Pagi datang ke lembah seperti tamu yang tak tahu apakah masih disambut. Cahaya pertama jatuh di atap kontainer yang berlubang, di kawat yang melengkung kena terjangan, di tanah merah yang sudah menyerap terlalu banyak hal untuk satu musim kering. Maharani berdiri di mulut tenda medis dengan secangkir teh yang sudah dingin di tangannya, tidak meminumnya, hanya memegangnya karena tangannya butuh memegang sesuatu yang tidak berdarah.
Kepungan sudah usai. Itu kalimat yang ia ulang dalam kepala, mencoba mempercayainya. Tapi tubuhnya belum tahu cara berhenti. Selama tiga hari dan empat malam ia bekerja dengan tubuh yang berjalan lebih cepat daripada pikirannya, dan kini ketika tak ada lagi yang menjahit, tak ada lagi infus yang harus dijaga tetesannya, tak ada lagi suara yang memanggil namanya dari sudut gelap, ia menemukan dirinya tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan kedua tangannya.
Mereka menghitung. Itulah yang dilakukan pasukan setelah pertempuran usai. Bukan merayakan. Menghitung.
Bagas berdiri di tengah lapangan kecil dengan papan jepit dan dua perwira muda di sisinya, membaca daftar dengan suara datar yang Maharani tahu sengaja dibuat datar. Personel kontingen: satu gugur, Patar, sudah dimakamkan sementara di belakang pos sambil menunggu pemulangan jenazah. Lima luka, dua di antaranya akan dievakuasi ke rumah sakit lapangan misi. Oddie termasuk di antara yang lima, bahunya yang diserempet dulu kembali terbuka karena ia menolak istirahat, dan ia berdiri di barisan dengan lengan tergantung kain dan wajah yang tak lagi punya canda.
Warga: angka yang lebih kabur. Adama datang dengan daftarnya sendiri, ditulis tangan dalam dua bahasa, nama-nama yang ia kumpulkan dari mulut ke mulut sepanjang malam. Sembilan tewas di antara mereka yang berlindung di pos selama kepungan, sebagian karena luka, sebagian karena penyakit yang menyergap tubuh yang sudah lemah. Entah berapa lagi di dusun-dusun yang dibakar milisi sebelum runtuh. Yang hilang tidak punya kolom. Yang hilang hanya punya keluarga yang berdiri di pinggir kamp memandang jalan utara, menunggu wajah yang mungkin tak akan pulang.
"Kau harus tidur," kata Fatou. Ia datang tanpa suara, berdiri di samping Maharani dengan anaknya digendong selendang di punggung. Kakinya masih pincang dari luka lama, tapi ia berdiri tegak, dan dalam beberapa bulan terakhir ia telah berubah dari perempuan yang bersembunyi di lubang penyimpanan menjadi seseorang yang membawa daftar obat di kepalanya sebaik Maharani.
"Nanti," kata Maharani.
"Kau bilang nanti tiga hari lalu."
Maharani memandangnya, dan untuk sesaat ia ingin menjelaskan: bahwa kalau ia berhenti, kalau ia membiarkan dirinya berhenti, semua yang ia tahan akan jatuh sekaligus, dan ia tidak yakin ia bisa berdiri lagi sesudahnya. Tapi Fatou tahu itu tanpa dijelaskan. Fatou pernah berdiri di tempat yang sama, di sisi yang lebih buruk dari sungai.
"Aku akan jaga tenda," kata Fatou. "Aku tahu mana yang harus dipanggil kalau ada yang memburuk. Kau ajari aku. Sekarang aku yang ajari kau cara percaya."
Maharani tidak punya argumen untuk itu. Ia membiarkan Fatou mengambil cangkir teh dingin dari tangannya. Tapi ia tidak pergi tidur. Ia berjalan ke belakang pos, ke tanah yang baru digali, tempat sebuah salib kayu sederhana ditancapkan dengan nama Patar dipahat tergesa oleh Wanto dengan ujung pisau.
Wanto sudah di sana. Penembak runduk dari Sumatra itu berjongkok di depan gundukan tanah, tidak berdoa, tidak bicara, hanya ada. Ia memegang buku sakunya yang biasanya berisi koordinat dan pergerakan, dan Maharani melihat halaman yang terbuka tidak berisi angka. Berisi nama. Nama-nama mati, ditulis dengan tangan yang biasa menulis sasaran.
"Dia minta ikan kuah kuning," kata Wanto, tidak menoleh. "Di akhir. Dia bilang kalau pulang dia mau makan ikan kuah kuning bikinan maminya di Ambon." Ia diam. "Aku nggak tahu rasanya kayak apa."
Maharani berjongkok di sampingnya. Tanah masih lembap dari penggalian, baunya bercampur dengan bau mesiu yang belum hilang dari pakaian mereka.
"Aku tahu," katanya. "Kuah kuningnya pakai kunyit, asam, sereh. Ikannya tongkol biasanya. Pedasnya bukan dari cabai banyak, tapi dari cabai rawit utuh yang dibiarkan apung."
Wanto menoleh padanya, dan ada sesuatu di matanya yang nyaris seperti syukur. "Kau bisa cerita itu ke maminya. Kalau ketemu."
"Aku janji ke dia," kata Maharani. "Dia bilang, bilang Mama. Dia nggak sempat selesaikan kalimatnya. Tapi aku janji aku akan bilang ke maminya. Sesuatu."
Mereka berjongkok di sana cukup lama, dua orang dari dua kampung yang berbeda di tanah air yang sama, di tepi kubur seseorang dari kampung ketiga, di lembah yang bukan milik siapa-siapa dari mereka. Dan Maharani menyadari, dengan kejernihan dingin yang datang setelah kelelahan ekstrem, bahwa ia telah menang dan ia tidak merasa menang.
Mereka mengusir milisi. Mereka membela pos. Mereka menyelamatkan ratusan. Le Colonel diserahkan untuk diadili. Setiap kalimat itu benar, dan setiap kalimat itu adalah kemenangan, dan tak satu pun terasa seperti kemenangan ketika kau menghitung yang tersisa dan yang tersisa lebih sedikit daripada yang berangkat.
Ia pernah mengira, di awal misi ini, bahwa bertahan hidup dan menang adalah hal yang sama. Bahwa kalau pos berdiri di pagi hari, mereka menang. Sekarang ia tahu itu dua hal yang berbeda. Pos berdiri. Mereka bertahan hidup. Tapi kemenangan adalah kata untuk orang yang belum menghitung, dan ia sudah menghitung, dan angka-angkanya akan ia bawa pulang di buku saku bersampul kulit yang dijahit ibunya, di samping nama-nama bayi yang ia bantu lahirkan dan nama-nama yang gagal ia selamatkan, semua dalam satu buku, semua dalam satu kehidupan.
Ketika ia akhirnya berdiri, mataharinya sudah tinggi. Fatou benar. Ia harus tidur. Bukan karena ia sudah menang. Karena besok akan ada yang sakit lagi, dan ia harus cukup utuh untuk merawatnya. Itu, ia mulai paham, bukan kemenangan. Itu pekerjaan. Dan pekerjaan tidak pernah berhenti hanya karena pertempuran usai.