Gelombang ketiga datang di siang hari, dan itu kesalahan milisi. Cahaya menelanjangi mereka. Tapi keputusasaan membuat orang nekat, dan panglima perang, Maharani kemudian menyadari, sengaja mengorbankan anak buahnya dalam serangan siang itu hanya untuk melihat berapa banyak amunisi yang tersisa di pos.
Patar yang gugur.
Maharani tidak melihatnya terjadi. Ia mendengarnya lewat radio — suara yang tiba-tiba berhenti di tengah kalimat, lalu suara Oddie yang berteriak dengan nada yang membuat seluruh tubuhnya dingin sebelum kata-katanya sampai. Mereka membawanya ke tenda dengan tandu darurat, dan Maharani sudah tahu sebelum melihat. Cara mereka membawanya. Tidak terburu-buru di bagian yang seharusnya terburu-buru. Tubuh manusia memberitahu orang yang membawanya, dan orang-orang yang membawa Patar sudah tahu.
Luka di dada, di bawah tulang selangka kanan, masuk ke dalam. Maharani membuka seragamnya dan tangannya bekerja meski kepalanya sudah menghitung dan kalah dalam hitungan itu. Tekan. Infus. Cari napas. Patar masih sadar, dan itu yang paling kejam dari semuanya.
"Bu Bidan," katanya, dan suaranya basah dengan cara yang Maharani kenal terlalu baik. Praka dari Ambon yang membuat seluruh regu tertawa di hari-hari pertama yang menakutkan. Yang membawa rumah ke pos dengan suaranya. Yang dua puluh lima hari lalu marah padanya karena menyeberangi sungai dan menaruh semua orang dalam bahaya, dan yang Maharani tahu marahnya itu adalah bentuk lain dari rasa takut kehilangan.
"Jangan bicara," kata Maharani. "Simpan napasmu."
"Untuk apa," katanya, dan mencoba tersenyum, dan hampir berhasil. "Kau menyeberangi sungai itu," katanya pelan. "Dulu aku marah. Aku bilang kau gila."
"Patar."
"Aku salah," katanya. "Kau benar. Nyawa tidak punya bendera." Ia batuk, dan ada darah di sudut bibirnya. "Itu yang kau bilang. Hari pertama. Aku ingat."
Maharani menahan tangannya di dada Patar, merasakan jantung yang melambat di bawah telapaknya, dan ia tahu ia tidak bisa menahannya tetap di dunia. Ia pernah merasakan ini sebelumnya. Pasien pertamanya, bertahun-tahun lalu di tanah air, perempuan muda yang ia kehilangan dan yang menghantuinya tujuh belas jam ke selatan ke lembah ini. Tubuh yang melambat di bawah tangannya, dan kebenaran yang tidak mau ia terima sampai harus.
Tapi ia tidak berpaling kali ini. Itu yang berbeda. Tahun-tahun lalu ia ingin berpaling dari kematian itu, ingin lari, ingin menyangkal. Kini ia tinggal. Ia menggenggam tangan Patar dan ia tinggal di sana, di saat itu, hadir secara utuh, karena hadir adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia berikan ketika menyelamatkan sudah tidak mungkin.
"Aku di sini," katanya. "Aku tidak ke mana-mana."
"Mama," kata Patar, dan matanya mencari sesuatu yang tidak ada di tenda. "Bilang Mama —"
"Akan kubilang," kata Maharani, meski ia tidak tahu cara dan tidak tahu apa, hanya tahu ini janji yang harus ada di bibir seseorang di saat itu. "Akan kubilang semuanya."
Patar pergi tidak lama setelah itu, perlahan, tanpa drama, dengan tangan Maharani di dadanya dan Oddie berlutut di sisi lain memegang tangannya yang sebelah lagi. Tenda menjadi sangat sunyi. Bahkan tembakan di luar terasa jauh, seakan lembah sendiri menahan napas untuk Praka dari Ambon yang dulu mengubah ransum menjadi tawa.
Maharani menutup mata Patar dengan tangannya yang berdarah. Ia tidak menangis. Tangisan akan datang nanti, ia tahu, di saat yang tidak ia pilih. Sekarang ada pekerjaan, dan pekerjaan adalah satu-satunya dinding yang menahan kehancuran.
Di luar, kematian Patar mengubah sesuatu di pos. Maharani merasakannya saat ia keluar untuk memberitahu Bagas, meski Bagas sudah tahu. Personel baru yang dua bulan lalu meremehkan lembah ini, yang melihat pos sebagai noda dan kamp sebagai beban di luar mandat, kini diam dengan diam yang berbeda. Mereka telah kehilangan salah satu dari mereka. Garis antara mereka dan kita, antara helm biru dan warga, antara prajurit lama dan baru, runtuh dalam satu kematian. Darah Patar membuat semua orang di pos menjadi satu hal: orang-orang yang bertahan bersama, dan yang membayar harga bertahan itu dengan mata uang yang sama.
Oddie keluar di belakang Maharani, wajahnya hancur, dan untuk pertama kalinya sejak ia mengenalnya, tidak ada lelucon di mulutnya. "Dia selalu bilang dia mau pulang dan buka warung makan," kata Oddie pada tak seorang pun. "Ikan kuah kuning. Dia bilang dia mau buka warung ikan kuah kuning."
Maharani meletakkan tangannya di lengan Oddie. Tidak ada yang bisa dikatakan. Ada hal-hal yang tidak punya kata, dan kematian sahabat di siang hari di tanah merah yang jauh dari rumah adalah salah satunya.
Ia kembali ke tenda untuk merawat yang masih hidup. Itu yang bisa ia lakukan. Bukan menyelamatkan semua. Hadir untuk yang ada. Ia mengambil buku sakunya, sampul kulit jahitan ibunya, dan untuk pertama kalinya ia menuliskan nama bukan diagram, bukan dosis, bukan angka. Hanya nama: Praka Patarius Lekatompessy. Dan tanggalnya. Dan di bawahnya, dengan tangan yang akhirnya gemetar: ikan kuah kuning.
Lalu ia menutup buku itu, dan kembali bekerja, karena di luar tenda lembah belum selesai memintanya bertahan.