Ia berjalan ke jembatan tanpa helm.
Itu keputusan terakhirnya sebelum berangkat, dan Bagas tidak menghentikannya. Helm biru adalah lambang kontingen, lambang pasukan, lambang sesuatu yang Le Colonel ingin lihat mundur. Maharani tidak ingin Le Colonel melihat kontingen. Ia ingin Le Colonel melihat bidan. Maka ia meletakkan helmnya di tangan Bagas, dan ia berjalan dengan kepala terbuka di bawah langit pagi, dengan tas medis di bahu — bukan untuk pertahanan, tapi karena ada warga terluka di jembatan dan ia tidak pernah datang ke mana pun tanpa tas itu.
Adama berjalan di sampingnya, juga tanpa senjata, juga dengan tangan terbuka. Di belakang mereka, dalam jarak yang disepakati, pos mengawasi. Wanto di menara dengan teropongnya, jari di luar pelatuk, menjaga garis yang ia jaga seumur tugasnya. Maharani tahu penembak itu mengawasinya, dan anehnya pengetahuan itu menenangkan: bukan karena Wanto akan menembak untuk menyelamatkannya — ia tahu Wanto tidak boleh dan tidak akan kecuali untuk pembelaan langsung — melainkan karena ada seseorang yang melihat, yang menyaksikan, yang akan mengingat.
Lingkaran arc itu menutup dengan sunyi yang hanya ia rasakan sendiri. Berbulan-bulan lalu ia menyeberangi air ini diam-diam, melanggar perintah, helm biru di tangan, terbelah antara patuh dan nurani, mengira itu pilihan terberat dalam hidupnya. Kini ia menyeberang lagi — bukan diam-diam, bukan melanggar, melainkan dengan otorisasi dan dukungan dan kepercayaan yang ia bangun batu demi batu selama berbulan-bulan. Penyeberangan pertama adalah pelanggaran nurani. Yang ini adalah tugas yang sah. Sungai yang sama, langkah yang berbeda, dan perbedaan itu adalah seluruh perjalanan yang ia tempuh untuk sampai ke sini.
Jembatan muncul dari kabut. Tua, dari kayu dan besi yang berkarat, membentang di atas air cokelat yang mengalir lambat. Di tengahnya, Maharani melihat mereka: belasan warga berkumpul rapat, dikelilingi milisi bersenjata. Dan di ujung utara jembatan, berdiri sosok yang selama ini hanya berupa nama dalam bisikan dan tanda tangan di amplop. Le Colonel. Bernard Kambale.
Ia lebih tua dari yang Maharani bayangkan, dan lebih biasa. Itu yang paling mengganggu. Dalam bayangannya panglima perang itu adalah monster, sesuatu yang besar dan gelap. Yang ia lihat adalah lelaki kurus dengan seragam lusuh dan mata yang lelah, yang dulu mungkin tentara biasa, yang menemukan dalam kekosongan pasca-perang bahwa ketakutan bisa dijadikan mata uang dan kemudian tidak bisa berhenti mengumpulkannya.
Maharani berhenti di jarak yang aman, di mana suaranya bisa sampai tanpa harus berteriak. Adama berdiri di sisinya.
"Aku Maharani Saputri," katanya, dan menunggu Adama menerjemahkan. "Aku bidan di pos. Sebagian dari orang-orang yang kau tahan di jembatan itu pernah aku rawat. Aku datang untuk berbicara."
Le Colonel memandangnya lama. Lalu ia tersenyum, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Bidan yang membaca luka," katanya, dan Adama menerjemahkan, dan Maharani merasakan dingin mengenali kalimatnya sendiri dari amplop itu dikembalikan padanya. "Aku tahu siapa kau. Kau yang membongkar serangan yang seharusnya memecah faksi. Kau yang membuat kedua tetua tidak saling membantai. Kau menghabiskan banyak rencanaku."
"Aku merawat luka," kata Maharani. "Itu yang aku lakukan. Luka memberitahuku kebenaran, dan aku menyampaikannya. Bukan untuk menghabiskan rencanamu. Untuk mencegah orang mati."
"Dan sekarang kau di sini," kata Le Colonel, "untuk mencegah orang-orang ini mati." Ia menunjuk warga di belakangnya dengan dagunya. "Kau tahu syaratnya. Mundur. Hentikan bala bantuanmu. Berikan aku lembah, dan mereka pulang ke rumah mereka."
"Rumah mereka yang kau bakar," kata Adama, dan Maharani menyentuh lengannya — bukan sekarang, belum.
Maharani melangkah satu langkah lebih dekat. Di belakang panglima, ia bisa melihat anak buahnya kini, dan apa yang ia lihat menahan napasnya. Banyak dari mereka muda. Sangat muda. Wajah-wajah yang seharusnya di sekolah, di pasar, di ladang. Anak-anak dengan senjata yang lebih besar dari lengan mereka. Anak-anak yang dulu, ia tahu, hilang dari kamp pengungsi, korban yang diubah menjadi pelaku oleh lelaki yang menjanjikan mereka makan dan balas dendam.
Sesuatu bergeser dalam strateginya saat itu. Ia datang berpikir akan menawar nyawa dengan nyawa, menahan waktu sampai bala bantuan datang. Tapi melihat wajah-wajah muda itu, ia menyadari kelemahan Le Colonel bukan pada apa yang ia tahan di jembatan. Kelemahannya berdiri di belakangnya, memegang senjata, dan tidak lagi yakin kenapa.
"Aku tidak datang untuk menawar," kata Maharani, dan ia menaikkan suaranya sehingga sampai melewati panglima, ke anak-anak di belakangnya, ke warga yang ditahan, ke seluruh jembatan. "Aku datang untuk berbicara. Dan yang ingin aku katakan, semua orang di jembatan ini perlu mendengarnya."