Kabar itu sampai di pos sebelum fajar, dibawa oleh seorang anak laki-laki dari kamp yang berlari dengan napas tercabik dan kaki berdarah. Le Colonel telah menangkap warga di jembatan utara. Belasan orang, mungkin lebih, dari kedua tepi sungai — pedagang yang terjebak di luar saat kepungan dimulai, keluarga yang mencoba mengungsi ke pos di malam buta, beberapa perempuan dan anak-anak. Ia menahan mereka di tengah jembatan, di tempat terbuka tempat siapa pun bisa melihat, dan ia mengirim pesan yang tidak butuh penerjemahan.
Mundur. Kontingen mundur, bala bantuan berhenti, atau warga di jembatan mati satu per satu sampai pos menyerah.
Bagas mengumpulkan inti pos di kontainer komando saat langit masih gelap. Maharani, Adama, Wanto, dan dua komandan regu yang tersisa setelah kematian Patar. Di radio, suara perwira sektor memberi instruksi yang sama yang selalu diberi sistem dalam situasi seperti ini: jangan bertindak, tunggu bala bantuan, jangan beri konsesi kepada penyandera.
"Bala bantuan sampai dua jam lagi," kata Bagas, lebih kepada dirinya sendiri. "Dua jam."
"Dia akan mulai membunuh mereka sebelum itu," kata Adama datar. "Dia tahu dua jam. Dia tidak menunggu dua jam. Dia akan membunuh satu orang setiap jam untuk menunjukkan dia serius. Itu cara orang seperti dia bekerja."
Maharani memandang peta lembah di dinding kontainer, garis biru yang dulu ia benci kini terasa seperti lelucon yang menyedihkan. Jembatan itu di luar area tanggung jawab teknis. Tapi tidak ada yang berpura-pura lagi bahwa garis di atas peta itu berarti apa-apa.
"Kita tidak bisa menyerbu jembatan," kata salah satu komandan regu. "Tempat terbuka, sandera di tengah. Kita menembak, mereka menembak, semua sandera mati di tengah-tengah."
"Dan kita tidak bisa mundur," kata Wanto. "Mundur berarti menyerahkan lembah dan tidak ada jaminan dia melepaskan mereka setelahnya. Penyandera yang dapat apa yang ia mau tidak melepaskan apa-apa."
Bagas menggosok wajahnya. "Maka kita terjebak," katanya. "Sistem bilang tunggu. Logika bilang tidak ada cara menyerbu tanpa membantai mereka. Dan dia akan mulai membunuh sebelum bantuan datang."
Maharani diam, tapi sesuatu mulai terbentuk dalam kepalanya, sesuatu yang ia tidak ingin pikirkan karena ia tahu ke mana arahnya. Ia berbicara akhirnya, pelan, dan setiap kepala di kontainer menoleh.
"Ada satu cara yang belum kita coba," katanya. "Bicara dengannya."
"Kita sudah bicara dengannya," kata Bagas. "Dia mengirim utusan, kita menolak tawarannya, dia mengepung kita. Bicara tidak menghentikan ini."
"Kita bicara dengan utusan," kata Maharani. "Lewat amplop, lewat ancaman, dari jarak jauh. Belum ada yang berdiri di hadapannya dan berbicara sebagai orang." Ia menelan ludah. "Dia menahan warga dari kedua tepi. Itu kunci yang ia tidak sadari ia berikan pada kita. Dia mengira menyandera warga dua tepi membuat keduanya tak berdaya. Tapi itu juga berarti ada satu orang yang dipercaya oleh kedua tepi untuk berbicara atas nama warga yang ia tahan."
Ruangan menjadi sunyi.
"Tidak," kata Wanto, dan suaranya keras. "Tidak. Kau tidak akan menyeberang ke jembatan itu."
"Aku bidan," kata Maharani. "Aku tidak membawa senjata. Aku merawat orang dari kedua tepi tanpa pandang bulu selama berbulan-bulan. Warga yang ia tahan — sebagian dari mereka pernah aku tolong, pernah aku jahit lukanya, pernah aku bantu bersalin. Mereka mengenalku. Le Colonel tahu siapa aku — dia menulisnya di daftar itu, ingat? Bidan yang membaca luka. Dia menganggapku ancaman. Tapi dia juga tahu aku bukan tentara yang akan menembaknya."
"Itu gila," kata komandan regu. "Kau menyerahkan diri ke tangannya."
"Mungkin," kata Maharani. Ia memandang Bagas. "Tapi ini berbeda dari malam aku menyeberangi sungai. Itu pelanggaran. Aku melakukannya sendirian, melawan perintah, dalam putus asa. Kali ini — " ia menarik napas — "kali ini aku tidak mau melakukannya begitu. Aku mau otorisasi. Aku mau dukungan. Aku mau kau dan sektor tahu persis apa yang aku lakukan dan kenapa. Bukan bidan yang melanggar diam-diam. Negosiator kemanusiaan, yang sah, yang dipercaya kedua pihak."
Bagas menatapnya lama. Maharani tahu apa yang sedang ia timbang. Komandan yang dulu kaku oleh prosedur, yang dulu memerintahkan seluruh regu tetap di pos demi keselamatan kontingen, kini sedang mempertimbangkan mengirim tenaga medisnya yang paling berharga ke tangan seorang panglima perang.
"Aku tidak bisa memerintahkanmu melakukan ini," kata Bagas akhirnya.
"Aku tidak meminta perintah," kata Maharani. "Aku meminta izin. Dan dukungan. Dan agar kalau aku tidak kembali, ada catatan yang menjelaskan bahwa aku tahu persis apa yang aku lakukan."
Adama berdiri. "Aku ikut," katanya. "Aku menerjemahkan. Dan aku tahu lembah ini. Kalau ada yang bisa membuat warga dua tepi mendengar, itu kau yang bicara dan aku yang menerjemahkan."
Bagas memandang radio, tempat suara sektor masih sesekali mengulang instruksi untuk tidak bertindak. Lalu ia mematikannya. Ia akan melaporkan, Maharani tahu, ia akan melaporkan semuanya — tapi setelah, bukan sebelum, karena ada keputusan yang tidak bisa menunggu sistem.
"Dua jam," kata Bagas. "Bala bantuan dua jam lagi. Kalau kau bisa menahan keadaan tetap hidup selama dua jam tanpa ada yang mati, mungkin kita semua keluar dari ini."
Maharani mengangguk. Ia keluar dari kontainer ke fajar yang baru pecah, ke jembatan yang menunggu di kabut utara, dan ia menyadari ia akan menyeberang lagi — tapi kali ini dengan langkah yang dipilih, bukan langkah yang dicuri.