Pekerjaan dimulai sebelum fajar dan tidak berhenti sampai malam berikutnya. Maharani belum pernah melihat pos sesibuk ini, dan ada sesuatu yang aneh menenangkan dalam kesibukan itu, seakan tangan yang sibuk bisa menahan rasa takut tetap di luar pagar.
Patar memimpin penguatan barikade, mengarahkan personel mengisi karung pasir dan menyusunnya berlapis di titik-titik lemah perimeter. Lelaki Batak yang dulu paling marah pada Maharani karena menyeberang itu kini bekerja dengan ketelitian yang nyaris religius, mengukur jarak tembak, menutup sudut buta. Kemarahannya pada Maharani belum sepenuhnya cair, tapi ancaman bersama punya cara mendinginkan perselisihan lama.
Oddie, yang biasanya menebar canda, kini lebih banyak diam, tapi tangannya cekatan menarik kawat dan memasang penerangan darurat. Sesekali leluconnya muncul, lebih pelan dari biasanya, dan setiap kali itu terjadi Maharani melihat bahu-bahu di sekitarnya sedikit mengendur. Bahkan di bawah ancaman, lelaki dari Ambon itu memahami bahwa tawa adalah obat yang tidak ada di kotak medis mana pun.
Wanto menghabiskan waktunya di menara dan di sepanjang garis tembak, bukan untuk menyerang, melainkan untuk merancang pertahanan. Ia menandai jarak, menghafal medan, menentukan dari mana ancaman paling mungkin datang. Maharani menemukannya suatu sore, duduk diam menatap utara, dan ia tahu lelaki itu sedang bergulat dengan pertanyaan yang sama yang selalu menghantuinya: kapan menahan tangan berhenti menjadi kebajikan dan mulai menjadi kelalaian.
"Kau memikirkan malam itu," kata Maharani, duduk di sampingnya.
"Aku selalu memikirkan malam itu," jawab Wanto. "Aku menyeberang denganmu untuk menjagamu. Aku tidak menembak satu peluru pun. Aku masih tidak tahu apakah itu keberanian atau kepengecutan."
"Itu disiplin," kata Maharani. "Dan kali ini, kalau dia datang ke pagar ini, kau punya hak untuk menembak. Untuk membela. Bukan untuk membunuh karena benci."
Wanto memandangnya lama. "Aku tidak tahu apakah aku bisa membedakannya saat pelurunya mulai terbang."
"Kau bisa," kata Maharani, dengan keyakinan yang ia harap terdengar nyata. "Karena kau satu-satunya orang di pos ini yang masih takut pada perbedaan itu. Orang yang berhenti takut adalah orang yang berbahaya."
Tapi pekerjaan yang paling penting, menurut Maharani, terjadi bukan di pagar melainkan di kamp pengungsi. Ia tahu, bahkan jika pos bertahan, korban akan jatuh, dan korban akan datang lebih banyak daripada yang bisa ia tangani sendiri. Maka ia mengubah strateginya: bukan menyelamatkan sendiri, melainkan mengajar agar lebih banyak tangan bisa menyelamatkan.
Ia mengumpulkan perempuan-perempuan kamp di tenda medis, Fatou di sisinya menerjemahkan dan menyemangati. Mama Nzira datang membawa pengalaman puluhan tahun. Maharani mengajarkan dasar-dasar yang bisa menjaga seseorang hidup sampai bantuan datang: menghentikan perdarahan dengan tekanan, membersihkan luka, mengenali tanda syok, memindahkan yang terluka tanpa memperparah cedera. Ia membagikan kain, menunjukkan cara membuat torniket dari apa pun yang ada, mengajari mereka membaca napas dan nadi.
"Kalian bukan korban di sini," kata Maharani, dan Fatou menerjemahkan kalimat demi kalimat. "Kalian penolong. Jika malam buruk datang, aku tidak bisa berada di seratus tempat sekaligus. Tapi kalian ada di seratus tempat. Setiap dari kalian bisa menjadi alasan seseorang hidup sampai fajar."
Ia melihat sesuatu berubah di wajah-wajah itu. Perempuan yang berbulan-bulan diperlakukan sebagai beban, sebagai mulut yang harus diberi makan, kini diberi sesuatu yang lebih berharga dari makanan: kemampuan untuk berguna, untuk melindungi keluarga mereka sendiri. Seorang perempuan muda yang kehilangan suaminya dalam serangan dusun menggenggam kain perban di tangannya seakan itu senjata, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ada tekad di matanya, bukan hanya kepedihan.
Fatou mendekati Maharani saat hari menjelang gelap. "Mereka berasal dari kedua tepi," katanya pelan, menunjuk perempuan-perempuan yang masih berlatih membalut. "Yang itu tepi barat. Yang itu tepi timur. Kemarin mereka tidak akan duduk di tikar yang sama. Hari ini mereka belajar menyelamatkan nyawa dari tangan yang sama."
Maharani memandang mereka, perempuan-perempuan yang ketakutan telah satukan apa yang kebencian pisahkan selama bertahun-tahun, dan ia merasakan campuran getir antara harapan dan firasat buruk. "Le Colonel ingin lembah ini terbelah," katanya. "Dia tidak mengerti bahwa dengan mengancam semua orang sekaligus, dia menyatukan mereka."
"Belum tentu cukup," kata Fatou, realistis seperti biasa. "Persatuan dari rasa takut tipis. Kalau dia menawarkan jalan keluar yang cukup busuk, akan ada yang tergoda."
Malam itu, ketika pos akhirnya tenang, Maharani berjalan menyusuri perimeter yang baru diperkuat. Karung pasir tersusun rapi, kawat terbentang, lampu siaga menyala. Pos kecil yang dulu hanya menjaga sebuah garis di atas peta kini berdiri seperti benteng. Tapi yang membuatnya merasa pos ini punya peluang bukanlah karung pasir, melainkan suara-suara dari kamp di belakangnya, tempat perempuan-perempuan masih berlatih menyelamatkan nyawa di bawah cahaya lampu badai, dari dua tepi sungai, dengan tangan yang sama.