Mama Nzira tiba di tenda medis sebelum tetua mana pun datang, dan Maharani bersyukur karenanya. Perempuan tua penolong persalinan dari tepi timur itu tidak gentar oleh mayat; tangannya yang sudah menarik ratusan bayi ke dunia kini menopang lampu badai sementara Maharani membuka kembali tubuh-tubuh korban patroli di atas terpal.
"Aku butuh kau melihat ini bersamaku," kata Maharani. "Bukan untuk merawat. Untuk membaca."
Mama Nzira mengangguk. Ia tidak bertanya kenapa. Di lembah ini, perempuan yang merawat tubuh sudah lama belajar bahwa tubuh menyimpan cerita yang tidak mau diceritakan mulut.
Maharani bekerja dengan metode yang ia susun di kepalanya selama berjam-jam terakhir. Ia tidak boleh keliru. Satu kesalahan, dan kebenaran ini justru akan jadi bahan bakar bagi balas dendam. Ia menandai setiap luka dengan tinta di kulit, memberinya nomor, mencatatnya di buku saku bersampul kulit jahitan ibunya. Lubang masuk. Lubang keluar. Sudut. Jarak kira-kira dari pola hangus di kain.
"Lihat," katanya pelan, menunjuk korban pertama. "Peluru masuk dari atas, miring ke bawah. Penembak berada lebih tinggi dari korban. Di jalan tanah merah itu tidak ada bukit di sisi tepi barat maupun tepi timur. Hanya pohon dan tebing kecil di sebelah utara."
Mama Nzira memicingkan mata. "Tidak ada faksi yang berpatroli dari utara. Utara itu jalur lama menuju dusun yang sudah dibakar."
"Yang dikuasai milisi," kata Maharani.
Ia beralih ke amunisi. Inilah yang paling menentukan. Selama berbulan-bulan ia mencabut peluru dari daging manusia di lembah ini sampai ia hafal bentuknya seperti hafal wajah anggota regunya. Peluru faksi tepi barat dan tepi timur datang dari gudang yang sama, sisa perang saudara, kaliber yang sama, deformasi yang serupa saat menghantam tulang. Tapi serpihan yang ia keluarkan dari tubuh-tubuh malam ini berbeda. Lebih kecil. Lebih bersih. Senjata yang lebih baru, lebih terawat, dirancang untuk membunuh dari jarak yang tidak bisa dijangkau senjata tua kedua faksi.
"Senjata ini bukan milik lembah," kata Maharani. "Ini dibeli dengan uang. Banyak uang."
Adama masuk membawa Fatou. Wajah keduanya tegang. "Tetua tepi barat sudah di jalan," kata Adama. "Tetua tepi timur menolak datang. Ia bilang ia tidak akan menginjakkan kaki di tanah yang penuh jebakan lagi. Anaknya termasuk yang mati di patroli."
Maharani berdiri. Lututnya kaku, punggungnya nyeri, tapi pikirannya jernih. "Kalau begitu kebenaran harus mendatanginya. Adama, kau bisa menggambar?"
Adama mengernyit. "Sedikit."
"Bukan menggambar indah. Menggambar tepat." Ia menyobek beberapa lembar dari buku sakunya, menjelaskan apa yang ia butuhkan: diagram tubuh, posisi luka, panah arah peluru, angka sudut. Bahasa yang tidak bisa berbohong dan tidak bisa memihak. "Tetua tepi timur tidak perlu percaya padaku. Ia hanya perlu percaya pada anaknya sendiri. Tubuh anaknya akan mengatakan dari mana peluru datang."
Fatou yang biasanya berapi-api kini diam, menatap mayat-mayat itu dengan tatapan yang Maharani kenal: tatapan perempuan yang sudah terlalu sering melihat kematian sampai berhenti menangis di depannya. "Aku akan membawamu ke tetua tepi timur," kata Fatou akhirnya. "Perempuan-perempuan masih bisa lewat. Mereka tidak menembak perempuan yang membawa kain dan air. Belum."
Malam itu mereka bergerak dalam dua arah. Tetua tepi barat datang ke tenda, lelaki tua bertongkat yang dulu menolak menatap mata Maharani, kini berdiri di atas mayat-mayat dengan rahang mengeras. Maharani menjelaskan dengan tenang, tanpa menuduh, hanya menunjukkan. Sudut. Kaliber. Posisi tinggi. Jarak penyergapan. Ia mengangkat serpihan peluru di ujung penjepit, dekat lampu, agar lelaki tua itu bisa melihat sendiri perbedaannya dengan peluru yang sudah ia kenal seumur hidupnya.
"Senjata kalian tidak meninggalkan luka seperti ini," kata Maharani. "Senjata mereka juga tidak. Ini senjata orang ketiga. Orang yang ingin kalian saling membunuh malam ini."
Tetua itu lama tidak bicara. Lalu, dengan suara yang retak, ia berkata, "Aku sudah menyuruh anak-anakku menyiapkan parang. Untuk fajar."
"Maka panggil mereka kembali," kata Maharani, "sebelum fajar menulis nama-nama yang salah dalam darah."
Di seberang sungai, dalam gubuk berdinding tanah yang diterangi satu lilin, Fatou meletakkan gambar-gambar Adama di hadapan tetua tepi timur. Lelaki tua itu, yang baru kehilangan putra, mendorongnya menjauh dengan tangan gemetar. Tapi Fatou tidak mundur. Ia menarik tangan tua itu, meletakkannya di atas kertas, di atas panah yang menunjuk ke utara.
"Putramu ditembak dari sini," katanya. "Bukan dari barat. Dari utara. Dari tempat yang tidak dijaga siapa pun kecuali setan yang ingin kau cabik tetanggamu malam ini. Kalau kau membalas ke barat, kau membunuh orang yang tak menembak anakmu, dan setan itu akan tertawa di atas semua kuburan."
Ketika fajar datang, parang-parang itu masih tersarung. Bukan karena kebencian lenyap, tapi karena untuk pertama kalinya ada sesuatu yang lebih kuat dari kebencian: bukti yang tidak bisa dibantah. Maharani duduk di lantai tenda, kelelahan sampai ke tulang, memandang buku sakunya yang kini penuh angka dan diagram, dan menyadari bahwa pengetahuan yang selama ini ia pakai untuk menyembuhkan, malam ini, telah menahan sebuah perang. Tubuh-tubuh itu memang berbicara. Dan untuk sekali ini, lembah mendengarkan.