Dea pulang pada akhir Juni, membawa dua koper dan satu tabung karton berisi ijazah yang belum sempat ia buka. Rumah mendadak terasa lebih penuh: sepatu lapangan di rak depan, tumpukan jurnal di meja ruang tengah, bau garam samar yang seperti ikut menempel di jaketnya meski ia baru turun dari pesawat. Selama dua hari pertama, tidak ada yang membicarakan masa depan. Mereka hanya makan, tidur terlalu lama, dan menonton hujan sore dari teras belakang.
Pada hari ketiga, Dea meletakkan laptopnya di meja makan dan memutar layar menghadap kedua orang tuanya. Ia menerima tawaran bekerja dalam proyek konservasi laut di kawasan terpencil, kontrak tiga tahun, dengan rotasi lapangan yang panjang dan sinyal yang disebut dokumen itu sebagai terbatas dan tidak dapat dijamin.
Bian membaca layar itu lebih lama daripada yang diperlukan. Di dalam kepalanya, ia sedang menawar. Ia berharap putrinya tinggal di Jakarta lebih dulu, satu tahun saja, mungkin dua, cukup untuk membuatnya terbiasa punya anak yang berada di kota yang sama. Ia ingin makan malam yang tidak perlu dijadwalkan lewat aplikasi pesan.
Dine merasakan hal yang mirip dan lebih sederhana. Ia ingin waktu. Bertahun-tahun mereka terpisah oleh sekolah, oleh benua, oleh keputusan-keputusan yang selalu benar tetapi selalu memakan tahun. Namun ia juga membaca dokumen itu sebagai dokter: uraian pekerjaannya cocok dengan keahlian Dea, dan lebih dari itu, cocok dengan apa yang selama ini membuat anaknya menyala ketika bercerita.
"Aku tidak meminta izin memilih pekerjaan," kata Dea. "Tapi aku ingin mendengar kekhawatiran kalian."
Kalimat itu diucapkan tanpa tantangan. Ia menutup laptop setengah, meletakkan kedua tangan di meja, dan menunggu. Bian menyadari bahwa anaknya sedang memberi ruang yang dulu tidak pernah diberikan kepada Bian sendiri oleh generasi di atasnya. Ia teringat meja lain, bertahun-tahun lalu, tempat keputusan diumumkan kepadanya sebagai hal yang sudah selesai, tanpa satu pun pertanyaan tentang apa yang ia rasakan. Jarak antara dua meja itu memakan tiga puluh tahun untuk dibangun, dan malam ini ia duduk di sisi yang benar tanpa merasa berhak atas pujian apa pun.
Maka mereka membahasnya satu per satu, sampai kopi habis dan lampu ruang makan dinyalakan. Keselamatan: prosedur menyelam, rasio pendamping, alat komunikasi darurat, jarak ke fasilitas medis terdekat. Kontrak: durasi, klausul pemutusan, kepemilikan data penelitian. Fasilitas kesehatan: siapa yang membayar evakuasi kalau ada kecelakaan dekompresi. Komunikasi: berapa hari maksimal tanpa kabar sebelum sebuah keadaan disebut darurat.
Bian menawarkan satu hal saja, dan ia menyusun kalimatnya hati-hati. Pengacara mereka bisa memeriksa dokumen, mencari pasal yang merugikan, lalu menyerahkan catatan itu kepada Dea. Bukan menegosiasikannya. Bukan menelepon siapa pun. Hanya membaca dan menandai. Dea menimbang beberapa detik, lalu menerima, dan Bian menahan diri untuk tidak terlihat terlalu lega.
Dua minggu berikutnya, catatan pengacara itu memunculkan satu hal yang tidak diduga siapa pun. Proyek tersebut ternyata didanai sebagian oleh lembaga yang memiliki hubungan bisnis dengan Emery, lewat rantai donasi yang tidak langsung tetapi cukup jelas untuk dipersoalkan orang.
Dea tidak menariknya sebagai alasan mundur, dan tidak juga menganggapnya kebetulan yang bisa didiamkan. Ia menulis surat kepada koordinator program dan meminta mekanisme konflik kepentingan tertulis: namanya tidak boleh dipakai dalam materi penggalangan dana, ia tidak duduk di komite yang memutuskan alokasi anggaran dari sumber itu, dan setiap keputusan yang menyentuh donor tersebut harus melewati orang lain.
"Kamu belajar itu dari siapa?" tanya Bian.
"Dua orang yang selalu membuat aturan sebelum mengerjakan apa pun."
Dine tertawa. Tawanya lepas, sedikit terlalu keras untuk ruang makan sekecil itu, dan Bian memandangi istrinya dengan ekspresi orang yang baru saja kalah dengan senang hati.
Sebelum berangkat, ada satu urusan lagi yang harus diselesaikan, dan urusan itu berbentuk map tebal dari kantor perwalian. Dea membacanya sendirian selama satu malam penuh, lalu turun pagi-pagi dengan keputusan yang sudah jadi. Ia memilih tidak mengambil saham dengan hak suara. Sebagian aset ia alihkan ke dana konservasi independen yang pengurusnya tidak boleh berasal dari lingkaran keluarga, dan sebagian lagi ia simpan untuk keamanan pribadi, karena, katanya, menolak kekuasaan tidak berarti harus menolak kemampuan membiayai diri sendiri.
Bian menandatangani dokumen itu dengan tangan yang tidak gemetar dan dada yang terasa berat. Garis kepemilikan keluarga, yang dibangun kakeknya, diperluas ayahnya, dan dijaga Helena dengan cara yang merusak banyak orang, berakhir padanya. Ada kesedihan di situ, jenis kesedihan yang tidak pantas ia keluhkan kepada siapa pun. Tetapi di bawahnya ada rasa bangga yang lebih besar: keputusan itu dibuat bebas, oleh orang yang tidak sedang menghindari apa pun.
Makan malam terakhir diadakan di rumah, bukan di restoran. Meja panjang ditarik ke tengah, dua kursi tambahan diambil dari ruang kerja, dan jendela dibiarkan terbuka sehingga bau tanah basah masuk bersama angin sore. Helena hadir dengan tongkat, datang lebih awal dan menolak dibantu naik tangga meski akhirnya menerima tangan Bian di anak tangga terakhir. Nola datang bersama Tara, membawa kue yang dibuat terlalu banyak seperti biasa. Orin hadir sebagai kolega Yayasan Edrea, duduk di ujung meja, berbicara tentang program rehabilitasi dan bukan tentang apa pun yang lain.
Meja itu tidak berubah menjadi keluarga besar yang sempurna. Ada jeda canggung ketika seseorang hampir menyebut nama yang sebaiknya tidak disebut. Ada dua orang yang sepanjang malam tidak saling menyapa langsung. Setiap orang tetap memiliki jarak serta sejarah, dan tidak ada yang berpura-pura jarak itu sudah lunas. Yang mereka lakukan hanya duduk di ruangan yang sama selama tiga jam, dan itu sudah lebih banyak daripada yang pernah bisa dilakukan generasi sebelumnya.
Dea berangkat keesokan pagi. Mobil datang pukul lima, langit masih biru gelap, dan lampu teras menyala sendirian di atas dua koper.
Kali ini Bian hanya memeriksa dokumen sekali. Paspor, tiket, surat penugasan, kartu asuransi. Sekali, lalu ia menutup map dan menyerahkannya.
"Kemajuan besar," kata Dine.
"Aku memeriksanya dua kali sebelum kalian bangun."
Dea tertawa dan memeluk mereka, satu per satu, lalu keduanya sekaligus, cukup lama sampai sopir berpura-pura sibuk dengan bagasi. Bau garam itu sudah kembali, atau mungkin memang tidak pernah pergi. Dine berdiri di teras sampai lampu belakang mobil hilang di tikungan, dan Bian tetap di sampingnya tanpa mengatakan apa-apa, masih memegang map kosong yang lupa ia letakkan.
Anak yang dahulu disebut pewaris Emery pergi untuk menjaga laut. Ia membawa nama kedua keluarganya di paspornya, dua kata yang pernah dipakai orang lain untuk saling melukai, dan berangkat tanpa menjadi milik salah satunya.