"Perang sudah usai," kata Maharani, dan Adama menerjemahkan kalimat demi kalimat, suaranya membawanya ke seluruh jembatan. "Gencatan senjata ditandatangani. Kedua faksi lelah berdarah. Satu-satunya orang di lembah ini yang masih ingin perang adalah lelaki yang berdiri di hadapanku. Bukan karena ia membenci salah satu pihak. Karena ia butuh ketakutan kalian untuk tetap berkuasa."
Le Colonel tidak tersenyum lagi. "Hati-hati, bidan," katanya.
"Aku merawat orang dari kedua tepi," lanjut Maharani, tidak berhenti. "Aku menjahit luka anak dari barat di pagi hari dan membantu bersalin perempuan dari timur di malamnya. Aku tahu sesuatu yang lelaki ini tidak mau kalian tahu: nyawa kalian sama. Darah kalian warnanya sama. Kalian sakit dengan cara yang sama, melahirkan dengan cara yang sama, mati dengan cara yang sama. Garis di sungai itu tidak pernah nyata. Yang membuatnya nyata adalah orang-orang seperti dia yang untung dari kalian saling membenci."
Warga di tengah jembatan mendengarkan. Maharani bisa melihat itu — kepala-kepala yang terangkat, mata yang mencarinya. Sebagian dari mereka mengenalnya. Ia melihat seorang ibu yang persalinannya pernah ia tolong, seorang lelaki tua yang lukanya pernah ia jahit. Pengenalan itu, kepercayaan yang ia bangun selama berbulan-bulan, kini menjadi sesuatu yang nyata di antara mereka, lebih nyata daripada senjata milisi.
"Cukup," kata Le Colonel. "Aku tidak datang untuk pidato. Mundur, atau aku tunjukkan padamu aku serius." Ia memberi isyarat, dan salah seorang milisi muda menyeret seorang lelaki tua keluar dari kelompok sandera, menjatuhkannya berlutut di papan jembatan.
Maharani merasakan jantungnya melonjak, tapi tangannya, ia menyadari, tetap tenang. "Kau bisa menembaknya," katanya pelan, dan Adama menerjemahkannya dengan suara yang menahan amarah. "Kau bisa. Aku tidak punya senjata untuk menghentikanmu. Tapi dengar aku, Bernard Kambale." Ia memakai namanya, nama yang ia pelajari dari Adama, dan ia melihat lelaki itu terkejut mendengar dirinya dipanggil sebagai orang. "Setiap orang yang kau bunuh di jembatan ini hari ini, kau bunuh di depan anak buahmu sendiri. Dan mereka melihat. Mereka semua melihat."
Ia berpaling kepada anak-anak yang memegang senjata. "Aku mengenal sebagian dari kalian," katanya, dan suaranya berubah, menjadi lebih lembut, suara yang ia pakai untuk pasien yang ketakutan. "Kalian dari kamp. Aku merawat kalian saat kalian sakit. Sebagian dari kalian, aku ada saat kalian lahir, lewat ibu-ibu yang aku tolong. Kalian bukan pembunuh. Kalian anak-anak yang lapar dan takut, dan lelaki ini menjanjikan kalian makan dan kekuatan. Tapi lihat apa yang ia minta kalian lakukan sekarang. Ia minta kalian menembak orang-orang tua kalian sendiri di jembatan."
Kesunyian di jembatan menjadi sesuatu yang bisa diraba.
"Tetua kalian tahu kalian di sini," kata Maharani. "Tetua dari kedua tepi." Dan saat itu, seperti yang sudah diatur lewat Adama di malam buta, sosok-sosok muncul dari kabut di ujung selatan jembatan. Para tetua. Dari barat dan dari timur, berdiri berdampingan — pemandangan yang setahun lalu mustahil. Mereka tidak membawa senjata. Mereka membawa sesuatu yang lebih berat: pengakuan bahwa lembah telah memilih.
Le Colonel berbalik dan melihat mereka, dan untuk pertama kalinya Maharani melihat sesuatu retak di wajahnya. Bukan ketakutan akan senjata. Ketakutan akan hal yang lebih dalam: kehilangan pijakan. Selama ini kekuasaannya berdiri di atas perpecahan, di atas ketakutan, di atas kepastian bahwa selalu ada dua pihak yang bisa ia adu. Kini kedua pihak berdiri di satu ujung jembatan, dan ia sendirian di ujung lain dengan anak-anak yang mulai meragukan.
"Mereka tidak akan membela kalian," kata Le Colonel kepada anak buahnya, suaranya naik. "Kalian sudah berdarah untukku. Kalian sudah membunuh. Mereka tidak akan menerima kalian kembali."
"Mereka akan," kata Maharani, dan ia memandang tetua-tetua itu, dan salah satu dari mereka — lelaki tua dari pos pemeriksaan pertama yang dulu mencurigai setiap helm biru — melangkah maju dan berbicara, suaranya retak oleh usia tapi jelas, dan Adama menerjemahkannya.
"Pulanglah," kata tetua itu kepada anak-anak. "Letakkan senjata kalian dan pulang. Kalian masih anak-anak kami. Lembah masih punya tempat untuk kalian. Tapi tidak untuk apa yang dia ingin kalian jadikan."
Maharani memandang Le Colonel, dan ia tidak merasakan kemenangan. Ia merasakan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih sedih: ia melihat seorang lelaki menyaksikan kekuasaannya menyusut bukan karena dikalahkan dengan kekuatan, melainkan karena ketakutan yang ia jual tidak lagi laku. Lembah telah berhenti takut. Dan tanpa ketakutan, ia bukan apa-apa.
"Lepaskan mereka, Bernard," kata Maharani pelan, hanya untuk dirinya dan lelaki itu sekarang. "Tidak ada yang menang hari ini. Tapi kau bisa memilih berapa banyak yang kalah."