Pulau itu terletak sebelas jam berlayar dari pelabuhan terdekat, dan peta di dinding ruang kerja Bian menunjukkannya sebagai titik yang lebih kecil daripada kepala jarum. Jaringan komunikasi di sana terbatas: satu antena yang bekerja kalau cuaca bersahabat, satu telepon satelit milik proyek, dan kebiasaan lama para peneliti mengirim pesan bertumpuk sekaligus begitu sinyal muncul.
Pada bulan pertama, Dea rajin memberi kabar. Pesannya datang pada jam-jam ganjil, kadang pukul dua dini hari, kadang tengah hari, mengikuti kapan antena mau bekerja. Foto dermaga kayu saat matahari terbit, catatan suhu air, keluhan tentang generator yang berisik, potret seekor penyu yang sirip depannya cacat. Bian menyimpan semuanya di satu folder yang ia buka lebih sering daripada yang mau ia akui.
Lalu musim penelitian datang. Kapal berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam, jadwal penyelaman menumpuk, dan pesan-pesan itu berkurang sampai menjadi satu baris pendek setiap beberapa hari. Bian mulai menghitung. Ia mendapati dirinya membuka aplikasi pesan di sela rapat, memeriksa tanda terakhir daring, lalu memeriksanya lagi sepuluh menit kemudian seperti orang yang menekan tombol lift yang sudah menyala.
Pada hari keempat tanpa kabar, ia menelepon seorang staf lama Emery. Orang itu masih menyimpan nomor lamanya, masih menjawab dengan sebutan Pak, dan masih tahu cara menanyakan sesuatu tanpa meninggalkan jejak. Bian memintanya memeriksa proyek secara diam-diam: siapa kontraktor kapalnya, siapa penanggung jawab lapangan, apakah ada laporan insiden yang belum keluar.
Perintah itu belum sempat dijalankan ketika Dine mengetahuinya. Bukan karena menyelidiki, melainkan karena Bian meninggalkan ponselnya menghadap ke atas di meja dapur, dan nama staf itu muncul di layar dengan pesan yang terlalu jelas untuk disalahartikan.
Dine berdiri di ambang pintu dapur, gelas air masih di tangan, dan tidak meninggikan suara.
"Kamu berjanji meminta izin," katanya.
"Sudah empat hari tidak ada kabar."
"Protokol proyek mengatakan maksimal tujuh hari saat kapal berada di laut."
Bian membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya kembali. Ia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan: bentuk lama dirinya, yang menyelesaikan ketakutan dengan mengirim orang, dengan membeli informasi, dengan memastikan bahwa ia selalu tahu lebih dulu daripada siapa pun. Bentuk itu tidak mati. Ia hanya tidur, dan rasa takut adalah alarm yang membangunkannya.
Ia mengakuinya dengan suara pelan, tanpa menghias alasannya. Malam itu juga ia menelepon staf tadi dan membatalkan pemeriksaan, lalu menutup ponselnya di dalam laci. Sisa tiga hari itu ia lalui dengan tidur buruk, kopi terlalu banyak, dan satu pagi ketika ia mencuci mobil yang sebenarnya tidak kotor hanya supaya tangannya ada kerjanya. Dine tidak menyinggungnya lagi. Ia hanya memastikan lampu dapur menyala setiap kali suaminya turun pukul tiga pagi, dan meninggalkan gelas air di meja tanpa berkomentar.
Pada hari keenam, telepon satelit berdering. Suaranya berlapis desis, dan setiap kalimat terlambat setengah detik. Semua peserta aman. Kapal terjebak arus dan bermalam di teluk sebelah, antena utama basah, dan generator cadangan baru menyala kemarin.
Dea kecewa ketika mendengar ayahnya hampir mengirim orang. Ia mengatakannya terus terang, tanpa memperhalus, dan Bian menerimanya tanpa membela diri. Tetapi ia juga menghargai pembatalan itu, dan mengatakan bagian itu dengan sama jelasnya.
"Ayah masih belajar," kata Bian.
"Dea juga belajar memberi kabar sebelum sinyal hilang."
Kesepakatan itu tidak ditulis di mana pun, tetapi keduanya menaatinya lebih baik daripada banyak kontrak.
Tahun kedua membawa persoalan yang jauh lebih besar daripada empat hari sunyi. Tim menemukan pencemaran di perairan sebelah utara: logam berat dalam sedimen, karang yang memutih dalam pola yang tidak alami, dan jejak buangan yang bisa dilacak ke satu fasilitas pengolahan di daratan. Fasilitas itu milik pemasok salah satu anak usaha Emery.
Dea membaca hasil laboratorium itu tiga kali, lalu duduk lama di dermaga sampai lampu ruang generator dimatikan. Ia tahu persis apa yang paling mudah dilakukan: menelepon ayahnya lebih dulu, membiarkan urusan itu selesai di dalam, diam-diam, tanpa ada yang tercatat. Cara itulah yang dipakai keluarganya selama tiga generasi, dan cara itu pula yang hampir menghancurkan semua orang di dalamnya.
Ia menyerahkan data melalui saluran regulator, lengkap, dengan metodologi dan rantai penyimpanan sampel yang bisa diperiksa siapa pun. Baru setelah laporan resmi masuk dan nomor registrasinya keluar, ia menelepon rumah.
Bian mendengarkan sampai selesai. Ia tidak meminta salinan data pribadi. Ia tidak menanyakan nama pelapor lain. Ia tidak menelepon Faris untuk menekan, tidak meminta laporan itu ditahan, tidak mencari tahu pejabat mana yang menangani berkas. Ia hanya berterima kasih, lalu menutup telepon dan duduk di ruang kerjanya selama sepuluh menit tanpa menyalakan lampu.
Emery melakukan audit rantai pasok. Kontrak pemasok itu diputus dalam enam minggu. Perusahaan juga membayar biaya pemulihan sesuai tanggung jawab rantai pasok, bukan sebagai sumbangan sukarela yang bisa dipamerkan, melainkan sebagai kewajiban yang dicatat dalam laporan tahunan dengan angka dan nama.
Media tetap menulisnya dengan cara yang paling menjual. Anak pendiri menyerang perusahaan keluarga, begitu bunyi salah satu judul, dan potongan itu beredar berhari-hari. Dea menolak istilah tersebut ketika seorang jurnalis akhirnya berhasil menghubunginya lewat radio proyek.
"Melaporkan pencemaran bukan serangan. Hubungan keluarga tidak mengubah hasil laboratorium," katanya.
Kalimat itu dikutip di mana-mana, kadang utuh, kadang dipotong setengah, dan Dea tidak pernah meminta ralat untuk yang setengah. Bian membaca versi potongan itu di layar ponselnya, di ruang tunggu bandara, lalu menahan diri untuk tidak menelepon siapa pun demi memperbaikinya. Menahan diri, ia sadari, adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai.
Setelah tiga tahun, ia pulang. Rambutnya kaku oleh garam yang tidak hilang meski sudah dua kali dicuci di bandara transit. Kulitnya lebih gelap dua tingkat, ada bekas luka kecil akibat karang di betis kanan dan punggung tangan kiri, bekas yang ia sebut biasa dan tidak layak dibicarakan. Ia membawa pengalaman yang tidak bisa dipadatkan menjadi ringkasan, dua kotak sampel yang harus diurus perizinannya, dan satu keputusan: ia akan melanjutkan studi.
Ia tidak pulang untuk menetap, dan mengatakannya di hari pertama supaya tidak ada yang berharap salah. Rumah tetap menyambutnya tanpa syarat. Kamarnya masih kamarnya. Tidak ada yang menuntut perpanjangan.
Bian ingin merayakan besar-besaran. Ia sudah memikirkan tempat, daftar undangan, bahkan pidato pendek yang tidak akan ia bacakan. Dea memilih makan malam bersama keluarga, meja yang sama, kursi yang sama, tanpa satu pun orang tambahan.
"Tiga tahun dan masih tidak mau pesta?" tanya Bian.
"Konsisten itu baik, Ayah."