Apa yang terjadi di ujung utara jembatan tidak dilakukan oleh kontingen, dan itu, Maharani kemudian menyadari, adalah inti dari segalanya.
Ketika bala bantuan tiba dan kendaraan mekanis berjajar di jalan utara, anak buah inti Le Colonel yang tersisa membuat perhitungan dingin yang sama yang membuat anak-anak meletakkan senjata: tidak ada lagi yang bisa dimenangkan, dan tetap setia berarti mati untuk seorang lelaki yang sudah kalah. Mereka membubarkan diri ke hutan, melepaskan diri dari nama yang dulu menakutkan dan kini hanya beban. Le Colonel berdiri sendiri di jembatan, terisolasi, dengan pilihan yang tinggal dua: menyerah, atau mati melawan kekuatan yang tidak akan menembaknya kecuali ia menembak lebih dulu.
Helm biru tidak menangkapnya. Mereka tidak berwenang. Itu bukan kelumpuhan birokrasi kali ini — Maharani memahaminya dengan jelas sekarang — melainkan justru hal yang membuat akhir ini benar. Kontingen bukan polisi, bukan penegak hukum, bukan hakim. Menangkap Le Colonel dengan tangan helm biru akan menjadikan mereka pihak dalam perang yang seharusnya mereka jaga jeda di antaranya.
Maka yang menangkapnya adalah faksi-faksi lokal sendiri.
Maharani menyaksikannya dari sisi selatan, dengan tas medisnya di bahu dan sandera-sandera yang baru ia bebaskan di sekelilingnya. Orang-orang dari kedua tepi — bukan tentara faksi yang berbaris rapi, melainkan campuran milisi faksi dan warga biasa, lelaki muda dan tua dari barat dan timur — bergerak maju ke jembatan bersama. Mereka mengepung Le Colonel bukan dengan kemarahan yang membabi buta, melainkan dengan sesuatu yang lebih dingin dan lebih menentukan. Mereka mengambil senjatanya. Mereka mengikatnya. Dan mereka tidak membunuhnya, meski Maharani tahu setiap orang di jembatan itu punya alasan untuk membunuhnya — rumah yang dibakar, keluarga yang hilang, anak-anak yang dicuri.
Mereka tidak membunuhnya karena, Adama menjelaskan kemudian, para tetua telah sepakat di malam buta itu, saat mereka diatur untuk datang ke jembatan: lelaki ini akan diserahkan kepada otoritas misi untuk diadili. Bukan dibunuh di jembatan dalam balas dendam yang akan melahirkan balas dendam berikutnya. Diadili. Lewat jalur yang sah. Agar lembah, untuk pertama kalinya dalam sejarah ingatan, memilih keadilan ketimbang darah.
Le Colonel diserahkan kepada perwira sektor yang baru tiba bersama bala bantuan, dengan dokumentasi yang Maharani dan Adama dan Bagas telah kumpulkan selama berbulan-bulan — bukti manipulasi faksi, perekrutan anak, perebutan tanah mineral, serangan-serangan yang dirancang menyaru sebagai pelanggaran gencatan. Semua tercatat. Semua bisa dipertanggungjawabkan. Pengetahuan yang dulu membahayakan Maharani — ancaman di pagar kawat, daftar nama di amplop, bidan yang terlalu banyak tahu — kini menjadi fondasi dari keadilan yang sah.
Maharani memandang Le Colonel dibawa pergi, lelaki kurus dengan mata lelah, dan ia menunggu dirinya merasakan kemenangan, atau kepuasan, atau setidaknya kelegaan yang utuh. Yang ia rasakan lebih rumit dari semuanya. Ia merasakan kelelahan yang sampai ke tulang. Ia merasakan kehilangan Patar seperti batu di dada. Ia merasakan beratnya semua nama dalam buku sakunya. Tapi di bawah semua itu, ia merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang sudah lama ia perjuangkan tanpa tahu apakah mungkin: pembenaran atas cara, bukan hanya hasil.
Karena ini, persis ini, adalah yang dipertaruhkan novel hidupnya sejak ia berdiri di tepi sungai dengan helm biru di tangan. Berbulan-bulan lalu ia hampir percaya bahwa satu-satunya cara melawan kekejaman adalah dengan melanggar, dengan menyeberang sendirian, dengan menjadi pahlawan tunggal yang menembus kegelapan. Ia telah melakukan itu, dan ia telah membayar harganya, dan ia tidak pernah menyesalinya. Tapi ini — keadilan yang datang lewat jalur yang membumi dan sah, lewat lembah yang menyerahkan musuhnya untuk diadili alih-alih dibantai, lewat kepercayaan yang dibangun batu demi batu hingga ketakutan tidak lagi laku — ini membuktikan ada cara lain. Bukan penyelamatan heroik tunggal. Kesabaran yang berani. Kehadiran yang utuh. Komunitas yang memilih untuk berbeda dari yang menyerangnya.
Adama berdiri di sisinya, memandang jembatan yang kini mengalirkan warga pulang alih-alih sandera ditahan. "Aku tidak menyangka akan hidup melihat ini," katanya pelan. "Kedua tepi, di satu jembatan, menyerahkan satu orang untuk diadili alih-alih saling membantai untuk balas dendam."
"Mereka yang melakukannya," kata Maharani. "Bukan kita. Kita hanya menjaga jeda cukup lama sampai mereka bisa memilih sendiri."
Ia memandang ke seberang, ke pos kecil di tepi sungai yang masih berdiri, berlubang dan terbakar dan letih, tapi berdiri. Ke tenda medis tempat Patar mati dan tempat puluhan lain hidup. Ke menara tempat Wanto menahan tembakan yang akan menjadikannya pembunuh. Ke kamp tempat perempuan yang ia latih kini menjadi penolong. Pos yang dulu hanya menjaga garis biru di atas peta, dan yang akhirnya menjadi sesuatu yang lebih: sebuah tempat di mana sebuah lembah belajar bahwa nyawa tidak punya bendera, dan bahwa keadilan tidak harus lahir dari darah.
Le Colonel hilang dari pandangan, dibawa ke utara menuju pengadilan yang akan menentukan nasibnya lewat hukum, bukan peluru. Dan Maharani Saputri, bidan dari Klaten yang ibunya menjual jamu, berdiri di tepi sungai yang dulu membelah hidupnya menjadi sebelum dan sesudah, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, membiarkan dirinya bernapas penuh.