Pasar itu mulai hidup sebelum matahari benar-benar naik. Maharani berdiri di pinggir lapangan zona penyangga sambil memegang gelas seng berisi teh yang sudah hampir dingin, dan untuk beberapa saat ia hanya menonton. Dulu lapangan ini kosong, tanah merah yang dipadatkan ban kendaraan, tempat kedua tepi sungai saling memandang dari jarak aman seolah tatapan saja bisa membunuh. Sekarang ada deretan terpal yang ditegakkan dengan tiang bambu, ada perempuan menggelar tikar dan menumpuk pisang, ada lelaki menggotong karung ubi yang dijatuhkan dengan bunyi tumpul ke tanah.
Ia mengenali wajah-wajah dari kedua sisi. Perempuan dari tepi barat yang dulu menolak menatap mata orang seberang kini menawar harga ikan kering dengan perempuan tepi timur, dan keduanya tertawa atas sesuatu yang Maharani tidak mengerti karena diucapkan terlalu cepat dalam bahasa lokal. Adama pernah berkata padanya bahwa tawar-menawar adalah bentuk percakapan paling jujur yang dimiliki lembah ini; orang bisa berbohong tentang banyak hal, tapi tidak tentang berapa yang sanggup mereka bayar untuk seekor ayam.
Dua tahun lalu helm biru harus berdiri di setiap sudut pasar ini, senjata di dada, mata mengawasi tiap gerakan yang bisa berubah jadi percikan. Sekarang Maharani hanya melihat dua personel kontingen berjaga malas di bawah pohon, lebih banyak mengipas diri dari panas daripada mengawasi. Pasar tidak lagi dijaga oleh kehadiran mereka. Pasar dijaga oleh orang-orang yang berjualan di dalamnya, yang punya terlalu banyak yang harus dirugikan jika lembah kembali berdarah. Ubi yang busuk di gudang, ayam yang mati tak terjual, anak yang lapar karena ayahnya tak bisa menyeberang membawa dagangan. Perdamaian akhirnya punya harga yang dibayar setiap hari di atas tikar pasar, dan harga itu ternyata lebih kuat dari mandat mana pun.
Seorang bocah berlari melewatinya sambil menjepit roti di mulut, dikejar dua anak lain yang tertawa. Maharani mengenali salah satunya. Anak itu lahir di klinik yang ia dirikan bersama Fatou, di desa yang dulu terbakar. Ibunya melahirkan dengan letak sungsang, dan untuk sesaat malam itu Maharani mengira ia akan kehilangan keduanya. Sekarang bocah itu berlari di pasar dengan kaki kotor dan roti di mulut, dan tak tahu sama sekali betapa dekat ia pernah dengan tidak pernah ada.
"Kau memandanginya seperti memandangi keajaiban," kata Adama. Ia datang dari arah deretan terpal, membawa dua kantong kertas yang diisi entah apa.
"Bukan keajaiban," kata Maharani. "Aku cuma sedang mengingat lapangan ini waktu kosong."
"Aku ingat lebih jauh dari itu." Adama berdiri di sampingnya, mengikuti arah pandangnya. "Aku ingat waktu lapangan ini jadi tempat orang dikumpulkan sebelum dibawa pergi. Waktu pasar terakhir di sini berakhir dengan tembakan, sebelum kau datang, sebelum siapa pun dari kalian datang. Aku tidak pernah membayangkan tikar bisa kembali ke tanah ini." Ia menyodorkan salah satu kantong. "Kacang. Yang dipanggang dengan garam batu. Putri lelaki tua dari pos pemeriksaan yang membuatnya. Dia tidak mau ambil uangku, jadi aku ambil dua."
Maharani menerima kantong itu, hangat di telapaknya. Ia memikirkan sekolah yang Adama bangun ulang dari sisa barikade pos, kata pertama di papan tulisnya yang berbunyi pulang. Ia memikirkan klinik di tepi timur yang kini dijalankan empat perempuan yang ia latih sendiri, yang sudah menolong lebih banyak persalinan daripada yang sempat ia hitung. Semua ini tidak ada saat ia mendarat di lapangan terbang berdebu itu dengan kotak obat dan keyakinan yang belum diuji. Semua ini tumbuh perlahan, di antara kehilangan dan kelelahan, tanpa satu malam dramatis pun yang bisa ditunjuk sebagai titik baliknya.
"Dulu aku kira aku datang untuk menyelamatkan sesuatu," katanya pelan. "Aku salah. Kalian yang menyelamatkan diri kalian sendiri. Aku cuma kebetulan ada di sini saat itu terjadi."
Adama melirik padanya, dan ada sesuatu di matanya yang Maharani tak bisa baca sepenuhnya. "Orang yang kebetulan ada," katanya, "tidak menyeberang sungai di malam tanpa bulan. Jangan kecilkan dirimu hanya supaya terdengar rendah hati. Itu juga semacam kesombongan."
Kalimat itu menusuk dengan lembut, cara Adama biasa menusuk, dan Maharani tertawa kecil meski tenggorokannya terasa ketat. Ia membuka kantong kacang dan memakan satu. Asin, hangat, sederhana. Ia berdiri di pinggir pasar yang ramai, di lapangan yang dulu kosong, di lembah yang dulu berdarah, dan untuk pertama kalinya ia membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang menyerupai damai tanpa langsung mencurigainya.
Di seberang lapangan, perempuan dari kedua tepi masih menawar, anak-anak masih berlari, asap dari tungku ikan bakar naik tipis ke udara pagi. Tidak ada yang menulis ini di laporan misi. Tidak ada kolom untuk pasar yang ramai dalam berkas resmi. Tapi Maharani tahu, sambil mengunyah kacang asin di tangannya, bahwa inilah satu-satunya laporan yang sungguh penting. Lembah ini belajar hidup. Dan itu sudah cukup.