Ketenangan datang ke lembah perlahan, seperti air yang surut, dan dalam ketenangan itu hal-hal yang dulu tenggelam oleh kesibukan mulai muncul ke permukaan. Bagi Maharani, yang muncul adalah hantu yang ia bawa tujuh belas jam ke selatan, yang ia kira sudah ia tinggalkan di tanah air tapi yang ternyata hanya menunggu, sabar, sampai ia cukup tenang untuk mendengarnya lagi.
Pasien pertamanya.
Ia jarang menceritakannya, bahkan pada dirinya sendiri ia jarang membiarkannya utuh. Bertahun lalu, sebelum lembah, sebelum helm biru, ketika ia masih bidan muda yang baru lulus dan masih percaya bahwa keahlian cukup untuk melawan maut, ada seorang perempuan yang melahirkan dan tidak berhenti berdarah. Maharani melakukan semua yang ia tahu, dan yang ia tahu tidak cukup, dan perempuan itu mati di tangannya sementara bayinya menangis di sudut ruangan, hidup dari ibu yang tidak akan pernah ia kenal. Maharani mengingat setiap detiknya dengan kejelasan yang kejam, dan selama bertahun-tahun kejelasan itu menjadi suara di kepalanya yang berkata: kau gagal, kau akan gagal lagi, jangan terlalu percaya pada tanganmu.
Suara itu yang membuatnya keras kepala dalam urusan nyawa. Suara itu yang membuatnya menarik tali perahu malam itu, karena membiarkan jeritan dari seberang berarti membiarkan diri gagal lagi, dan ia tak bisa menanggung gagal lagi. Suara itu telah membentuknya, untuk buruk dan untuk baik, lebih dari yang ia akui pada siapa pun.
Ia duduk sendirian di tenda medis suatu malam, ketika lembah tidur dan tidak ada yang sakit, dengan buku saku bersampul kulit terbuka di pangkuannya. Halaman-halamannya penuh sekarang. Nama bayi yang ia bantu lahirkan, dari kedua tepi. Nama mati, ditulis di sebelahnya tanpa pemisah karena hidup tidak memisahkan mereka. Nama Patar. Dokumen teguran yang dilipat. Dan di suatu tempat, tak tertulis tapi selalu ada, nama pasien pertamanya, perempuan yang darahnya tak mau berhenti.
Ia telah datang ke lembah ini membawa keyakinan bahwa nyawa tidak punya bendera. Itu benar, ia masih percaya itu, lembah telah membuktikannya dengan cara yang lebih rumit dari yang ia bayangkan. Tapi ada keyakinan lain yang ia bawa tanpa menyadarinya, keyakinan yang lebih gelap, yang baru kini ia berani lihat utuh: keyakinan bahwa bidan yang baik tidak boleh kehilangan. Bahwa setiap kematian adalah kegagalan pribadinya. Bahwa hadir berarti menyelamatkan, dan kalau ia tak menyelamatkan, ia tak pantas hadir.
Lembah telah menghancurkan keyakinan itu dengan lembut dan tanpa ampun. Karena di lembah ia telah kehilangan. Berkali-kali. Ia kehilangan sembilan warga di pos meski ia melakukan semua yang ia tahu, dan kini ia tahu jauh lebih banyak daripada bidan muda dulu. Ia kehilangan Patar, memegang tangannya sampai akhir, dengan keahlian bertahun-tahun di ujung jarinya, dan tetap kehilangan. Ia berdiri di tepi kematian-kematian itu dengan tangan terbaik yang pernah ia miliki dan tetap kalah, dan ia menemukan, terkejut, bahwa ia tidak hancur.
Itu pelajarannya. Bukan bahwa ia menjadi cukup ahli untuk tak pernah kalah. Tak ada keahlian yang cukup. Pelajarannya adalah bahwa menjadi bidan, menjadi penyembuh, menjadi orang yang menaruh tangannya di antara orang dan maut, tidak pernah berarti tak pernah kalah. Itu berarti terus hadir meski tahu kalah mungkin. Terus menaruh tangan di tempat yang benar meski tahu kadang tangan tak cukup. Hadir bukan janji untuk menang. Hadir adalah janji untuk tidak berpaling.
Ia memikirkan Patar di akhir, bagaimana ia tidak berpaling. Bagaimana ia memegang tangan lelaki dari Ambon itu sementara hidup meninggalkannya, dan tidak berpaling, meski tahu ia akan kalah, meski hantu pasien pertamanya berdiri di sudut tenda seperti ia berdiri di sudut ruangan bertahun lalu. Ia tidak berpaling. Dan ia menyadari, di tenda yang sepi itu, bahwa itulah perdamaian yang ia cari. Bukan menghapus hantu itu. Hantu itu adalah bagian dirinya, lahir dari pasien yang ia cintai dan kehilangan, dan menghapusnya berarti menghapus kepedulian yang melahirkannya. Perdamaian bukan mengusir hantu. Perdamaian adalah membiarkannya berdiri di sudut ruangan dan tetap menaruh tangan di tempat yang benar.
Ia berbicara padanya malam itu. Tidak keras, hanya dalam hati, ke perempuan yang darahnya tak mau berhenti bertahun lalu. Ia berkata: aku tidak menyelamatkanmu. Aku tidak akan pernah menyelamatkanmu, dan aku berhenti berpura-pura bahwa keahlian yang cukup akan mengubah itu. Tapi aku hadir untukmu. Aku tidak berpaling. Dan karena kau, aku tidak berpaling dari ratusan setelahmu, dan sebagian aku selamatkan dan sebagian aku kehilangan, dan kau ada di setiap tangan yang aku letakkan. Kau bukan kegagalanku. Kau guru pertamaku. Kau yang mengajariku bahwa hadir adalah seluruh pekerjaannya, dan menang hanyalah karunia yang kadang datang dan kadang tidak.
Ketika ia menutup buku saku itu, sesuatu yang telah ia bawa selama bertahun-tahun terasa lebih ringan. Bukan hilang. Hanya diletakkan, akhirnya, di tempat yang benar, di antara nama-nama lain, sebagai bagian dari catatan yang utuh dan bukan sebagai luka yang tersembunyi. Ia akan membawanya pulang. Tapi ia akan membawanya seperti orang membawa guru, bukan seperti orang membawa rantai. Dan untuk pertama kalinya sejak ruangan itu bertahun lalu, ketika ia memikirkan pasien pertamanya, ia merasakan bukan rasa bersalah, melainkan terima kasih.