Penurunan itu datang perlahan, lalu tiba-tiba. Selama dua musim, Helena masih mengajar setiap Sabtu pagi dengan tongkat bersandar di kaki meja. Lalu jadwalnya menjadi dua minggu sekali, kemudian sebulan sekali, kemudian ia mulai meminta muridnya datang ke apartemen karena lift terasa terlalu jauh dari pintu. Napasnya lebih pendek. Tangan kirinya, yang sejak stroke tidak pernah benar-benar kembali, kini sering dingin sampai ke siku.
Ia sendiri yang mengangkat pembicaraan, pada sore ketika Dine datang membawa buah dan menemukan gelas air di meja yang tidak tersentuh sejak pagi. Ia meminta pindah ke rumah perawatan yang memiliki dukungan penuh: perawat dua puluh empat jam, oksigen, dokter jaga di gedung yang sama.
Bian menawarkan rumah mereka untuk kedua kalinya dalam hidupnya, dan untuk kedua kalinya ditolak. Alasannya sama, hanya lebih pendek karena tenaganya lebih sedikit. Ia tidak mau mati di kamar tamu seseorang. Ia mau berada di tempat yang memang dibangun untuk itu, dengan orang-orang yang dibayar untuk melakukannya dengan baik, supaya keponakannya bisa datang sebagai keponakan dan bukan sebagai pengurus jenazah yang sudah kelelahan sebelum waktunya.
Sebelum pindah, ada satu pekerjaan yang harus ia selesaikan. Naskah itu sudah berbulan-bulan berada di meja kerjanya, disusun dari catatan tangan, dokumen lama, dan ingatan yang ia periksa silang dengan arsip perusahaan.
Buku tentang sejarah keluarga Emery.
Isinya bukan yang biasa ditulis untuk keluarga seperti itu. Ada bab tentang pembangunan perusahaan, tahun-tahun awal, pabrik pertama, keputusan yang benar dan mahal. Tetapi ada juga bab tentang penyalahgunaan Edrick, ditulis dengan tanggal dan nomor dokumen. Ada bab tentang sabotase Abram Creeks, disusun dari berkas yang selama puluhan tahun disimpan di brankas dan tidak pernah dibuka wartawan mana pun. Dan ada satu bagian, dua puluh halaman, tentang caranya sendiri mengganggu Animalia: siapa yang ia telepon, izin apa yang ia hambat, dan apa alasan yang ia berikan kepada dirinya sendiri saat itu.
Dine membacanya lebih dulu, di ruang tamu apartemen itu, sementara Helena duduk di kursi dekat jendela dan berpura-pura tidak memperhatikan.
"Saya tidak ingin buku keluarga hanya mencatat gedung dan keuntungan," katanya.
Dine membantu memilih editor independen, orang yang tidak pernah bekerja untuk Emery, tidak memiliki saham, dan berhak menolak kalimat mana pun yang menurutnya menghias. Kontraknya dibuat sedemikian rupa sehingga keluarga tidak bisa menarik naskah setelah proses dimulai.
Bian membaca versi ketiga dan berhenti di satu bagian. Ia meminta bagian tentang ayahnya diperbaiki karena terlalu memuji Abram, terlalu banyak menyebut visi dan keberanian, terlalu sedikit menyebut akibatnya bagi orang lain. Helena awalnya menolak dengan keras. Ia mengatakan bahwa Bian sedang menuntut buku itu menghukum satu orang lebih berat daripada yang ditanggung dokumen.
Perdebatan itu selesai bukan dengan suara yang lebih keras, melainkan dengan kertas. Bian membawa map berisi dokumen pelanggaran lama, berkas yang selama ini tidak pernah sampai ke tangan Helena karena memang sengaja tidak disampaikan kepadanya. Perempuan itu membacanya selama dua jam, dengan kacamata melorot dan bibir yang sesekali bergerak tanpa suara. Ketika selesai, ia menutup map, meletakkan telapak tangan di atasnya, lalu mengatakan bahwa bagian itu akan ditulis ulang.
Buku diterbitkan tanpa acara mewah. Tidak ada peluncuran di hotel, tidak ada panggung, tidak ada foto keluarga di sampul belakang. Hanya rilis kecil, satu wawancara tertulis, dan tumpukan buku di toko yang tidak ditata di jendela depan. Seluruh keuntungannya masuk ke dana pendidikan etika bisnis dan kesejahteraan hewan, dengan pengurus yang sama sekali tidak bisa dipilih keluarga.
Helena meninggal beberapa bulan kemudian, dalam tidur, pada dini hari yang sunyi. Perawat menemukannya pukul lima, tangan kiri yang lemah itu terletak di atas dada seperti sedang menahan sesuatu yang ringan.
Pemakamannya berlangsung sederhana sesuai wasiat. Ia menuliskan sendiri daftar larangannya: tidak ada karangan bunga dari perusahaan, tidak ada undangan kepada mitra bisnis, tidak ada pidato yang menyebutnya penjaga sempurna nama Emery. Yang datang berjumlah kurang dari empat puluh orang, sebagian besar mantan muridnya yang Sabtu pagi. Beberapa di antaranya membawa buku catatan kelas, tebal dan penuh lipatan, seolah itu satu-satunya bentuk penghormatan yang mereka tahu.
Bian berbicara paling akhir dan paling pendek. Ia bercerita tentang seorang perempuan yang pernah salah menjaga keluarga melalui kendali, yang mengira mengatur orang sama dengan melindungi mereka, lalu belajar melepaskan ketika tubuhnya sendiri berhenti menuruti perintah. Ia tidak menyebut kata maaf dan tidak menyebut kata pahlawan. Beberapa orang menangis. Beberapa yang lain hanya menunduk.
Dine berdiri di barisan kedua dan berduka dengan cara yang sulit dijelaskan kepada siapa pun. Hubungan mereka tidak pernah menjadi sepenuhnya hangat. Tidak ada pelukan yang lama, tidak ada panggilan sayang, tidak ada rahasia yang dititipkan. Yang ada hanya percakapan-percakapan pendek di taman rehabilitasi selama bertahun-tahun, dan justru karena tidak dipaksakan, semuanya tetap memiliki arti.
Dea pulang untuk pemakaman, langsung dari lapangan, dengan koper yang bahkan belum sempat dibuka. Sebelum kembali, ia mengambil satu eksemplar buku Helena dari rak dan memasukkannya ke tas. Ia akan membawanya ke proyek laut, katanya, dan akan membacanya seluruhnya, termasuk bagian yang tidak menyenangkan, terutama bagian yang tidak menyenangkan.
Setelah pemakaman, kesadaran itu datang kepada Bian di dalam mobil, di lampu merah, tanpa peringatan: ia kini satu-satunya orang dari generasi keluarganya yang masih hidup. Tidak ada lagi yang bisa ia telepon untuk memastikan sebuah ingatan. Tidak ada lagi yang tahu nama kucing di rumah lama, atau kenapa pintu ruang belakang selalu dicat ulang setiap dua tahun.
Kesepian itu membawanya kembali mengunjungi rumah lama Emery. Ia berjalan sendirian melewati ruang makan yang penuh debu, tangga marmer yang dingin, dan ruang kerja yang jendelanya masih menghadap taman yang sama. Suara langkahnya menggema. Rumah sebesar itu, ia sadari, tidak pernah dibangun untuk ditinggali. Ia dibangun untuk membuat orang merasa kecil. Di dinding ruang tengah masih tergantung cermin besar yang dulu dipakai memeriksa penampilan sebelum tamu datang, dan pantulan di dalamnya sekarang hanya berisi satu orang.
Ia memutuskan bangunan itu dijadikan pusat arsip dan pendidikan, bukan diwariskan sebagai kediaman wajib kepada siapa pun. Ruang kerja menjadi ruang baca. Kamar-kamar atas menjadi tempat penyimpanan dokumen bersuhu terkendali. Sebagian ruang dibuka bagi publik, berisi dokumen yang sudah melewati batas privasi, disusun tanpa memilih hanya yang membanggakan.
Rumah besar itu akhirnya berhenti menjadi monumen keluarga. Ia berubah menjadi tempat orang dapat memeriksa sejarah, termasuk kesalahan orang-orang yang dahulu tinggal di dalamnya.