Mereka memutuskan untuk memakamkan yang mati pada hari ketiga, ketika tanah cukup kering untuk digali dan keluarga cukup terkumpul untuk berkabung. Bukan satu pemakaman. Pada awalnya Maharani mengira akan ada banyak, terpisah-pisah, faksi barat menguburkan miliknya di tanahnya, faksi timur di tanahnya, kontingen mengurus jenazahnya sendiri dengan protokol pemulangan. Begitulah cara lembah ini selalu mengurus kematiannya: terpisah, di sisi sungai masing-masing, dengan kebencian yang ikut dikubur lalu digali lagi musim berikutnya.
Tapi Adama datang ke tenda medis pada malam sebelumnya dengan wajah seseorang yang membawa sesuatu yang rapuh di tangannya. "Para tetua sudah bicara," katanya. "Lagi. Seperti malam di jembatan." Ia berhenti, mencari kata dalam bahasa Maharani. "Mereka mau menguburkan bersama. Tidak satu lubang, jangan salah paham, masing-masing punya cara, punya doa. Tapi di tempat yang sama. Di hari yang sama. Di lapangan dekat pasar yang dulu kita rencanakan."
Maharani memandangnya. "Mereka mau berkabung bareng."
"Mereka tidak pakai kata itu," kata Adama, dan sudut bibirnya naik sedikit, kelelahan yang nyaris jadi senyum. "Tetua barat bilang, supaya orang timur lihat bahwa kami juga kehilangan anak. Tetua timur bilang, supaya orang barat lihat bahwa darah kami juga merah. Mereka tidak bilang berkabung bersama. Mereka bilang membuktikan. Tapi itu hal yang sama, kan?"
"Itu hal yang sama," kata Maharani pelan.
Lapangan itu, di pagi pemakaman, penuh dengan cara yang belum pernah Maharani lihat. Warga dari kedua tepi datang menyeberangi jembatan yang tiga hari lalu menjadi tempat sandera, kini hanya jembatan lagi, kayu dan tali dan papan. Mereka tidak bercampur. Itu akan terlalu banyak untuk diminta. Yang barat berdiri di sisi barat lapangan, yang timur di sisi timur, dan di antara mereka ada deretan tubuh yang dibungkus kain, sebagian putih, sebagian dengan corak tenun yang Maharani kenali sebagai milik faksi tertentu, dan dua dengan bendera kecil yang dilipat rapi karena tubuh-tubuh itu adalah warga yang mati di pos di bawah perlindungan helm biru.
Adama memimpin. Itu bukan perannya, secara resmi. Ia penerjemah, penghubung, bukan tokoh agama, bukan tetua. Tapi ia satu-satunya orang di lembah yang fasih dalam dua bahasa kedua tepi sekaligus, dan ia satu-satunya yang dipercaya oleh keduanya, dan maka ketika tetua barat selesai dengan doanya dan tetua timur mulai dengan miliknya, Adama berdiri di tengah dan menerjemahkan. Bukan kata demi kata. Ia menerjemahkan duka.
Ketika tetua barat berkata sesuatu tentang anak yang seharusnya tumbuh menjadi pria, Adama mengulangnya dalam bahasa timur, dan Maharani melihat perempuan-perempuan di sisi timur menundukkan kepala karena mereka juga punya anak yang tak tumbuh. Ketika tetua timur menyebut nama seorang gadis yang mati di pos dari demam, Adama mengulangnya dalam bahasa barat, dan seorang lelaki tua di sisi barat menutup matanya karena ia mengenali penderitaan demam itu, ia pernah kehilangan seseorang dengan cara yang sama.
Maharani berdiri di pinggir bersama Bagas dan beberapa anggota regu, di tempat yang sengaja mereka pilih: tidak di tengah, tidak menonjol, tidak menjadikan ini milik mereka. Mereka datang sebagai pelayat, bukan sebagai penyelenggara. Patar tidak dimakamkan di sini, jenazahnya akan pulang ke Ambon, tapi Bagas membawa fotonya dan meletakkannya di antara yang lain selama upacara, agar pasukan dari tanah jauh itu berkabung di lembah yang sama, sebelum ia pulang ke laut yang melahirkannya.
Maharani memandang Wanto yang berdiri kaku di sampingnya, rahangnya mengeras, dan ia tahu lelaki itu sedang menghitung. Selalu menghitung. Tapi ada momen, ketika seorang ibu dari faksi timur dan seorang ibu dari faksi barat tanpa direncanakan menangis dengan irama yang sama, dua suara dari dua tepi yang naik dan jatuh dalam tangis yang identik karena duka tidak punya logat, ada momen ketika Maharani melihat bahu Wanto turun sedikit, seakan sesuatu yang ia tahan sejak ia menahan tembakan di lereng itu akhirnya menemukan tempat untuk diletakkan.
Dan Maharani menyadari sesuatu yang akan ia bawa pulang lebih lama daripada angka-angka di bukunya.
Selama berbulan-bulan ia mengira tugasnya adalah mencegah perang. Menjaga jeda. Menahan dua tepi agar tidak saling membantai. Itu yang ditulis dalam mandat, itu yang dimaksud dengan garis biru di atas peta. Tapi yang ia saksikan di lapangan itu bukan jeda yang dijaga dengan paksa. Itu sesuatu yang lain. Itu dua kelompok orang yang selama puluhan tahun yakin bahwa kehilangan mereka lebih berat, lebih sah, lebih layak ditangisi daripada kehilangan musuh mereka. Dan di pagi itu, di hadapan tubuh-tubuh yang dibungkus kain, mereka menemukan bahwa kehilangan itu sama. Persis sama. Berat yang sama, kosong yang sama, ibu yang menangis dengan irama yang sama.
Perdamaian, ia mulai mengerti, bukan ketika kau menang melawan musuhmu. Perdamaian adalah ketika kau menangisi yang sama. Bukan kemenangan yang menyatukan lembah. Kehilangan yang menyatukannya. Pengakuan, yang datang terlambat dan dibayar terlalu mahal, bahwa darah di kedua sisi sungai mengering dengan warna yang sama dan meninggalkan luka yang sama di dada yang sama manusianya.
Ketika upacara usai, orang-orang mulai pulang ke tepi masing-masing. Mereka tidak berpelukan lintas tepi. Tidak ada keajaiban semacam itu. Tapi seorang lelaki muda dari barat membantu seorang lelaki tua dari timur menuruni tepi jembatan yang licin, tangan menggenggam lengan, dan itu sudah lebih dari yang pernah terjadi di lembah ini dalam ingatan siapa pun. Maharani memandang sungai yang mengalir di bawah jembatan, air yang sama yang dulu membelah hidupnya menjadi sebelum dan sesudah, dan ia membiarkan dirinya percaya, sebentar saja, bahwa air itu kini menyatukan lebih banyak daripada yang ia pisahkan.