Utusan itu datang di siang bolong, di bawah bendera putih lusuh yang diikat ke ujung tongkat, berjalan terbuka di sepanjang jalan tanah merah seakan ia memiliki seluruh lembah. Itu sendiri sudah sebuah pesan: Le Colonel tidak lagi merasa perlu bersembunyi.
Menara pengawas melaporkannya lebih dulu. Wanto, yang sedang bertugas di atas, menurunkan teropongnya dan berkata datar lewat radio, "Satu orang. Tidak bersenjata yang terlihat. Bendera putih. Berjalan seperti pemilik tanah."
Bagas memerintahkan gerbang dibuka hanya sebatas yang dibutuhkan. Utusan itu lelaki muda berpakaian rapi, terlalu rapi untuk lembah yang berdebu ini, sepatunya mengkilap, jam tangannya menangkap matahari. Ia tersenyum dengan kesopanan yang lebih mengancam daripada senjata.
"Komandan," katanya dalam bahasa Prancis yang halus, lalu beralih ke bahasa setempat saat Adama mendekat untuk menerjemahkan. "Le Colonel mengirim salam dan rasa hormatnya kepada para penjaga perdamaian. Ia mengagumi pekerjaan kalian. Sungguh."
Maharani berdiri di pintu tenda medis, cukup jauh untuk tidak ikut campur, cukup dekat untuk mendengar. Ia melihat Bagas berdiri tegak, tangan di belakang punggung, wajah tak terbaca.
"Sampaikan pesanmu," kata Bagas.
Utusan itu menyampaikannya dengan nada seorang pedagang yang menawarkan harga adil. Le Colonel, katanya, telah memutuskan untuk membawa ketertiban ke lembah. Faksi-faksi lama lemah, terpecah, tidak mampu mengurus rakyatnya sendiri. Perang saudara telah meninggalkan kekosongan, dan kekosongan harus diisi. Le Colonel akan mengisinya. Ia akan menyatukan lembah di bawah satu tangan, mengakhiri kekacauan, membuka kembali jalur dagang, menggali kekayaan tanah yang selama ini terbuang sia-sia.
"Dan ia hanya meminta satu hal dari kalian," kata utusan itu, tersenyum lagi. "Jangan menghalangi. Helm biru bukan untuk berperang. Bukankah begitu aturannya? Kalian menjaga perdamaian. Le Colonel menawarkan perdamaian. Tetaplah di pos kalian. Rawatlah luka kalian. Dan ketika ketertiban telah ditegakkan, kalian boleh pulang dengan kepala tegak, mengatakan kalian telah menyelesaikan tugas."
Adama menerjemahkan dengan suara rata, tapi Maharani melihat buku-buku jari penerjemah itu memutih.
Bagas tidak menjawab segera. Ketika ia bicara, suaranya pelan dan terukur. "Dan jika kami tidak tinggal diam?"
Senyum utusan itu tidak luntur, tapi sesuatu di matanya mengeras. "Le Colonel sangat menghormati netralitas kalian. Ia berharap netralitas itu tetap terjaga. Lembah ini bisa menjadi tempat yang sangat berbahaya bagi mereka yang lupa di pihak mana mereka seharusnya berdiri. Jalur logistik kalian panjang, Komandan. Jembatan-jembatan kecil. Konvoi yang lewat sendirian." Ia membiarkan kalimat itu menggantung. "Le Colonel hanya tidak ingin terjadi kecelakaan."
Di situlah Maharani memahami bentuk sebenarnya dari ancaman ini. Bukan teriakan. Bukan tembakan. Sebuah tawaran yang dibungkus dengan tata krama, di mana penolakan berarti pos ini sendiri yang akan menjadi sasaran berikutnya.
Utusan itu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya: sebuah amplop. "Le Colonel juga menitipkan ini. Daftar nama. Orang-orang yang ia anggap mengganggu ketertiban. Ia berharap kalian, sebagai pihak netral, tidak melindungi para pengacau." Ia menyerahkannya pada Adama, bukan pada Bagas, dan tersenyum ke arah penerjemah itu dengan cara yang membuat Maharani merinding. "Nama-nama yang menarik di dalamnya."
Ketika utusan itu pergi, berjalan kembali ke utara di bawah bendera putihnya, pos terdiam. Bagas membuka amplop. Maharani mendekat, dan membaca dari balik bahunya. Nama Adama ada di sana. Nama Fatou ada di sana. Nama beberapa tetua. Dan di bagian bawah, dalam tulisan tangan yang lain, ada satu baris dalam bahasa Indonesia yang ditulis khusus, yang membuat darah Maharani mendingin: "Bidan yang membaca luka."
Le Colonel tahu namanya. Le Colonel tahu apa yang ia lakukan malam itu di tenda medis, bagaimana ia membongkar jebakan yang sempurna.
Bagas melipat kertas itu pelan. "Ia tidak lagi bersembunyi," katanya, lebih kepada dirinya sendiri. "Itu artinya ia yakin ia menang."
"Atau ia takut," kata Maharani. "Orang yang yakin menang tidak repot-repot mengirim ancaman."
Bagas menatapnya. Untuk sesaat, sesuatu yang menyerupai persetujuan melintas di wajah komandan itu, sebelum lenyap di balik ketegangan tugas. "Netralitas tidak mungkin lagi," kata Maharani pelan, mengucapkan apa yang mereka berdua tahu. "Diam sekarang berarti menyerahkan lembah kepada satu kekejaman. Bukan menjaga jeda. Menjadi alat."
Bagas tidak membantah. Ia memandang ke utara, ke arah utusan yang kini hanya titik di kejauhan, lalu ke arah kamp pengungsi yang membentang di luar pagar kawat, ratusan nyawa yang kini bergantung pada keputusan yang harus ia ambil dalam koridor sempit antara mandat dan nurani. "Kumpulkan regu," katanya akhirnya. "Dan panggil markas. Aku ingin ancaman ini tercatat. Setiap kata."
Maharani memandang amplop di tangan Bagas, daftar nama orang-orang yang ia sayangi, namanya sendiri di antara mereka. Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di lembah ini, ancaman itu bukan lagi sesuatu yang terjadi di seberang sungai, di luar garis, di luar tanggung jawabnya. Ancaman itu kini berdiri di gerbangnya sendiri.