Sore itu pertempuran mereda menjadi sesuatu yang lebih buruk dari pertempuran: keheningan yang waspada. Milisi mundur ke lereng utara setelah kehilangan terlalu banyak orang di serangan siang, dan kini mereka mengintai, menembak sesekali untuk mengingatkan pos bahwa kepungan masih ada. Maharani membagi waktunya antara merawat luka dan menjaga yang sehat tetap tenang. Kelaparan dan ketakutan, ia tahu, bisa membunuh komunitas dari dalam sama mematikannya dengan peluru dari luar.
Di menara pengawas, Wanto belum turun sejak malam pertama. Maharani membawakannya air dan sepotong roti keras, memanjat tangga besi yang panas oleh matahari, dan menemukan penembak itu berbaring di posisi yang sama, mata tidak pernah lepas dari teropong senjatanya, tubuh yang kaku oleh kewaspadaan berjam-jam.
"Kau harus minum," kata Maharani, meletakkan kantong air di sisinya.
Wanto tidak menoleh. "Dia di sana," katanya.
"Siapa?"
"Dia. Le Colonel. Panglima." Suara Wanto datar dengan datar yang Maharani kenali sebagai bukan ketenangan melainkan kebalikannya, tepi tipis di atas jurang. "Di lereng utara. Di antara pepohonan, dekat truk yang berhenti. Dia keluar untuk melihat. Dia mengira dirinya di luar jangkauan."
Maharani membeku. "Kau bisa melihatnya?"
"Aku bisa lebih dari melihatnya." Jari Wanto bergeser, dan Maharani menyadari penembak itu sudah membidik, sudah menempatkan sosok itu di garis silang teropongnya, sudah menghitung jarak dan angin dan turun peluru. "Satu tembakan. Satu. Dan semua ini berakhir. Kepungan berakhir. Patar — " suaranya retak di nama itu. "Patar tidak mati sia-sia. Anak-anak di tenda itu aman. Fatou aman. Kau aman."
Maharani tidak bicara. Ia tahu ini bukan saatnya untuk kata-kata cepat. Ini adalah saat yang Wanto takuti seumur tugasnya, saat yang ia ceritakan pada Maharani berbulan-bulan lalu di malam yang sunyi, ketika ia bilang yang ia takutkan bukan menembak, melainkan saat ia ingin menembak dan tahu ia tidak boleh.
"Dia tidak menyerang sekarang," kata Wanto, dan Maharani menyadari penembak itu sedang berdebat dengan dirinya sendiri, bukan dengannya. "Itu masalahnya. Dia berdiri di sana, mengamati, dan dia tidak menembak ke arah pos saat ini juga. Jadi kalau aku menembaknya, itu bukan membela diri. Itu bukan respons terhadap ancaman langsung. Itu — " ia berhenti.
"Itu membunuh," kata Maharani pelan.
"Itu membunuh orang yang pantas mati."
"Mungkin," kata Maharani. "Mungkin dia pantas mati. Aku tidak akan berdebat tentang itu. Patar mati karena dia. Belasan warga mati karena dia. Anak-anak di kamp diculik karena dia." Ia berlutut di sisi Wanto, dekat, agar suaranya tidak perlu keras. "Tapi kalau kau menembaknya sekarang, saat dia tidak menyerang, kau bukan lagi helm biru. Kau menjadi milisi yang membunuh dari jarak jauh orang yang tak sedang melawan. Kau menjadi dia."
Jari Wanto tidak bergerak dari pelatuk. "Lalu apa gunanya garis itu," katanya, dan kini ada kemarahan, kemarahan yang dalam dan letih, "kalau garis itu membiarkan orang seperti dia berdiri di sana hidup-hidup sementara Patar dingin di tenda?"
Maharani diam sejenak. Ini pertanyaan yang sama yang ia bawa ke tepi sungai berbulan-bulan lalu, helm biru di tangan, perahu kosong di dermaga. Apa gunanya garis yang membuatmu tak berdaya menghadapi kekejaman? Ia telah menyeberangi garis itu sekali. Ia tahu beratnya. Ia tahu juga harganya — Patar pernah marah padanya karena harga itu.
"Garis itu bukan untuk dia," kata Maharani akhirnya. "Garis itu untuk kita. Untuk menjaga kita tetap menjadi sesuatu yang berbeda dari dia. Kalau kita menembaknya saat dia tidak melawan, kita mungkin membunuh satu orang jahat. Tapi kita juga membunuh satu-satunya alasan kita bisa berdiri di lembah ini dan berkata kita berbeda. Setelah itu, kita hanya faksi keempat dengan helm yang kebetulan biru."
Wanto tidak menjawab. Sosok di lereng utara bergerak, melangkah mundur ke balik pepohonan, dan Maharani menahan napas tanpa menyadarinya. Kesempatan itu, ia tahu, sedang menutup. Sebentar lagi sosok itu akan menghilang dan keputusan akan terbuat oleh waktu, bukan oleh Wanto.
Lalu Wanto menggeser jarinya. Keluar dari pelatuk. Ke sisi penjaga. Ia menurunkan kepalanya dari teropong, dan untuk pertama kalinya sejak Maharani memanjat ke menara, penembak itu menutup matanya.
"Pergi," katanya pelan, dan sosok di lereng menghilang ke balik pepohonan. "Pergi, kau bajingan. Pergi sebelum kau memberiku alasan."
Maharani meletakkan tangannya di bahu Wanto, dan merasakan tubuh penembak itu gemetar dengan getaran halus yang menahan-menahan diri jauh lebih melelahkan daripada bertindak.
"Aku tidak tahu apakah aku benar," kata Wanto, matanya masih tertutup.
"Aku tahu," kata Maharani. "Kau benar. Bukan karena dia tidak pantas mati. Karena kau memilih siapa kau jadinya, dan bukan dia yang memilihnya untukmu."
Ia meninggalkan air di sisinya dan turun dari menara, dan dalam dirinya ada sesuatu yang baru ia mengerti tentang pos kecil ini: bahwa inti dari semua yang mereka lakukan bukan pada tembakan yang dilepaskan, melainkan pada tembakan yang ditahan. Bahwa garis antara membela dan membunuh tidak ditarik oleh aturan di kertas, melainkan oleh tangan-tangan yang memilih, di atas menara dan di dalam tenda, untuk menahan diri saat menahan diri adalah hal yang paling sulit di dunia.