Le Colonel tidak menyerang. Itu, Maharani belajar, justru lebih buruk.
Serangan akan jelas, akan punya bentuk, akan punya momen yang bisa dilawan. Yang dilakukan Le Colonel lebih sabar dan lebih kejam: ia mulai mencekik pos perlahan, tanpa satu tembakan pun ke arah pagar.
Kabar pertama datang dari konvoi logistik yang tidak pernah tiba. Truk pembawa air, obat, dan ransum yang seharusnya datang dari markas sektor terhenti di suatu tempat di selatan, dan kabar yang sampai kemudian menyebutkan jembatan kecil di jalur itu telah runtuh. Bukan rusak. Diledakkan. Tidak ada yang melihat siapa pelakunya, tapi tidak ada yang perlu melihat.
"Itu satu-satunya jalur yang bisa dilewati truk besar," kata Adama, membentangkan peta di atas meja. "Jalur lain terlalu sempit, terlalu curam, atau lewat dusun yang sudah dikuasainya. Dia tidak mengepung kita dengan pasukan. Dia mengepung kita dengan geografi."
Komunikasi mulai memburuk berikutnya. Sinyal radio ke markas yang dulu hanya kadang-kadang putus kini lebih sering hening daripada hidup. Bagas mencurigai gangguan sengaja, tapi tidak ada cara membuktikannya. Setiap kali sambungan tembus, perwira jaga di markas berjanji bantuan sedang diatur, otorisasi sedang diproses, konvoi pengganti sedang dirancang melalui jalur alternatif. Janji-janji yang menggantung di udara seperti asap.
Dan kemudian air.
Maharani menyadari masalahnya saat ia memeriksa tangki cadangan pos. Konsumsi naik berlipat sejak pengungsi datang, dan tanpa konvoi pengganti, persediaan menyusut lebih cepat dari yang ia hitung. Sumur di luar pagar, yang selama ini menjadi sumber tambahan, kini tidak aman didekati; Le Colonel menempatkan orang-orangnya di sekitar sumber air, tidak menyerang, hanya berdiri, mengawasi, membiarkan rasa haus melakukan pekerjaan yang tidak mau dilakukan peluru.
"Perang tanpa peluru," gumam Maharani, mengingat ucapannya sendiri berbulan-bulan lalu tentang faksi yang mengontrol air. Kini taktik yang sama dipakai melawan mereka, dengan kekejaman yang lebih dingin.
Malam-malam menjadi yang terberat. Le Colonel memutus aliran listrik dari generator dusun yang dulu membantu menerangi sebagian perimeter, dan pos jatuh ke dalam kegelapan yang hanya dipecah lampu badai dan senter yang dihemat. Maharani memandang langit pada salah satu malam itu dan menyadari bahkan bintang tampak tertutup, langit tebal oleh awan dan asap dari dusun-dusun yang dibakar di utara. Malam tanpa bintang, pikirnya, dan kegelapan itu terasa seperti tangan yang perlahan mengatup.
Kurangnya obat menggigit lebih cepat dari yang ia takutkan. Wabah kecil mulai muncul di kamp, demam pada anak-anak, infeksi yang biasanya bisa ia tangani dengan mudah kini harus ia timbang dengan persediaan yang menipis. Ia mendapati dirinya menghitung tablet, mengukur cairan, membuat perhitungan dingin tentang berapa lama ia bisa bertahan jika tidak ada yang masuk. Jawabannya membuatnya tidak bisa tidur.
"Berapa lama?" tanya Bagas suatu malam, suaranya pelan di ruang radio yang gelap.
"Air, mungkin sepuluh hari kalau kita jatah ketat," kata Maharani. "Obat tergantung apa yang datang. Demam berdarah parah, satu pasien sekarat di tenda. Kalau kita kehilangan lebih banyak anak, hitungannya berubah. Aku tidak bisa menyembuhkan kehausan dan demam dengan disiplin."
Bagas mengangguk pelan di kegelapan. "Markas tahu situasinya. Mereka mencoba."
"Mereka selalu mencoba," kata Maharani, lebih getir dari yang ia inginkan. "Maaf. Aku tahu kau bukan markas."
"Tidak apa," kata Bagas. "Aku marah pada hal yang sama."
Mereka duduk dalam keheningan, dua orang yang dulu berseberangan, kini berbagi beban yang sama. Di luar, kamp pengungsi yang membentang dalam gelap penuh dengan napas ratusan orang yang bergantung pada pos ini, pada tangki air yang menyusut, pada kotak obat yang menipis. Le Colonel tidak perlu menyerbu. Ia hanya perlu menunggu, dan membiarkan kebutuhan paling dasar manusia menjadi senjatanya.
Maharani memandang keluar ke arah utara, ke titik-titik api kecil dari posisi milisi di kejauhan, dan menyadari betapa cerdik dan betapa keji rencana ini. Serbuan langsung akan memberi pos sesuatu untuk dilawan, sesuatu yang akan menyatukan dan membakar semangat. Kepungan diam-diam ini mengikis sesuatu yang lebih dalam: harapan. Setiap hari tanpa air yang cukup, tanpa obat yang cukup, tanpa kabar dari luar, sedikit demi sedikit menggerogoti keyakinan bahwa pos ini bisa bertahan.
Ia berdiri, dan dalam gelap ia mengepalkan tangan. Kalau Le Colonel ingin perang kesabaran, ia akan memberinya perang kesabaran. Ia sudah belajar, di lembah ini, bahwa sabar bukan berarti pasif. Sabar yang berani. Ia berjalan kembali ke tenda medis, tempat pasien demamnya menggigil dalam gelap, dan ia memutuskan ia tidak akan kehilangan anak itu malam ini. Setidaknya tidak malam ini. Esok bisa mengurus dirinya sendiri ketika ia datang.