Anak Fatou tidak lagi bayi yang Maharani tahan napasnya di lubang penyimpanan. Itu fakta yang menghentak Maharani setiap kali ia menyadarinya, betapa waktu telah berlalu di lembah ini, diukur bukan oleh laporan dan rotasi tapi oleh seorang anak yang dulu nyaris tak bernapas dan kini merangkak, lalu berdiri, lalu, pada pagi itu, berjalan beberapa langkah goyah melintasi ruang klinik sebelum jatuh terduduk dengan tawa terkejut atas tubuhnya sendiri.
Maharani berlutut dan membentangkan tangan, dan anak itu, setelah memikirkannya dengan keseriusan yang hanya dimiliki anak kecil, merangkak ke arahnya dan menariknya berdiri lagi dengan menggenggam jarinya. Maharani merasakan genggaman itu, kecil dan kuat dan penuh kepercayaan total yang tak tahu apa-apa tentang sungai atau faksi atau mandat, dan sesuatu di dadanya yang sudah lama mengeras melonggar sedikit.
"Dia suka padamu," kata Fatou dari ambang pintu. "Dia tahu. Anak-anak tahu siapa yang menahan napas mereka di awal."
"Dia tidak mungkin ingat itu."
"Tubuhnya ingat," kata Fatou, dan Maharani tidak membantah, karena ia tahu tentang hal-hal yang diingat tubuh meski pikiran lupa.
Fatou memberi anaknya nama setelah kepungan usai. Ia menunggu, katanya, sampai ia yakin lembah akan hidup, karena memberi nama adalah taruhan pada masa depan dan ia tak mau bertaruh sampai masa depan terlihat mungkin. Nama itu, Adama jelaskan kepada Maharani, tidak berasal dari satu tepi. Bagian depannya adalah nama dari tradisi faksi timur, tepi tempat Fatou lahir. Bagian belakangnya adalah kata dari bahasa faksi barat, tepi seberang sungai, musuh seumur hidup Fatou dan keluarganya. Disatukan, namanya berarti, sejauh dua bahasa bisa disatukan, sesuatu seperti jembatan yang dibangun, atau air yang menyatukan, atau tepi yang bertemu.
"Orang akan marah," kata Maharani ketika Fatou memberitahunya. "Memberi anak timur nama yang separuhnya bahasa barat. Sebagian orang akan menganggapnya pengkhianatan."
"Sebagian orang sudah marah," kata Fatou tenang. "Tetua tua di desaku tak mau menyebut namanya, dia memanggil anakku dengan kata lain. Tapi aku tak peduli. Aku menghabiskan seumur hidupku mewarisi kebencian yang bukan aku yang mulai. Ayahku mewarisinya dari ayahnya, dan ayahnya dari ayahnya, sungai penuh dengan kebencian yang diturunkan seperti penyakit. Aku menolak menurunkannya. Anakku akan tumbuh dengan nama yang setiap kali diucapkan mengingatkan bahwa kedua tepi bisa ada dalam satu mulut tanpa membunuh satu sama lain. Kalau itu membuat orang marah, biarlah aku yang menanggung marahnya, bukan dia."
Maharani memandang anak itu, yang kini sibuk dengan boneka kain yang dibuat untuk latihan persalinan, mengayun-ayunkannya dengan kasih sayang yang ditiru dari menyaksikan ibunya, dan ia merasakan jawaban atas pertanyaan yang telah menghantuinya sejak malam ia menarik tali perahu.
Apakah penyeberangan itu sepadan.
Ia telah menimbangnya berkali-kali, dalam berbagai bentuk, dengan berbagai cara berhitung. Sepadankah dua nyawa terhadap noda dalam riwayatnya. Sepadankah satu malam pelanggaran terhadap krisis yang nyaris menghancurkan kontingen. Sepadankah keberaniannya yang ceroboh terhadap kematian Patar yang datang berbulan kemudian dalam rantai sebab yang panjang dan tak bisa dipisahkan. Ia telah menyusun timbangan-timbangan itu dan tak satu pun pernah seimbang, karena kau tidak bisa menimbang nyawa terhadap angka, kau tidak bisa membandingkan napas terhadap arsip.
Tapi di pagi itu, dengan jari masih basah oleh genggaman anak itu, ia mengerti bahwa pertanyaannya salah sejak awal. Pertanyaannya bukan apakah penyeberangan itu sepadan. Sepadan adalah kata untuk transaksi, untuk hal-hal yang punya harga dan bisa ditukar. Anak ini bukan transaksi. Anak ini hidup. Bernapas. Berjalan beberapa langkah goyah dan jatuh terduduk dan tertawa atas tubuhnya sendiri. Itu bukan jawaban yang bisa ditimbang. Itu jawaban yang bernapas.
Ia tidak tahu apakah ia akan menarik tali perahu itu lagi seandainya ia tahu semua yang akan terjadi sesudahnya. Patar, noda, krisis, kematian-kematian, semua harga yang terus bertambah. Mungkin tidak. Mungkin kebijaksanaan yang ia dapatkan sejak itu, tentang ketekunan dan pendekatan kolektif dan menahan diri saat kuat, akan membawanya memilih jalan lain, jalan yang lebih sabar, yang mungkin menyelamatkan lebih banyak. Ia tidak akan pernah tahu. Itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab oleh orang yang sudah melewatinya.
Tapi ini ia tahu, dengan kepastian yang tak butuh timbangan: anak yang menggenggam jarinya ini tidak akan ada kalau ia tidak menyeberang. Dan anak ini, dengan namanya yang menyatukan dua tepi, dengan tawanya yang tak tahu apa-apa tentang bendera, adalah bukti hidup bahwa di antara semua kesalahan dan harga dan luka yang ia bawa pulang, ada satu hal yang murni baik, yang tak terbantahkan, yang akan tumbuh dan berjalan dan suatu hari membaca kata pertama di papan tulis sekolah Adama dan tak pernah tahu betapa dekat ia dengan tak pernah ada.
Itu cukup. Ia tak butuh timbangan itu seimbang. Ia hanya butuh anak itu hidup, dan anak itu hidup, dan ia menggenggamnya berjalan keliling klinik sampai kakinya lelah, sampai ia jatuh terduduk lagi, sampai ia tertawa lagi, dan Maharani tertawa bersamanya, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, tanpa beban apa pun di baliknya.