka, siapa yang lebih dulu dirusak, siapa yang lebih lama menunggu. Keduanya sudah membayar bagian masing-masing dan tidak ada yang menagih.
Sepulangnya, sebelum kembali ke rumah, Dine meminta mobil berhenti di depan Animalia. Klinik sudah tutup. Ia membuka pintu dengan kunci sendiri, menyalakan satu lampu, dan duduk di ruang tunggu, di bangku panjang yang catnya sudah dua kali diperbarui sejak tahun pertama.
Tempat itu adalah awal pertemuannya dengan Bian, di sore ketika seorang lelaki asing masuk membawa anjing yang ketakutan dan tidak tahu bahwa hidupnya akan berbelok di ruangan berbau disinfektan ini. Dan malam itu, tempat yang sama menjadi saksi akhir hubungannya dengan Banan. Dua garis hidup bertemu di satu bangku kayu, satu dimulai, satu ditutup.
Kematian tidak mengubah Banan menjadi orang baik atau buruk sepenuhnya. Ia tidak berubah menjadi malaikat karena sudah tiada, dan tidak berubah menjadi monster karena sudah tidak bisa membela diri. Ia tetap manusia yang membuat pilihan merusak, lalu mencoba hidup setelah akibatnya, dan berhenti di tengah jalan seperti kebanyakan orang.